
"Hukumannya jangan itu dong bu. Bersihkan perpus aja." Tawar Sky, ia lirik Bu Naina, yang sedari tadi memilih diam. Tapi, menampilkan ekspresi masam padanya.
"Ya sudah, bersihkan perpustakaan. Buku-buku harus kamu rapikan di rak!" perintah Bu Lidya.
"Iya bu " Sahut Sky lemas, ia pun menyeret kakinya dari ruang kantor itu. Ia menaiki tangga menuju lantai dua. Tentu saja, ia akan diawasi oleh Bu Lidya, saat menjalani hukumannya.
Sky tengah serius merapikan buku-buku di rak, yang ada di perpustakaan. Tiba-tiba saja Bu Naina sudah ada di hadapannya. Hal itu membuatnya cukup terkejut. Ia sampai memegangi dadanya yang bergemuruh hebat itu.
"Apa yang ada dipikiranmu, sehingga kamu mau menikah denganku?"
Deg
Sky yang tadinya fokus menatap deretan buku di di rak, kini menoleh ke arah sang istri. Bibir yang tadi mengatup sempurna, kini mulai tertarik, sehingga menciptakan senyum tipis. "Hanya mau menolong keluargamu dari rasa malu." Sahut Sky santai. Ia kini berpindah ke rak buku dekat jendela. Ia perlu hembusan angin sepoi-sepoi. Agar tak terpancing dengan ucapan sang istri, yang mulai mengintrogasinya.
"Sky, kemarin sudah ku jelaskan, pernikahan bukan untuk dipermainkan. Sikap mu yang seperti ini, jelas-jelas mempermainkan sebuah pernikahan. Kamu sudah menikah, tapi kamu dekat -dekat dengan wanita lain." Ujar Naina pelan, ia tak mau petugas perpustakaan mendengar perbincangan mereka.
Sky merasa geli dengan ucapan sang istri. Dari ucapan Naina, jelas bahwa ia cemburu. Kalau gak cemburu apa namanya. Ngapain kepo tentangnya, sampai-sampai batalin cuti pernikahan.
"Yang mulai mempermainkan siapa sih Bu? bukannya ibu yang membuat pernikahan ini sebuah lelucon. Apa ada seorang istri tega menendang sang suami dari tempat tidur. Dan suaminya disuruh tidur di lantai?" Sky menatap tajam Naina.
Naina dengan cepat menunduk tak sanggup membalas tatapan Sky, yang terlihat penuh kekecewaan itu. "Habis, kamunya ngagetin aku!" Celah Naina, masih menunduk. Dan sesekali melirik Sky.
Sky tersenyum kecut. Ia sandarkan punggungnya di dinding dekat jendela. Tatapannya ia lemparkan ke bawah. Tepatnya ke taman belakang perpustakaan.
__ADS_1
"Oohhh.. karena itu, aku dilempar ke lantai. Baiklah aku maklumi." Sahut Sky datar.
Naina memperhatikan lekat Sky yang terlihat serius menatap ke bawah. "I, iya. Mari kita mu,"
"Shhiiiitt... Sialan....!" Umpat Sky, bergegas menyeret kakinya dari perpustakaan. Tak menanggapi ucapan Naina lagi.
"Apa... Sialan... Dia mengatakan aku sialan..!" Naina semakin geram pada Sky. Ia pun mengejar Sky yang berlari sangat cepat ke lantai bawah. Langkah Naina sangat terbatas, karena ia memakai rok dan sepatu hils.
"Sky... Kamu mau ke mana...?" teriak Naina, saat melihat Sky berlari ke gerbang belakang sekolah. Suara gaduhnya Naina, membuat satpam berlari mengejar Sky. Satpam mengira, Sky lari dari hukuman yang diberikan guru piket.
"Heii... Berhenti, kamu gak boleh bolos...!" teriak Satpam, mempercepat langkahnya mengejar Sky.
"Pak cepat, tangkap..!" teriak Naina.
Traapp..
Sky mendarat dengan sempurna di tanah. "Sial..." umpatnya, berlari kencang mengejar seorang pria. Pria itu tahu, bahwa ia sedang dikejar. Ia pun membelokkan langkahnya ke gang sebelah kanan.
Sky semakin mempercepat larinya, agar ia tak kehilangan jejak, pria yang ia incar. Mencari keberadaan pria itu, disetiap sudut gang. Tapi, Ia tak melihat pria itu lagi.
Saat itu juga, ternyata dua satpam tengah mengejar Sky. Sky yang sudah kehilangan jejak pria yang ia incar. Berbalik arah ke parkiran motornya. Kedua satpam berbalik arah, untuk menangkap Sky.
"Sky... Jangan kabur kamu..!" teriak pak Satpam
__ADS_1
Sky tak menggubris ucapan pak Satpam. Ia gas motornya meninggalkan pekarangan sekolah.
"Siiittt... Sialan... " teriak Sky, memukul stirnya dengan kesalnya. Seandainya Bu Naina, tidak ribut. Mungkin pria itu tidak waspada. Dan ia pasti bisa menangkapnya.
Sky yang memacu motronya kencang, kini sudah hilang dari jangkauan mata Naina dan kedua satpam.
Huufftt...
Naina menghela napas kasar.
"Sky.... Kamu memang keterlaluan...!" Umpat Naina geram. Ia memegangi dadanya yang berdebar kuat, karena kecapean berlari mengejar Sky. Napasnya terlihat satu-satu saat ini.
"Bu Naina, anda baik-baik saja kan?" tanya pal satpam.
"I, iya pak!" Sahut Naina masih dengan napas yang tersengal-sengal.
"Bu, Sky sebaiknya kita keluarkan dari sekolah saja." Usul Pak Satpam bernama Wijaya pada Naina.
"Tapi, Jay. Sejak Sky sekolah di sini. Keadaan siswa/i kita jadi aman tentram. Tak ada lagi yang berkelahi di saat jam istirahat." Sahut Satpam bernama Rehan.
"Iya ya?" Sahut satpam Wijaya.
Naina hanya diam mematung, mendengar kan penuturan kedua satpam itu. Dalam benaknya, ia berniat akan mendatangi tempat Sky tinggal selama ini.
__ADS_1
***