
"Apa bener, kamu tak ada hubungan spesial dengan Marwah?" Tanya Naina lagi.
"G, gak ada, kami temen aja koq." Sahut Sky tergagap
"TTM ya? teman, tapi mesra." Desak Naina penuh selidik. Ia ingin melihat kejujuran Sky. Teman, tapi kemana-mana selalu sama.
Sky terdiam. Ia merasa tak ada guna berdebat di rumahnya Marwah. Mana ibunya sedang sakit.
"Dasar pembohong..!" ketus Naina kesal. Ia pun pergi dari tempat itu dengan penuh kekecewaan.
Sky yang tak tahu harus berbuat apa. Malah diam di tempat. Tak ada niatnya mengejar Naina dan menjelaskan semuanya. Karena, ia merasa bukan waktu yang tepat menjelaskan semuanya pada sang istri.
Sky pun hanya bisa menatap kepergian Naina yang penuh dengan kekecewaan itu. Mengakhiri tatapannya, disaat motor yang Naina kenderai, hilang dari jangkauan matanya.
Huuffftt..
Sky menoleh ke arah Marwah, yang nampak bingung.
"Bu Naina kenapa ya? apa ibu itu marah karena penyamaran Pak Polisi ketahuan?" tanya Marwah dengan penasarannya.
Sky menganggukkan kepalanya lemah, kemudian ia menoleh ke arah pintu utama rumahnya Marwah. "Bagaimana keadaan ibumu? ayo kita masuk, Aku pingin melihat keadaan ibumu." ajak Sky pada Marwah.
"Ibu nggak di sini. kemarin saudara ibu datang ke sini, dan ibu sudah dibawa ke kampung orang tuanya ibu." Jawab Marwah sedih. Ia sudah biasa bersama ibunya. Entah kenapa, tiba-tiba saja, keluarganya dari kampung, datang dan memaksa membawa ibunya ke desa. "Paman bilang, ibu akan diobati secara tradisional." Jelas Marwah.
"Oouuww... Berarti kamu di sini sendirian sejak kemarin?"
Marwah mengangguk, ia tekuk bibirnya. Ia sedih, karena ia tak bersama sang ibu. Ayahnya juga sudah buron.
"Oouuww.. Kamu berani tinggal di rumah sendirian?" tanya Sky menatap serius Naina, yang juga sedang menatapnya.
"Berani pak polisi!" Sahut Marwah tegas. "Dan setelah ini, tolong jaga keselamatanku dan ibu Pak Polisi Sky."
"Eemm.. Tapi, aku tak yakin. Gimana kalau kamu untuk sementara tinggal di rumah pamanku. Paman Sopyan. Di sana, kamu lebih aman." Usul Sky lembut pada Marwah.
Marwah nampak berpikir pikir. "Ia, aku mau Pak Sky. Tapi, ibuku masih di kampung." Sahut Naina sopan. Ia senang, karena akan selalu bersama Sky. Karena mereka tinggal di rumah yang sama.
"Aku yakin, ibumu akan baik-baik saja. Aku khawatirkan kamu. Takutnya mereka akan manfaatkan kamu, karena kamulah harapan ayahmu." Ujar Sky serius menatap Marwah.
Ucapan Sky, tentu membuat Marwah jadi gelisah. Ia juga jadi incaran penjahat.
__ADS_1
"Sana, kamu kemasi barang-barangmu. Aku akan bawa kamu ke rumahnya Pak Sopyan. Di sana kamu pasti aman. Dan besok, ibumu kita jemput ke kampung."
"Iya Pak Sky." Ujar Marwah dengan mata yang berbinar-binar. Terima kasih banyak ya, sudah mau menjagaku dan ibuku. " Ujar Marwah tersenyum manis.
Saat ini Sky terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Iya Wah." Sahut Sky, tanpa menoleh ke arah Marwah. Karena ia sedang mengotak atik ponselnya.
Marwah masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Sky sedang menerima panggilan telepon. "Iya Bang Don, Aku masih di rumah Pak Zuan. Iya, cepat ya!"
Setelah selesai melakukan panggilan telepon pada rekan kerjanya yang bernama Doni. Sky mendudukkan bokongnya di kursi plastik yang ada di teras rumahnya Marwah. Ia akan menunggu Marwah berkemas. Saat menunggu wanita itu. Sky jadi kepikiran sang istri. Sejak mereka menikah, mereka tak pernah komunikasi dengan baik.
Sky pun memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada sang istri. Semoga pesan ini, bisa membuat Naina mengerti, akan keadaan dia saat ini. Sibuk dikerjaan, sehingga ia tak bisa memperhatikan Naina. Semoga setelah membaca pesan darinya. Naina melunak hatinya, dan tidak menilainya buruk. Karena tatapan istrinya itu tadi penuh dengan kekecewaan.
Istriku, malam ini kita perlu bicara. Kamu pulang ke rumah ibu saja ya. Jangan ke kos an. Yang kamu lihat tadi, tidak seperti yang kamu pikirkan.
Sky mengirimkan pesan pada Naina. Ia tak mau wanita itu, banyak mikir yang macam-macam, karena salah paham padanya.
Pesan WA itu dibaca. Tapi, tak dibalas juga.
Hhuuffftt..
Sky tak mau memikirkan masalah rumah tangganya dulu. Tugasnya sebagai penegak hukum, harus cepat di selesaikan. Jadi, hari ini. Ia akan membujuk Marwah, agar meminta ayahnya mau menyerahkan diri ke pihak berwajib.
"Pak Sky, aku sudah siap!"
"A, apa..?" Sky yang melamun dikejutkan dengan kedatangan Marwah yang tiba-tiba saja di hadapannya.
"Oouuww.. Ayok..!' Sky bangkit dari duduknya. "Kita tunggu Doni sebentar"
"Doni, siapa Doni?" tanya Marwah penuh selidik.
"Rekan kerja." Sahu Sky, tersenyum tipis pada Marwah.
Marwah dibuat klepek-klepek dengan senyum manisnya Sky. Sepertinya, ia telah jatuh cinta pada pria beristri itu.
Tin
Tin
__ADS_1
"Itu dia mobil jemputan sudah datang." Sky menunjuk ke arah mobil yang dikenderai Doni.
Marwah dan sky bergegas masuk ke dalam mobil itu.
"Don, kita ke rumah jenderal Sopyan saja." Titah Sky pada Doni. Mereka sudah duduk di dalam mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Sky kita tak boleh berlama-lama. Sebaiknya anak gadis ini, menelpon ayahnya. Ia harus bujuk ayahnya untuk menyerahkan diri." Ujar Doni, sangat serius memperhatikan Sky dan Marwah dari spion.
Sky menoleh ke arah Marwah yang nampak tegang. "Kami perlu kerja samamu Marwah. Tolong hubungi ayahmu, agar dia menyerahkan diri pada pihak kepolisian." Bujuk Sky dengan rayuan mematikannya.
Marwah membalas tatapan matanya Sky, yang penuh harap itu. Rasanya berat untuk melakukannya. Selama ini, ayahnya buron. Dan karena ia ayahnya harus menyerahkan diri.
"Ayo Marwah, akan lebih baik menyerahkan diri. daripada jadi buronan. Jikalau ayahmu menyerahkan diri. Maka hukumannya akan lebih ringan." Jelas Sky menatap serius Marwah.
"Ba, baiklah!" sahut Marwah dengan tergagap. Ia pun mulai melakukan panggilan video pada sang ayah. Tapi, ayahnya menolak panggilan itu.
"Ayahmu jelas tak mau angkat kalau kau buat panggilan video." Ujar Sky
"Iya Pak Sky." sahut marwah. Ia akhirnya melakukan panggilan suara. Dering pertama, panggilan pun terhubung. "Yah.. Ayah...!"
Saat Marwah bertelepon dengan sang ayah. Sky dibuat heran dengan temannya Doni yang membawa mobil yang ia tumpangi ke jalan lain. Tidak ke arah rumahnya Pak Sopyan.
"Don, kita mau ke rumahnya Pak Sopyan Loh!" Sky mengingatkan Doni.
Doni tak mengindahkan ucapan Sky. Ia terus saja melajukan mobil itu. Bahkan sekarang mobil itu melaju dengan sangat kencang. Masuk ke jalan sepi.
"Iya ayah, ayah... Sebaiknya ayah menyerahkan diri ke pihak berwajib." Ujar Marwah dengan terisak.
Marwah sibuk menelpon, sedangkan Sky, sibuk meminta Doni, memutar balik mobil yang ia kenderai.
"Don..!" teriak Sky.
Doni pun memberhentikan mobil itu di depan sebuah bangunan kosong. Seperti pabrik yang terbuang.
Doni memutar lehernya, menatap tajam ke arah Sky dan Marwah.
"Suruh ayahmu ke tempat ini. Kalau kau masih ingin hidup di dunia!" ancam Doni dengan muka iblisnya.
"hei Doni, kamu berkhianat!" Sky dibuat panik, karena kini mobil itu tengah di kepung puluhan penjahat berbadan tegap.
__ADS_1
***