Mother of Monster

Mother of Monster
15. Penghuni Atap


__ADS_3

Ronald adalah seorang pengurus hotel yang sangat mengerti akan pekerjaannya. Dia begitu paham bagaimana menjalankan bisnis hotel ini, bahkan dia merasa lebih paham daripada pemilik hotel itu sendiri.



Pemilik hotel ini sendiri adalah seorang perempuan yang menderita penyakit mematikan. Manusia kotor, begitu Roland memandang bosnya, tapi tentu saja dia tidak mungki menunjuk sikap seperti itu depan.



“Kenapa aku bekerja untuk wanita kotor itu? Seharusnya aku yang menjadi manajetnya.” pikir Roland.



Walaupun Roland merasa jika dirinya dimanfaatkan oleh gadis penyakitan. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk merubah keadaan, jika dia protes tentang ketidakadilan ini mungkin yang dia dapat hanyalah pemecatan.



Jika itu terjadi maka usahanya selama belasan tahun untuk untuk melakukan kudeta akan berakhir dengan sia-sia. Karena itulah Roland terus bersabar, dia menunggu hingga bosnya yang sakit-sakitan itu meninggal dengan itu dua yakin jika hotel ini akan jatuh ke tangannya karena dia tahu jika wanita itu tidak memiliki keluarga ataupun keturunan.



Sepuluh hari lalu adalah hari paling membahagiakan bagi Rolan, dikarenakan dia mendapatkan kabar dari rumah sakit jika bosnya telah meninggal. Namun ditengah kebahagiaan itu tiba-tiba terjadi bencana besar, monster yang entah dari mana asalnya tiba-tiba menyerang dalam jumlah besar.



Kematian terjadi dimana-mana, kerusakan dan peperangan menghancurkan dunia. ini bukanlah hari terbaik yang Roland harapkan.



Mencoba menyelamatkan diri Rolan pergi ke atap hotel. Dia berharap jika ada helikopter penyelamat datang menjemputnya. Selain Rolan di sana juga ada lima belas orang lainnya, sebagian besar dari mereka adalah petugas hotel dan pengunjung yang ingin menginap.



Hari demi hari terlewati, satu persatu para survivor mulai kehilanganmu kesabaran untuk mendapatkan bantuan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, pasokan makanan mulai menipis.



Tapi secercah harapan terlihat saat tiba-tiba radio menyiarkan kabar jika ada sebuah tempat perlindungan tidak jauh dari hotel. Mendengar itu membuat semua orang senang, namun kegembiraan itu menghilang lantaran mereka harus menerobos pasukan monster di lobi hotel jika ingin meninggalkan tempat ini.



Para survivor pun terpecah menjadi dua kelompok, ada yang ingin pergi dan ada yang ingin tetap tinggal, sementara itu Roland berada di kelompok yang ingin tetap tinggal. Dia beralasan tidak ingin meninggalkan hotel ini karena sudah menjadi rumahnya selama dia bekerja di sini.

__ADS_1



Pada akhirnya tujuh orang memilih tetap tinggal, mereka adalah satu orang ibu dan anaknya serta beberapa orang dengan luka yang membuat mereka tidak bisa berjalan cepat menghindari kejaran monster.



Delapan orang pergi dari atap, lalu terjadi baku tembak di lobby. Beberapa dari mereka meninggal sementara sisanya berhasil meloloskan diri berlari menuju huta.



Roland terus memantau keadaan rumah saki yang tidak jauh dari hotel, rumah sakit yang sama dimana bosnya meninggal. Tempat itu merupakan asal dari semua monster yang berkeliaran di kota.



Semakin lama monster semakin banyak keluar dari dalam gedung rumah sakit. Melihat itu membuat Roland merindukan membayangkan kota ini dibanjiri oleh monster. Tapi dia merasa lega setelah melihat jumlah monster yang keluar mulai berkurang selama dua hari terakhir.



“Mereka Mulai berburu berkelompok?.” dengan sebuah teropong, Rolan memperhatikan aktivitas para monster.



Rolan menemukan hal yang tidak bisa dimana klonpy berisi 100 monster terdiri dari 70 goblin dan 30 Orc. Itu benar-benar tidak bisa karena dia sering melihat jika Orc adalah monster yang sombong, mereka selalu membully monster yang lebih lemah termasuk goblin.




“Apa mataku yang salah atau karena teropong ini yang kotor?.” Roland merasa telah salah melihat, “Tidak mungkin bukan, ada seorang wanita tanpa busana berjalan di jalanan penuh monster ditemani puluhan goblin di belakangnya.”



Roland mencoba kembali melihat melalui teropong, tapi dia hanya mendapati hal yang sama. Karena merasa sudah tidak bisa berpikir jernih, Rolan pun meminta setiap survivor yang ada di atap untuk melihat wanita itu untuk memastikan apakah dia manusia atau monster.



Namun yang terjadi malah kebanyakan dari mereka justru terpesona oleh kecantikan dan keindahan tubuh wanita itu. “Jika wanita itu memang monster, mana aku samasekali tidak kebaratan jika mati ditangannya.” ucap salah seorang survivor.



Wanita itu berjalan menuju ke hotel, mereka hanya bisa mengawasi dari atap. Beberapa wanita itu berdiri di depan pintu masuk hotel bersama para goblin di belakangnya, hingga wanita itu menatap ke atas memperlihatkan senyum dan lambaian tangan ke arah mereka.

__ADS_1



Semua orang yang melihat itu begitu panik, hingga tanpa sadar semuanya segera bersembunyi. Posisi mereka sudah diketahui oleh entitas yang masih dipertanyakan apakah itu manusia atau monster.



“Jantungku berdebar kencang, aku telah jatuh cinta. Biarkan aku turun, cepat buka pintunya!.”



“Diamlah idiot! Kau akan membuat kami dalam bahaya jika terus bersikap bodoh!.” Roland memperingati rekannya.



Mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh wanita itu di dalam hotel. Semua orang mengira jika wanita itu akan segera mendatangi atap karena mengetahui dimana mereka bersembunyi.



Untuk mempertahankan diri mereka menggunakan senjata seadanya seperti pemukul dan pisau yang didapatkan dari dapur. Mereka menunggu kedatangan wanita itu dengan terus memperhatikan pintu, namun wanita berambut merah tidak kunjung mengetuk pintu atap gedung.



“Hey lihat, wanita itu ada di kolam renang!.” mendengar itu semua orang segera beralih dari pintu menuju bagian belakang hotel. Seperti yang dikatakan jika wanita itu berada di kolam renang bersama para goblin.



Mereka terus memperhatikan apa yang akan wanita itu lakukan. Hingga semua orang takjub melihat wanita itu menggunakan sihirnya untuk membersihkan kolam Renang, mulai dari mengangkat puluhan mayat manusia dan monster lalu membakarnya, kemudian mengganti air darah dengan air yang begitu bening.



Kemudian yang paling membuat mereka terpukau adalah saat dimana wanita itu mulai berenang. Tidak ada satupun orang yang mampu mengalihkan perhatian mereka saat melihat tubuh wanita itu yang telah dibersihkan.



Wanita itu kembali menemukan Roland dan yang lain. Walaupun sadar jika sedang diintip wanita itu tidak berusaha menutupi tubuhnya, tapi justru memperlihatkan lebih banyak, seakan dia menyukai ketika orang-orang terpukau melihat keindahan tubuh yang dia miliki.



Wink! Wanita itu mengedipkan matanya dengan sangat menggoda.


__ADS_1


Gluk! Mereka semua menelan ludah secara bersamaan.


__ADS_2