Mother of Monster

Mother of Monster
3.My Story


__ADS_3

___________________________________________


Nama: None


Level: 1


Ras: Great Creature


Job: None


Hp: 500 MP: 100


ATK: 10 INT: 10


SPD: 10 DUR:10


Stat poin: 200


Skill: None


___________________________________________


Di depanku muncul sebuah jendela transparan yang menunjukan angka dan hal yang aku tidak mengerti lainnya.


“Terlihat seperti status dalam game.”


[Kau akan lebih mudah memikirkannya seperti itu]


“Jadi aku bisa menaikan level dengan membunuh monster atau semacamnya?.”


[Benar sekali]


Selanjutnya sistem pun memberitahukan jika setiap orang di dunia pun mendapatkan sistem seperti yang aku miliki.


“Aku merasa siapapun orang dibalik penerapan sistem dunia ini melihat semua manusia saling membunuh satu sama lain.” pikirku.

__ADS_1


Entah itu penguatan, teknik beladiri, atau kekuatan sihir. Setiap orang memiliki senjata di tangan mereka sekarang, keadaan dunia otomatis akan menjadi lebih kacau dari sekedar perang nuklir.


“Jadi apa lagi selain mendapatkan ras Great Creature?, Ras setara dewa tidak mungkin hanya mendapatkan stat bagus bukan?.”


[Itu benar, anda berhak memilih skill yang tersedia dengan poin karma yang anda miliki]


Kemudian sistem menunjukan poin karma dan ribuan skill yang bisa aku beli menggunakan poin karma.


“Banyak!.” aku berteriak saat melihat rentetan skill yang tidak terhitung jumlahnya. Beberapa skill yang mahal terlihat menggiurkan, seperti keahlian untuk teleportasi, keahlian energi tidak terbatas dan sihir kreasi. Harganya mencapai ratusan ribu poin karma, sementara itu karma yang aku miliki adalah....


2.481.900 poin karma.


“Apa 2 juta karma poin itu banyak?.” tanyaku pada sistem.


[Anda adalah manusia paling mulia yang memiliki karma poin terbanyak dari manusia di seluruh planet ini]


“Benarkah?.” aku merasa tidak yakin, “Kalau begitu berapa banyak karma yang dimiliki oleh posisi kedua?.”


[Itu adalah informasi rahasia, tapi karena anda adalah seorang makhluk agung yang merupakan tingkat lima maka pembagian informasi diperbolehkan]


[Posisi kedua memiliki poin karma sebesar...]


Aku dengan penasaran menunggu jawabannya hingga....


[Posisi kedua memiliki 3.570 poin karma]


“Heh....?.” aku merasa salah mendengar hingga meminta sistem untuk mengatakannya sekali lagi.


[Posisi kedua memiliki 3.570 poin karma]


Tapi tetap saja sistem menjawab dengan jawaban yang sama.


“Apakah ini sebuah kesalahpahaman?.”


[Saya merasa tidak ada kerusakan apapun terhadap sistem]

__ADS_1


“Lalu bagaimana mungkin aku mendapatkan karma poin sebanyak itu, aku bahkan tidak merasa melakukan hal besar.”


Aku berpikir jika karma poin sebanyak itu seharusnya hanya dimiliki oleh orang-orang yang disebut sebagai pahlawan penyelamat dunia.


“Sementara aku ini hanya wanita sakit-sakitan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam rumah sakit. Bagaimana mungkin aku memilih poin kebaikan lebih besar daripada para SJW Tmiter?.”


[Terkadang kau tidak sadar jika hal kecil yang kau lakukan adalah hal besar yang berdampak pada kehidupan orang lain]


“Hem....”


Aku kembali mengingat apa yang telah aku lakukan selama hidupku yang penuh penderitaan.


Ibuku membesarkan aku dengan penuh kasih sayang dan itu adalah hal terbaik yang bisa aku dapatkan darinya, sementara itu aku tidak pernah melihat wajah ayahku selama puluhan tahun.


Hidup kami sangat terpuruk, disebabkan kutukan yang kami miliki membuat pandangan masyarakat pada kami begitu hina seakan mereka mengaggap kami tidak berbeda dari sekedar kotoran.


Kami berdua hanya bisa mengandalkan bantuan dari pemerintah untuk mendapatkan obat yang dapat memperpanjang umur kami, namun hal itu terkadang membuat kami dalam masalah.


Suatu kali obat tidak datang karena masalah pendanaan. Sepertinya beberapa tikus berdasi telah memakan dana yang ditujukan untuk donasi obat-obatan sehingga bulan itu tidak ada obat yang bisa kami minum.


Tidak ada obat sama dengan mati. Tubuhku sangat tersiksa selama berhari-hari, begitu juga ibuku. Kami pergi ke rumah sakit, klinik maupun apotik berharap mendapatkan obat yang ki butuhkan, namun tidak ada satupun yang memberikan pelayanan.


Mereka bahkan selalu mengusir kami dengan kasar seakan aku dan ibu hanya seekor anjing yang menjijikkan. Bahkan setelah ibu menawarkan organ dalamnya, mereka tidak peduli. Seorang dengan kutukan ini dianggap sudah tidak berguna karena seluruh bagian tubuhnya telah tercemar.


Bulan itu terasa lebih panjang dari biasanya, aku terus menangis karena rasa sakit yang aku rasakan. Ibu tidak henti-hentinya berusaha menenangkan aku walaupun dia merasakan sakit yang lebih buruk.


Kami berhasil melewati bulan itu hingga akhirnya waktu pembagian obat berikutnya. Tapi obat yang diberikan pemerintah terbatas sehingga kami harus berebut dengan orang lain untuk mendapatkannya.


Ibu berhasil mendapatkan satu resep yang dapat membuat penderita bertahan hingga bulan berikutnya. Tanpa berpikir dia segera memberikannya padaku, sebuah pilihan yang membuatku tetap hidup dengan bayaran nyawanya sendiri.


Setelah sepuluh tahun kami berjuang bersama untuk bertahan dari kutukan ini, akhirnya ia terjatuh dan tidak akan bangkit lagi. Di saat-saat terakhir dia masih meminta maaf padaku karena membawa ku kedunia ini dengan kutukan yang harus aku tanggung seumur hidup.


“Dunia ini tidak adil, kau harus kuat menghadapinya. Hanya dengan kekuatan, perkataan mu akan didengar. Jangan berharap seseorang akan memberikan solusi untuk mu, kau harus menjadi solusi untuk setiap masalah yang ada.”


Setelah kematian ibu, aku menggunakan seluruh kesempatan dan kekuatan yang aku miliki untuk bertahan. Aku mendaki dari dasar neraka untuk menuju Nirvana. Setelah perjuangan keras selama 20 tahun akhirnya aku menaklukan dunia.

__ADS_1


__ADS_2