
"Tunggu! Apa-apaan maksudmu? Mengapa kau menunjuk detektif T.K? Tidak mungkin dia guru dari seorang penjahat seperti mu!!" marah Karin yang tak terima ketika T.K sebagai orang yang pernah mengajarinya hal yang sangat berharga, malah disebut sebagai guru dari seorang penjahat besar.
"Ahh ... Baiklah, awalnya ku hanya ingin menyapa kalian disini, lalu langsung pergi dan meledakkan tiga tempat yang telah ku tetapkan, namun karena kalian tidak mempercayaiku maka aku akan menjelaskan semuanya!" ucap Lucky.
Mendengar hal tersebut semua orang semakin dibuat bingung. Sementara Lucky langsung mulai menjelaskan.
"Pada tragedi mengerikan yang pernah terjadi di Albion City pada 21 tahun yang lalu, kedua orang tuaku meninggalkanku yang masih berusia 1 tahun sendiri dirumah yang akan segera diledakkan."
"Aku yang masih kecil itupun tak tau bahwa nyawaku akan segera melayang pada saat itu, aku hanya menangis karena merasa telah ditinggalkan."
"Di detik-detik terakhir sebelum rumah itu meledak, seorang malaikat datang dan menyelamatkan nyawaku. Lalu pada akhirnya malaikat itu mengajariku cara untuk bertahan di dunia yang keras ini."
"Dia mengajariku cara menggunakan pisau, pistol, bertarung, bahkan membunuh. Satu kata yang sangat kuingat darinya, 'hancurkan lah dunia jika kau merasa dunia itu tidak adil,' bukankah itu sangat manis?"
"Jadi saat ini aku sedang melakukan hal yang malaikat penyelamatku katakan itu, karena menurutku dunia ini tidak adil. Lugh dibesarkan dengan kasih sayang orang tua, dibesarkan di lingkungan yang lembut dan aman."
"Namun aku? Aku dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua, dibesarkan dilingkungan yang keras dan berbahaya, dipaksa untuk terus bertahan hidup setiap harinya."
"Mengapa? Mengapa itu terjadi?! Bukankah aku dan dia seharusnya sama? Wajah kami begitu mirip, tapi kenapa nasib kami tidak?"
Lucky menjelaskan dengan sangat panjang lebar tentang Si Guru tercintanya, kisah hidupnya, dan juga rasa bencinya dengan dunia yang tak adil baginya itu.
Lucky mengucapkan setiap kata-katanya dengan begitu emosional, terlebih lagi di kalimat-kalimat terakhirnya tadi.
Mendengar penjelasan dari Lucky tadi membuat semua orang yang mendengarnya menjadi diam. Mereka benci dengan Lucky, namun setelah mendengar semua ini mereka juga merasa bahwa wajar jika Lucky seperti ini.
"Kalian merasa kasian padaku? Tidak perlu lakukan itu!" seru Lucky dengan marah saat melihat wajah orang-orang yang mendengarkan penjelasannya.
"Tapi guruku, mengapa pada akhirnya kau memutuskan berpindah haluan? Aku merasa kau lebih cocok ketika menjadi pembunuh bayangan, kemampuanmu menjadi sangat lemah ketika menjadi seorang detektif!" lanjut Lucky.
__ADS_1
"Apa? Pembunuh bayangan? Pembunuh legendaris yang telah lama tidak ada kabar itu?"
Suasana yang sempat sunyi pun kembali menjadi heboh setelah mendengar ucapan dari Lucky, mengenai gurunya yang merupakan seorang pembunuh bayangan.
"Hahaha ... Kalian sangat terkejut mendengarnya ya? Tapi maaf, aku sudah tidak bisa berlama-lama lagi dihadapan kalian. Aku sudah menyapa kalian semua, dan memberikan penjelasan yang kalian inginkan, jadi saatnya aku pergi!" ucap Lucky di tengah-tengah kehebohan itu.
Mendengar ucapan dari Lucky tersebut, mereka semua kembali fokus dan membuang jauh-jauh kehebohan yang ada dipikiran mereka saat ini.
"Serang!" Eron berteriak, dan memberi perintah kepada semua pasukannya untuk menyerang Lucky sebelum dia pergi. Ketujuh detektif pun juga langsung berlari untuk menangkap Lucky.
Namun belum sempat serangan dari pasukan Eron melesat, dan ketujuh detektif pun baru berlari beberapa langkah, Lucky sudah menghilang dari hadapan mereka secepat kilat.
"A–apa yang terjadi? Bagaimana bisa dia menghilang begitu cepat?" seru Hyuna tak percaya.
Mereka semua pun memutuskan untuk berpencar dan mencari Lucky di sekitar Bandara Neonairline itu, karena mereka yakin dalam waktu yang secepat kilat itu Lucky tidak mungkin bisa pergi jauh. Mereka berpikir bahwa Lucky pasti bersembunyi di sekitar mereka.
Namun setelah beberapa menit mereka mencari, mereka tidak menemukan apapun. Mereka yang berpencar itupun kembali ke satu titik.
Ddrriiitttt ... Ddrriiitttt ...
Ditengah-tengah kebingungan mereka, ponsel Eron tiba-tiba berbunyi, terlihat disana kontak bertuliskan "Pak Walikota" menelponnya.
Dengan cepat Eron langsung mengangkat telpon tersebut, karena Franky tak pernah menelepon jika tidak ada situasi atau hal penting.
"Ya, ada apa Pak?" ucap Eron setelah dia mengangkat telpon tersebut.
"Dimana kalian semua?!" balas Franky yang malah balik bertanya dengan suara yang terdengar sangat panik.
"Kami ada di Bandara Neonairline, Pak. Apa yang terjadi? Mengapa anda terdengar begitu panik?" jawab Eron semakin dibuat bingung.
__ADS_1
"Lihat berita dari ponselmu sekarang!" titah Franky dan kemudian langsung mematikan telponnya.
Mendengar hal tersebut dengan cepat Eron pun langsung melakukan apa yang Frank suruh, dia pun melihat berita live dari ponselnya itu.
"Apa?!" Eron benar-benar kaget sekaligus tak percaya dengan apa yang ditampilkan oleh berita yang baru dia lihat itu.
"Ada apa?" tanya Joo yang bingung ketika melihat wajah kaget Eron, "Kemari lah, lihat ini!" balas Eron sembari memperlihatkan ponselnya.
Lugh, Asyraf, Raizel, Hyuna, Karin, T.K, dan Joo pun langsung mendekat untuk melihat apa yang membuat Eron sampai kaget itu.
"Itu Lucky!" seru Raizel saat melihat berita yang ada di ponselnya Eron.
Terlihat di berita itu kalau Lucky bersama dengan beberapa anggota dari organisasi rahasianya sedang berada di Qreus Hill Mall.
"Bagaimana mungkin? Jarak dari sini kesana benar-benar sangat jauh, bagaimana bisa dia tiba disana dalam waktu sesingkat ini?" ucap Asyraf.
"Mungkin yang berbicara dengan kita tadi bukan Lucky, melainkan sebuah hologram!" sahut Hyuna setelah dia berpikir beberapa saat.
Mendengar perkataan Hyuna itu membuat semuanya menjadi sangat masuk akal.
Jadi akhirnya mereka menyimpulkan bahwa yang berbicara dengan mereka tadi hanyalah sebuah hologram, sementara Lucky yang sebenarnya ada di Qreus Hill Mall.
"Tapi mengapa? Mengapa dia ada disana? Apa ini lagi-lagi jebakan agar kita lebih memusatkan keamanan disini, lalu dia menyerang tempat lainnya?" ucap Eron kebingungan.
"Melinda dan Gildan?"
"Itu Riu dan James bukan?"
Ucap Lugh lalu dilanjutkan oleh Karin saat berita itu menampilkan tempat yang berbeda. Mereka melihat Melinda dan Gildan sedang berada di depan Albion University. Lalu saat berita tersebut kembali memperlihatkan tempat yang berbeda, mereka melihat Riu dan James yang sedang berada di Welbion Airline.
__ADS_1
"Ini semua jebakan! Tidak ada musuh disini! Lucky berada di Qreus Hill Mall, lalu Melinda dan Gildan ada di Albion University, sementara Riu dan James berada di Bandara Welbion Airline. Tak ada satupun anggota inti dari organisasi itu yang ada disini!!" Lugh yang melihat berita itupun langsung menyimpulkan semuanya.