
"Tanya orangnya langsung saja. Kalau dia gak ngaku, ya sudah. Kamu nikah aja sama dia. Kan lagi musim, nikah saat di akhir akhir kelulusan." Ujar Naina dengan lirih. Ia tak suka sikap Sky, yang melempar pertanyaan padanya.
Marwah cemberut, ia merasa diolok-olok Sky dan bu guru Naina. "Eemmm... Gak perlu aku tanya. Aku yakin Abang belum nikah." Marwah menatap lekat Sky.
"Nai, kamu balik lagi ke kamar ayahmu. Abang ingin bicara dengan Bu Naina." Ujar Sky tegas.
Marwah menampilkan muka masam. "Ayah belum sadar bang. Aku juga di sini baru sebentar. Aku itu khawatir pada abang." Marwah menolak keluar dari kamar inap itu.
Suasana hati nya Naina semakin buruk saja, melihat keakraban Sky dan Marwah. Mana diawal-awal hubungan mereka tak baik, karena belum pernah komunikasi yang baik antara keduanya.
"Iya, nanti kamu bisa datang ke sini lagi. Ada hal penting yang ingin ku katakan pada Bu Naina." Tegas Sky, raut muka mendadak masam, melihat sikap Marwah yang tak bisa dibilangin itu.
"Mau bilang apa sih bang. Ibu Naina itu guru aku juga. Abang mau bahas sekolah kan? ya gak apa-apa aku ikut dengarnya" Sahut Marwah nyolot.
"Koq kamu jadi gak bisa dibilangin?" Sky jadi kesal. "Aku ingin berduaan dengan istriku. Kamu keluar dulu!" Kali ini Sky bicara dengan nada tinggi.
"Haahh... Apa.. Istri..?" Marwah menatap Sky dan Naina secara bergantian dengan mulut menganganya. Ia sungguh terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya Sky.
"Iya,.Marwah. Kamu keluar dulu. Aku dan istriku ingin berduaan di ruangan ini!" tegas Sky lagi, kali ini tak ada raut muka senyum di wajahnya menatap Marwah.
__ADS_1
Marwah yang terkejut, tak bisa berkata kata lagi. Ia juga patah hati dengan kilatnya. Baru juga hatinya berbunga -bunga. Karena ia merasa Sky suka padanya. Makanya Sky, selalu ada untuknya di sekolah.
"Ma, maaf ya bu!" ujar Marwah lirih, ia menundukkan kepalanya. Rasanya malu, karen tadi sikapnya kepedean dan sok akrab pada Sky. Padahal Sky adalah suami dari sang wali kelas.
"Iya Marwah." Sahut Naina datar. Wanita itu juga sedang buruk suasana hatinya, karena Sky tadi seperti membuat hubungan mereka sebuah lelucon.
Marwah keluar dari kamar itu, dengan muka yang memerah dan menegang. Rasanya malu dan sedih menyergap hatinya.
Sepeninggalannya Marwah.
"Aku kira tak akan ada yang datang tengokin aku." Ujar Sky lemah.
Naina yang tadi menunduk dan tak sanggup menatap Sky, akhirnya menoleh ke arah suaminya itu. Tapi, wanita itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Rasanya mulutnya keluh untuk bicara. Hal itu terjadi, karena. Dia beranggapan, pasti Sky mikirnya. Ia datang menjenguk Sky, setelah tahu bahwa suaminya tenyata seorang polisi. Padahal bukan, memang Naina sudah berdamai dengan hati, dan mau membuka hati pada Sky. Walau Sky sebenarnya masih anak SMA. Dan ternyata Sky bukan bocah.
Dan sikapnya lebih hati-hati terhadap Sky.
Naina yang berdiri di sisi sofa, kini menghampiri Sky. Ia tarik kedua sudut bibirnya saat menatap Sky. Bagaimana pun ia masih nervous, karena ia dan Sky jarang komunikasi. Apalagi percikan api cinta, sudah ada di hatinya untuk Sky. Terbukti, ia merasa cemburu, disaat Sky dekat dengan Marwah.
"A, aku hanya bawa roti." Ujar Naina sedikit tergagap. Ia letakkan kantong kresek putih berisi roti tawar dan selai di atas nakas.
__ADS_1
Dari tadi senyum manis, tak pernah lepas dari bibirnya Sky. Saat menatap Naina yang terlihat malu-malu padanya. "Terimakasih, kamu datang saja, aku sudah senang. Tadinya aku mikirnya, kamu gak mau jumpai aku lagi." Ujar Sky dengan lembut, tatapannya teduh, seteduh cara bicaranya.
Naina masih jaim di hadapan Sky. Bahkan ia tak sanggup menatap secara langsung Sky. Ia hanya curi curi pandang.
"Koq diam terus. Kasih umpan balik dong atas ucapanku!"
"Ya, gak mungkin lah aku gak jenguk. Kamu itu suamiku. Tetangga kita yang masuk rumah sakit saja kita jengukin." Jawab Naina, melempar pandangannya karena tak sanggup beradu pandang dengan sang suami.
"Lebih dekat napa sayang?" ujar Sky lembut. Ia julurkan tangannya yang tidak di perban.Yaitu tangan kirinya.
Dengan perasaan yang tak karuan, karena nervous. Naina menyambut tangannya Sky. Rasanya sangat mendebarkan. Apalagi kini tangan lembutnya digenggam Sky dengan erat.
"Bu guru, I love you..!"
Deg
Duarr..
Rasanya gempa dahsyat tengah terjadi di hatinya Naina. Situasi ini sangat jauh dari perkiraannya. Ia tak menyangka suaminya itu bisa seserius ini. Karena yang ia tahu, Sky sikapnya kek anak kanakan. Ia masih ingat kejadian di malam pertamanya mereka. Sky yang jahil, mengucapkan salam di dekat kupingnya dengan keras. Kelakuan sang suami membuatnya kesal, sehingga pria itu tercampak ke lantai. Bahkan Sky tidur di lantai malam itu.
__ADS_1
***
Bersambung