
Wajah Lugh berubah menjadi bingung ketika mendengar tantangan dari Lucky itu. "Berduel? Bagaimana dia yakin bisa berduel di kondisi seperti saat ini, ada begitu banyak orang yang dapat menganggu duel mereka." Begitulah yang ada dipikiran Lugh.
Namun saat Lucky melihat wajah bingung Lugh, dia hanya tersenyum. Membuat Lugh merasa semakin bingung, dan sulit untuk mengikuti pola pikir dari Si Bos organisasi rahasia yang merupakan kembarannya itu.
"Apakah yang membuatmu bingung saat ini adalah semua serangga di luar sana?" tanya Lucky dengan senyum menyeringainya.
"Jangan khawatir, baik serangga dari tim mu, maupun serangga dari tim ku, semuanya sudah aku bereskan! Jadi hanya tinggal ada kita bertiga saja disini!" lanjut Lucky, dan membuat Lugh maupun Hyuna menjadi benar-benar kaget tak percaya.
Mereka berdua membulatkan mata mereka, bibir mereka bergetar begitupun dengan anggota tubuh mereka yang lainnya.
"Apa-apaan yang baru saja iblis ini katakan?" Dengan wajah yang mulai pucat, Hyuna berbicara dalam hatinya.
Ssrrrtttt ....
Tanpa aba-aba Lugh menerjang dan menyerang Lucky dengan sebuah pisau yang ia pegang, namun dengan cepat Lucky menahan serangan Lugh dengan benda yang sejenis.
Wajah Lugh memerah karena marah. Mata Lugh terbuka dengan lebar, saraf-saraf matanya bahkan sampai dapat dilihat dengan jelas. Sesekali dia juga menggeretakkan giginya.
"Lucky!" gerang Lugh dengan urat-urat leher yang menegang. "Berani-beraninya kau membunuh rekan-rekanku! Aku ... Aku tak akan memaafkan mu!" lanjutnya dengan emosi yang sudah meluap-luap.
Mendengar Lugh yang marah, Lucky malah tersenyum senang, "Haha ... Inilah yang kuinginkan darimu!" Dengan diiringi tawanya, Lucky sedikit mendorong tubuh Lugh untuk membuat sedikit celah diantara mereka.
Setelah jarak diantara mereka sudah lebih jauh dari beberapa detik yang lalu, baik Lugh maupun Lucky menyimpan pisau mereka, lalu mengeluarkan senjata lain dari saku baju mereka masing-masing.
Mereka berdua pun memutuskan untuk beralih menggunakan sebuah pistol.
"Berikan yang terbaik padaku, Lugh!" teriak Lucky sembari melompat mundur ke belakang.
Dan tanpa disadari Lugh juga melakukan hal yang sama, membuat jarak menembak mereka menjadi semakin jauh.
Saat mereka sudah berada di jarak yang nyaman untuk menembak, kedua orang itupun langsung melepaskan peluru pistol yang mereka pegang itu secara berbarengan.
Ddooorrrr ... Ddooorrrr
Lucky menyerang Lugh dengan membabi buta, dia terus menekan tigger pada pistolnya, dan mengarahkan tembakannya itu ke Lugh.
Sama halnya dengan Lucky, Lugh pun terus menyerang dan menghindar. Sudah tidak ada lagi keraguan dalam dirinya, hal ini membuatnya dapat menyerang Lucky dengan sama mengerikannya.
Kedua pria itu bertarung dengan memegang tekad, dan juga keinginan kuat mereka masing-masing.
__ADS_1
Lugh menginginkan kedamaian dan keamanan Albion City, sementara Lucky menginginkan kehancuran dari dunia yang telah memperlakukan dirinya dengan tak adil.
"Sial!" seru keduanya berbarengan saat peluru yang ada di dalam pistol mereka habis. Dengan cepat Lugh, dan juga Lucky langsung mengisi kembali peluru pistol mereka.
Setelah pistol sudah terisi kembali dengan peluru, mereka berdua pun kembali saling menyerang.
Mereka saling menerjang, terkadang mereka mundur untuk membuat jarak, dan terkadang mereka maju untuk mengurangi jarak.
Mereka terus menekan tigger pada pistol mereka masing-masing, saling memberikan serangan juga luka sembari terus menghindar.
Selama kurang lebih 10 menit pertarungan sengit antara dua anak kembar itu berlangsung.
Mereka bertarung dengan mengkombinasikan kemampuan menembak, dan juga beladiri fisik. Dan selama pertarungan itu, mereka telah menghabiskan lebih dari 25 peluru.
Luka ditubuh mereka pun sudah bisa dibilang cukup parah, banyak luka tembakan dan memar di sekujur tubuh mereka.
Namun ajaibnya kedua manusia itu masih bisa berdiri dengan tegap, saat ini mereka sudah seperti seekor monster yang mengerikan.
Bahkan wanita yang sedari tadi menonton pertarungan mereka, sudah tak dapat bergerak sama sekali karena saking mengerikannya pertarungan itu.
"Sial, peluruku ku habis!" Ditengah-tengah pertarungan itu, keduanya berhenti secara bersamaan. Mereka berhenti karena sudah tak ada satupun peluru yang keluar ketika mereka menekan tigger pistol mereka.
Mereka yang sempat terhenti, langsung kembali melanjutkan pertarungan yang sengit itu ketika pisau sudah tergenggam di tangan mereka.
"Aku akan memberimu hukuman mewakili semua orang yang telah kau renggut nyawanya, Lucky!" ucap Lugh sembari terus menyerang.
Hingga pertarungan sengit itupun terus berlanjut hingga sekitar 10 menit, itu berarti mereka sudah bertarung sekitar 20 menit lamanya.
Tapi baik Lugh maupun Lucky, keduanya memang menerima luka yang sama-sama serius, namun mereka berdua masih enggan untuk menyudahi pertarungan itu.
Dan jika dilihat dari gaya bertarung juga gerakan mereka, sepertinya kata "Kembar" juga bisa diberikan pada hal itu.
Mungkin karena keserasian dari hal itulah keduanya sulit untuk saling mengalahkan.
Tidak ada yang menjadi lebih dominan dalam pertarungan mereka. Keduanya begitu seimbang.
......................
Disisi lain, Hyuna yang melihat pertarungan antara kedua monster itu merasa bahwa keduanya sudah berada diambang batas mereka.
__ADS_1
Hyuna dapat merasakannya, dia juga dapat melihat wajah yang begitu kelelahan dari muka kedua pria itu. Namun kenyataan bahwa mereka berdua masih bisa berdiri dengan kokoh, membuat Hyuna benar-benar tidak habis pikir.
"Bahkan suara napas mereka yang tersengal-sengal dapat kudengar dengan jelas. Apakah tekad mereka berdua benar-benar sebesar itu?" gumam Hyuna lirih.
"Lugh?" Dengan raut wajah yang bingung, Hyuna beralih untuk fokus melihat Lugh seorang.
Dia melihat Lugh melakukan gerak-gerik yang sedikit aneh, Lugh terlihat meraba-raba baju dan juga celananya, seperti sedang mencari sesuatu.
Beberapa saat kemudian, Hyuna dapat melihat senyum yang mulai terukir di wajah Lugh.
Sepertinya Lugh telah berhasil menemukan sesuatu yang dia cari itu, lalu kemudian Lugh terlihat menjatuhkan pisau yang dia pegang.
Dan setelah itu dengan cepat Lugh mengambil pistolnya, lalu memasukkan sesuatu ke dalam lubang peluru pistol itu.
DDOOORRRR ...
"Apa?!"
"GILDAN!!"
Ternyata yang Lugh masukkan ke dalam lubang peluru itu adalah peluru terakhir yang dia miliki. Lugh sengaja menyembunyikan satu pelurunya untuk serangan terakhir.
Namun, serangan terakhir yang seharunya diberikan pada Lucky malah mengenai Gildan. Gildan muncul tiba-tiba di hadapan Lucky saat peluru yang Lugh tembakan melesat.
Alhasil bukan Lucky lah yang tertembak, melainkan Gildan. Perlahan Gildan yang terkena tembakan tepat di dadanya itu mulai kehilangan keseimbangan.
Saat Gildan hampir terjatuh, dengan sigap Lucky menahannya, lalu secara perlahan dia bergerak untuk duduk, dan meletakkan kepala Gildan ke pangkuannya.
"B–bos ... Huft ... S–syukurlah kau tidak kenapa-kenapa," ucap Gildan dengan terbata-bata karena sambil menahan rasa sakitnya.
"Apa maksudmu melakukan semua ini, Gildan?! Apa yang kau lakukan? Aku tak pernah memintamu untuk melakukan hal bodoh ini!" Dengan tubuh dan suara yang bergetar juga terdengar marah, Lucky bertanya kepada Gildan.
Namun Gildan hanya membalas kalimat Lucky barusan dengan senyuman tipis diwajahnya.
Perlahan mata Gildan pun mulai menutup, dan tangannya pun jatuh ke lantai mall itu.
Lucky yang melihat hal itu membulatkan matanya tak percaya, tubuhnya semakin bergetar "G–Gildan!"
Tanpa sadar beberapa tetes air mata keluar dari mata Lucky, tatapan yang awalnya tajam kini menjadi begitu sendu.
__ADS_1