Mother of Monster

Mother of Monster
1. Akhir dari Derita Hidup


__ADS_3

Pintu kamar ku terbuka, beberapa perawat datang membawa makanan dan pil yang aku telah konsumsi selama hidupku.


“Nyonya Sintia sudah saatnya makan siang.” kata salah satu suster.


Sangat menyebalkan, aku hanya menatap apa yang mereka bawakan padaku. Tidak ada masalah pada makanan karena aku bukan tipe yang suka pilih-pilih makanan, tapi lain halnya dengan obat yang mereka bawa.


Itu adalah obat kehidupan untukku, jika aku tidak mengkonsumsinya maka aku akan meninggal dalam 3 bulan.


“Jadi apa anda kali ini akan melihat kartun lagi untuk menemani makan siang anda?.” salah satu suster mulai menyalakan televisi ketika aku mulai menyantap makan siang.


“Tidak.” balasku yang sontak membuat keduanya berhenti. “Aku ingin melihat film Biru.” kedua suster saling menatap satu sama lain seakan tidak yakin dengan apa yang aku minta, tapi aku menegaskan pada keduanya untuk segera memberikan apa yang aku inginkan jika ingin melihatku makan dan minum obat yang mereka bawa.


Karena sudah mendapatkan perintah untuk memastikan aku memakan makananku dan meminum obat, keduanya pun tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan ku.


Orang sakit Keras yang menonton film dewasa saat makan siang di dalam gedung rumah sakit, aku ingin tahu apakah ada orang lain yang melakukan hal sama seperti yang aku lakukan saat ini.


Aku menikmati makan siang sambil menonton film biru dengan penuh minat. Sementara itu kedua suster terus menatapku dari kejauhan dengan penuh rasa kasihan.


“Ah, seandainya aku bisa melakukannya walaupun sekali.” ucapku ketika melihat akting artis pemeran wanita dewasa dalam film itu yang terlihat sangat menikmati perlakuan lawan mainnya.


Usiaku sudah 31 tahun namun satu kali pun aku belum pernah melakukan hal seperti itu. Masalahnya bukan pada kondisi tubuhku yang mengerikan karena sakit, aku bisa saja merias wajahku yang memiliki kulit pucat dan mengenakan baju mewah untuk menutupi tubuhku yang kurus seakan kekurangan gizi.


Tapi penyebabnya adalah kutukan yang aku miliki sejak lama bahkan sebelum aku terlahir. Kutukan ini diturunkan oleh ibuku yang juga menderita dan berakhir mati terbunuh oleh kutukan yang sama dua puluh tahun lalu.


Setelah terlahir dari rahim wanita dengan kutukan, orang-orang berpikir jika aku tidak akan bisa bertahan selama 5 tahu. Tapi aku berjuang keras hingga berhasil bertahan sampai saat ini


Setelah makan aku meminum obat yang telah aku konsumsi selama hidupku. Rasa obat yang membosankan membuatku muak, bayangkan berapa butir obat yang telah aku telan jika tiga kali sehari aku minum obat yang sama selama 31 tahun.

__ADS_1


“Aku pikir bukankah lebih baik mengakhiri semuanya.” aku menggerutu saat kembali berbaring di ranjang.


Kedua suster pergi setelah memastikan aku meminum obatnya. Aku kembali sendirian di kamar besar nan mewah itu, aku ingin tidur dan berharap tidak akan pernah bangun lagi, tapi pasti dua suster yang sama akan membangunkan aku tujuh jam lagi untuk makan malam dan kembali meminum obat.


Sangat menyebalkan, hidup dengan penuh penderitaan seperti ini. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi padaku jika seandainya hari ini aku akhirnya ‘berpulang’.


Apa yang aku dapatkan setelah melewati hidup yang penuh cobaan dan penderita?.


Aku pikir telah banyak melakukan hal baik selama hidupku.


Walaupun terkadang aku mengutuk tuhan atas nasib yang aku jalani. Aku merasa sangat berdosa saat melakukan itu, tapi aku percaya dia pasti mengerti apa yang aku rasakan.


Karena kutukan yang aku miliki membuat kekebalan tubuhku melemah yang mengakibatkan aku sangat mudah terkena penyakit.


Jantung, paru-paru, hati dan semua bagian tubuhku telah menderita penyakit kronis paling berat, hingga membuat semua dokter yang meneliti kondisi tubuhku merasa heran bagaimana aku masih bisa bertahan.


Kondisi saat semua penyakit di tubuhku kambuh secara bersamaan, itu adalah saat terburuk.


Seluruh tubuhku merasakan sakit yang luar biasa. Seakan seseorang tengah membedah dadaku tanpa pembiusan sama sekali. Aku hanya bisa merasakan sakitnya tanpa bisa melakukan apapun.


Dulu kondisi ini hanya datang beberapa bulan sekali, tapi semakin lama keadaan itu semakin cepat datang hingga kini aku dapat merasakannya setiap hari.


Suara berisik terus terdengar dari alat penunjang kehidupan yang tersambung dengan tubuhku. Sebentar lagi beberapa perawat dan dokter pasti akan berlarian memasuki kamar ku untuk memberikan suntikan penenang.


Seandainya aku bisa meminta mereka untuk tidak memperdulikan keadaanku dan membiarkan aku mati, itu akan jauh lebih baik.


Tapi hal itu tidak akan mungkin terjadi karena mereka mungkin akan kehilangan tambang emas mereka jika aku akhirnya meninggal.

__ADS_1


Tanpa terasa air mataku mengalir saat merasakan rasa sakit yang begitu menyiksa. Tanpa mampu menggerakkan kepala untuk menoleh, aku melirik pintu masuk yang belum juga dibuka oleh para suster.


‘Apa mereka tidak menyadarinya?.’


Rasa sakit terasa semakin parah, tapi entah mengapa aku justru merasakan kelegaan. Mungkinkah karena aku berpikir akhirnya bisa terbebas dari semua penderita ini setelah sekian lama hidup yang aku jalani begitu menyiksa.


Aku memejamkan mata secara perlahan.


Rasa sakit itu perlahan mereda, tubuhku terasa begitu ringan seakan mampu melayang.


Aku merasakan kedamaian, pikiranku jernih seakan semua beban itu menghilang begitu saja.


Ketika suara tinggi dari mesin itu berbunyi.


Tiiiiiiiiiiiiiiiit.


“Sial kita terlambat!.”


“Jangan bercanda, cepat siapkan alat kejut jantung. Kita tidak bisa kehilangan nyonya Sintia!.”


Samar-samar aku mendengar suara perdebatan, suara-suara itu mulai pudar hingga aku tidak mendengar apapun lagi.


Ding!


[Dengan seluruh karma baik yang anda kumpulkan, selamat anda telah menjadi makhluk agung]


Suara apa itu?

__ADS_1


Ah entahlah, aku mohon berikan saja aku ketenangan.


__ADS_2