
Tidak hanya Lucky, Hyuna yang melihat Gildan tertembak pun ikut menangis sejadi-jadinya.
Bagaimanapun Gildan adalah seseorang yang dia anggap sebagai sahabatnya. Gildan adalah orang yang begitu peduli padanya, dan juga orang yang bisa sangat dia percaya.
"Tidak! Gildan! Hiks ... Gildan!" Hyuna menangis dengan histeris, dan dengan tubuh yang sudah lemas itu, dia berjalan perlahan ke arah Gildan.
Selang beberapa saat, kini Hyuna sudah duduk di samping Gildan, dia memandangi Gildan dengan air mata yang terus mengalir.
"Haha ... Hahaha!!"
Lucky yang awalnya menangis tiba-tiba saja tertawa dengan kencang, dia yang duduk itupun perlahan mulai berdiri.
"Hahahaha ... Hahaha!"
Lagi-lagi Lucky tertawa, kini dia tertawa semakin kencang. Suara tawanya yang semakin kencang itu membuat Hyuna yang menangis, dan Lugh yang masih terdiam langsung melihat dirinya.
Tapi melihat Lucky yang tertawa, Lugh maupun Hyuna tidak marah sama sekali, seharusnya mereka marah karena Lucky tertawa saat kondisi Gildan seperti saat ini, bukan?
Sebenarnya hal ini karena Lugh, dan juga Hyuna merasa bahwa Lucky bukan tertawa karena bahagia, melainkan karena dia sedih.
Saking sedihnya, air matanya itu berubah menjadi tawa frustasi yang mengerikan.
"Lucky?" Dengan suara yang lirih, Hyuna menyebut nama mantan kekasihnya itu.
"Huft ... Kalian berdua! Dengarkanlah aku!" Lucky berhenti tertawa, dan kemudian menatap Lugh dan juga Hyuna satu persatu.
Sekilas senyum pun terukir kan diwajahnya, namun itu hanya sesaat, dan Lucky kembali ke wajahnya yang datar.
"Aku akan pergi sekarang, tiba-tiba saja keinginanku untuk melenyapkan dunia ini hilang. Dan sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan beberapa hal. Yang pertama, bukan kaulah yang membunuh Gildan, Lugh. Melainkan aku, aku yang telah membunuhnya."
"Kemudian Hyuna, aku turut senang melihat kau bisa bahagia dengan pria paling beruntung itu. Dan sebenarnya aku tak pernah membencimu Lugh, aku hanya membenci keberuntungan mu, juga ketidak beruntungan ku."
"Aku akan pergi sekarang. Jagalah Hyuna untuk ku, karena aku mencintainya, dan aku juga tau kau juga mencintainya, Lugh."
"Dan ingat satu hal! Jika nanti kau berencana menikahinya, dan kemudian kalian memiliki anak kembar, maka jangan perlakukan dia berbeda seperti dengan yang orang tua kita lakukan."
Lucky mengatakan semua kalimat-kalimatnya itu dengan perasaan yang begitu dalam, bahkan siapapun yang mendengarnya dapat tahu bahwa itu adalah kata-kata yang tulus.
__ADS_1
Diakhir kalimatnya itu, Lucky pun tersenyum. Dia tersenyum dengan senyuman yang terlihat begitu manis.
Lucky tersenyum dengan bebas, seolah-olah saat ini dirinya sudah terlepas dari suatu belenggu yang selama ini mengurung senyumannya itu.
Lugh dan Hyuna yang melihat senyuman Lucky pun tak dapat berkata-kata lagi, pikiran mereka saat ini benar-benar dibuat kacau.
Kacau karena Gildan yang tertembak, kacau dengan kalimat-kalimat tulus Lucky, juga kacau karena senyuman yang asing bagi mereka itu.
"Aku belum pernah melihat senyumnya yang seperti ini, bahkan sejak aku pertama kali bertemu dengannya!" ucap Hyuna yang tak henti-hentinya memandangi Lucky.
Disaat Lugh dan juga Hyuna masih tak dapat berkata-kata, Lucky menghilang begitu saja dari pandangan mereka.
"Masuk! Welbion Airline berhasil diamankan. Riu, James, dan seluruh anggota organisasi rahasia yang ada disini telah berhasil kami tangkap!"
"Masuk! Albion University juga berhasil kami amankan, Melinda sudah berhasil ditangkap begitupun dengan anggota yang lainnya. Namun Gildan tetap belum ditemukan!"
"Masuk! Seluruh jalanan dan tempat-tempat lain di Albion City sudah aman!"
Satu persatu laporan dari setiap tim yang berpencar muncul dari walkie talkie. Dengan keadaan yang masih tak stabil, Lugh pun juga meraih walkie talkie nya.
......................
Sudah 3 hari berlalu, sejak peristiwa penyerangan besar yang dilakukan oleh organisasi rahasia yang dipimpin oleh Lucky terjadi.
Albion City yang mengalami banyak kerusakan, mulai bangkit dan memperbaiki semuanya kembali.
Bangunan-bangunan yang hancur mulai direnovasi. Mereka yang kehilangan anggota keluarga, maupun yang mendapatkan kerugian akibat peristiwa itu diberi uang bantuan dari pemerintah.
Melinda, Riu, James, dan seluruh anggota organisasi rahasia yang tertangkap di hukum sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan.
Sementara mereka yang telah berperan baik dalam menangani organisasi rahasia itu mendapatkan hadiah penghormatan.
Eron dinaikan jabatannya menjadi panglima tertinggi di markas utama kemiliteran Albion City.
Lalu para detektif mendapatkan uang tunjangan, sekaligus uang keberhasilan misi besar mereka.
Total uang yang diberikan kepada para detektif itu benar-benar sangat besar, dengan begitu maka mereka bisa bersantai tanpa perlu melakukan misi-misi yang berbahaya lagi.
__ADS_1
Seluruh tentara dan juga polisi yang ikut andil pun diberikan bonus oleh pemerintah.
Mereka yang gugur mendapatkan gelar sebagai pahlawan terhormat, dan keluarga mereka diberikan uang tunjangan.
Kejadian kelam 3 hari yang lalu, atau mungkin lebih tepatnya hari-hari mereka yang dihantui oleh pembunuhan dari organisasi rahasia itu, telah berakhir.
Meski Si Pemimpin belum tertangkap, tapi setidaknya mereka sudah dapat merasa lebih lega dan tenang. Seorang pemimpin tidak dapat bergerak tanpa anggota mereka bukan?
"Hyuna! Dokter di rumah sakit baru saja meneleponku, dia mengatakan bahwa Gildan sudah melewati masa kritisnya. Ayo kita kesana!" teriak Lugh dari arah belakang wanita yang dia panggil itu.
Hyuna pun membalikkan badannya untuk melihat seseorang yang memanggil namanya, "Ya!" Dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya itu, Hyuna pun melangkahkan kakinya menghampiri Lugh, lalu pergi bersama ke rumah sakit yang dimaksud.
"Memang semuanya berakhir tidak seperti yang diharapkan, ada begitu banyak korban jiwa akibat pertarungan yang mengerikan itu. Malam itu telah merenggut banyak nyawa."
"Namun, jika saat ini semua orang bisa tersenyum dengan bahagia, menerima semua yang telah berlalu, maka kurasa sedikit pengorbanan tidak masalah. Mereka bertarung karena tekad, dan juga keinginan mereka masing-masing. Tidak ada penyesalan bagi mereka."
"Siapa yang dapat menahan seseorang jika dia telah bertekad sangat kuat? Kurasa tidak akan ada orang yang mampu untuk menghentikannya."
"Gildan? Ahh ... Dia tidak jadi mati, aku dan Hyuna langsung membawanya ke rumah sakit saat Lucky menghilang, dan kalian tau? Kata dokter jika saja kami terlambat sebentar saja, maka Gildan akan benar-benar tiada. Beruntungnya saat itu jalanan sedang sepi, ya."
......................
Kini seorang pria yang telah menerima kekalahannya, pria yang baru saja dikalahkan oleh saudara kembarnya yang beruntung, sedang berlari-lari dan melompat dari satu gedung, ke gedung yang lain.
Di malam hari yang indah ini, pria itu berlari di bawah sinar rembulan yang menawan. Pria itu terus menggerakkan kakinya dengan perasaan yang benar-benar bebas.
"Dia benar-benar seperti matahari, dan akulah bulannya, dia bersinar sangat terang dan semua orang menyayanginya."
"Sementara aku yang gelap mendapatkan belas kasihan nya, dan harus diberikan sedikit cahaya olehnya agar aku bisa bersinar."
"Namun, kurasa sekarang itu sudah tak menjadi masalah. Walau hanya sedikit, setidaknya masih ada orang yang peduli padaku, meski sang matahari tak memberikan sinarnya."
"Lugh, aku berharap kita dapat bertemu lagi suatu saat nanti!"
...Moon and Sun...
...~TAMAT~...
__ADS_1