
Sudah lima jam sejak pesta itu digelar, satu persatu para pengungsi mulai tumbang. Mereka meras puas karena akhirnya dapat melepas setres yang telah ditumpuk semenjak kehidupan mereka berubah. Pria maupun wanita, tua maupun muda, mereka secara beramai-ramai melakukan pesta penuh gairah yang dipimpin oleh wanita bertopeng besi.
[Anda berhasil mencapai level 70]
“Oh... benar-benar panen yang luar biasa.” Queen menikmati Exp yang dia perolehan dari semua orang yang berhasil dia puaskan.
Queen menatap pria yang saat ini tengah memuaskan dirinya sendiri menggunakan kewanitaan miliknya. Pria itu sudah diujung tanduk. Queen pun mempercepat dengan menggunakan skill penghisap, akibatnya pria itu akhirnya kembali mencapai puncak.
Queen mencium bibir pria tidak dikenal itu dengan lembut membuatnya merasa kebahagiaan luar biasa, “Trima....” sebelum mengatakan rasa terimakasihnya, dia pingsan terlebih dahulu.
Sekarang hanya tinggal Queen yang masih terjaga, dia seolah tidak kehabisan stamina setelah melayani ribuan orang. Selain Queen, ada juga orang lain yang masih sadar, pria tua itu adalah Roland, mantan manajer hotel.
Setelah melihat tidak ada lagi orang yang ingin memuaskan dirinya dengan bantuan Queen. Roland segera memberanikan diri untuk menghampiri wanita itu.
“Akhirnya kau memutuskan untuk menemui ku.” ucap Queen.
“Jangan salah, aku kemari bukan karena ingin melakukan itu bersamamu.” walaupun Roland mengatakan seperti itu, tapi tatapannya tidak bisa berpaling pada kedua kaki Queen yang terbuka lebar. Seakan mempersilahkan kejantanan pria tua itu untuk masuk ke dalam.
“Jadi apa yang kau inginkan?.” tanya Queen dengan mulut yang dipenuhi asap rokok.
Roland terdiam sejenak, hingga akhirnya dia pun berkata. “Bisakah kau memberiku kekuatan?.” Roland merendahkan dirinya hingga pria tua itu berlutut di depan Queen dengan wajah tertunduk.
Senyum Queen melebar, “Kenapa kau menginginkan kekuatan?.” kata wanita itu.
Rolan kembali mengangkat wajahnya melihat kewanitaan dan wajah Queen dengan begitu jelas. Pria tua itu menelan ludah, dia khawatir jika alasan yang dia miliki untuk meminta kekuatan pada wanita itu akan membuatnya ditolak.
Tapi tiba-tiba Rolan teringat pada mantan bosnya yang telah mengangkat kehidupan dan derajatnya dari bawah. Bosnya merupakan seorang wanita yang telah berjasa besar bagi hidupnya.
Juga bosnya adalah wanita yang sangat menyedihkan, dimana sepanjang hidup terus menderita oleh kutukan yang dia miliki sejak bayi. Tapi semua penderita yang dia alami tidak menghentikan keinginannya untuk bertahan hidup dan menikmatinya.
“Aku juga ingin menikmati dunia ini.” Roland mengatakan alasannya dengan begitu tegas.
“Menikmati hidup yah?.”
Queen mengambil sebuah gelas bir berukuran besar dari ketiadaan. Kemudian dia menggunakan gelas itu untuk menampung air seninya.
“Oh.... ssssshhh... uuhh.... Mmmmh sungguh sangat melegakan.” wanita itu sangat menikmati saat buang air kecil, hingga dia mengeluarkan suara yang begitu eksotis. Air yang keluar darinya begitu banyak hingga gelas yang digunakan pun tidak cukup menampung semuanya.
Roland menonton semua itu tepat di depannya tanpa berkedip.
“Drink it.” Queen menawarkan gelas berisi air seni miliknya pada Roland. Pria tua itu hanya menatapnya dengan ragu, “Ini tidak seburuk yang kau duga.” Queen kembali menyuguhkan minuman itu.
Roland sadar jika ini adalah ujian untuknya. Wanita itu tentu tidak akan memberikan kekuatan padanya begitu saja. Rolan berpikir jika Queen ingin melihat apakah Roland akan mengikuti apapun perintah yang dia berikan atau tidak.
“Apakah kau bisa membuatnya dingin?.” pinta Roland.
Queen hanya tersenyum kecil, lalu gelas kaca itu mulai dipenuhi embun dan kabut dingin. Roland segera mengambil gelas dari Queen, dengan satu teguk air liur, pria tua meyakinkan diri atas pilihannya.
“Aku harap ini bukan sekedar lelucon.” Roland memejamkan mata saat mulai menenggak minuman di dalam gelas, tapi baru satu teguk dia segera berhenti.
__ADS_1
“..........”
Rolan menatap heran dengan air kekuningan di dalam gelas, lalu tatapannya beralih pada Queen yang masih menunjukan senyuman. Tanpa pertanyaan Roland pun kembali meminum air seni Queen yang tersisa dengan raut wajah kebahagiaan.
“Bagaimana rasanya?.” tanya Queen.
“Menakjubkan, seperti sirup maple yang dicampur dengan wine dan tambahan lainnya yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.”
Roland menduga jika rasa yang tidak tergambarkan itu merupakan semen orang-orang yang telah bercinta dengan Queen. Tapi walaupun begitu Roland tidak pernah menyesal meminum air seni yang Queen berikan.
Kenikmatan telah meniadakan rasa jijik Roland.
“Kau ingin tambah?.” tawar Queen.
Wajah Roland berubah menjadi begitu senang, “Apa boleh?.”
“Tentu kemarilah.” Queen membuka lebar kakinya, Roland perlahan merangkak menuju wanita itu.
Roland menghirup kuat aroma kewanitaan Queen. “Sniiiiffff... sungguh harum yang sangat memabukkan.” Roland mulai menggunakan lidahnya menjilati sisa-sisa air yang dia nikmati langsung dari sumbernya.
“Mmmh nnnh... yes over there!.” Queen menikmati kerakusan Roland, bagian bawahnya dibersihkan dengan begitu baik. Hingga sudah saatnya bagi Queen memberikan apa yang dia janjikan pada si Pria tua.
Tiba-tiba banyak tentakel hitam yang terbuat dari akar pohon keluar dari kewanitaan Queen. Roland menjadi begitu panik melihat hal aneh itu, tapi sebelum menjauh untuk menyelamatkan diri, tentakel hitam lebih dahulu menangkap kepala Roland.
“Jangan takut, aku hanya akan melahirkan mu kembali.”
Akar hitam menarik Roland masuk kedalam rahim Queen. Wanita itu menikmati rasa sakit pada bagian sensitifnya ketik tubuh Roland mulai tertelan kedalam.
Ini merupakan cara sama yang Queen gunakan ketika melahirkan ulang anak-anaknya. Dengan cara absurd ini Queen dapat dengan leluasa mengedit makhluk yang nantinya akan dia lahirkan. Seperti misalnya menentukan ras atau keahlian seperti apa yang akan dimiliki oleh seorang anak.
Dengan cepat perut itu kembali seperti sediakala, seakan Roland sudah dicerna dalam perut wanita itu.
[Kau sekarang bisa mengedit statis dari ‘Roland’]
Setelah pemberitahuan dari Asisten perpustakaan muncul. Queen segera melakukan pengeditan pada statistik Roland.
“Aku pikir bagaimana jika dirubah menjadi lebih mudah? Aku pikir usia 25 tahun akan baik-baik saja”
Selain usia, Queen juga dapat mengubah gender Roland menjadi seorang wanita. Tapi dia tidak melakukannya karena akan lebih menyenangkan bermain dengan Pria.
Setelah mengganti usia Roland, Queen kemudian menceritakan beberapa keterampilan dan juga mengganti ras pria ini. “Aku rasa ini cukup.” kemudian menekan tombol konfirmasi untuk menyelesaikan pengeditan. Setelah itu satu janin keluar dari rahim Queen.
Bayi itu menangis begitu keras ketika tubuhnya dengan cepat tumbuh besar.
“Groaaaar!.” tangisan bayi berubah menjadi Auman monster.
Queen terpukau melihat maha karyanya yang baru dia ciptakan. Sesosok monster dengan tanduk besar di kepala,
Bulu lebat seperti Surai singa menutup kepala hingga leher. Sayap burung dan saya kelelawar tumbuh di punggung beserta delapan kaki laba-laba.
__ADS_1
Tubuhnya berotot dengan ukuran yang begitu besar seperti Ogre. Kedua tangannya merupakan ular beracun sementara kakinya merupakan kaki kambing.
Queen merasa baru saja melahirkan sesosok iblis.
“Groooouuurr...” monster itu hampir saja mengamuk.
Kelahiran pertama memang saat yang paling membingungkan. Mereka tidak dapat mengendalikan kekuatan yang baru diberikan oleh Queen. Namun wanita itu tentu memiliki cara untuk menenangkan amukan anak-anaknya.
“Kelgraz,”
Roland dalam wujud monster segera menatapku saat aku memanggil nama yang aku berikan padanya sebagai hadiah.
“Gerrrr...”
“Itu benar, ibu di sini. Kemarilah.”
Dengan cepat Kelgraz tebang kearku, kemudian segera mencekik leherku dengan keras. Dia masih belum sadar sepenuhnya, aku pun menggunakan kemampuan pengendalian emosi untuk membuat libidonya naik.
“Tidak apa... biarkan ibu merawatmu oke... Agh.... mmmhh..”
“Gerrr....”
“Oh... my son...kau sungguh penuh energi.”
Query menggunakan tubuhnya untuk menampung energi berlebihan yang dimiliki oleh Kelgraz. Hingga kondisi mental monster itu secara bertahap pulih saat semakin banyak keluar.
Monster itu perlahan berubah kembali pada wujud manusianya, tapi bukannya seorang pria tua, yang ada justru seorang pria mudah dengan rambut putih. Roland kembali diserang kepanikan saat sadar.
“Roland, kau bersamaku... Roland tenanglah.”
Pria itu mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia menatapku tanpa mengatakan apapun, lalu perhatiannya terarah pada bagian bawah yang masih menancap pada milikku. Perlahan aku dapat merasakan miliknya mulai bangkit kembali.
“A.... apakah ini nyata?.” dia bertanya dengan berurai air mata.
“Tentu, kau telah dilahirkan kembali sekarang.” aku memeluk dan menciumnya dengan lembut membuat Roland merasa begitu nyaman, hingga keperkasaannya kembali bangkit sepenuhnya, lalu kami pun mulai bercinta dengan liar.
Ada alasan kenapa saat di hotel Queen tidak memanipulasi perasaan Roland dan mengajaknya berpesta seperti yang lainnya. Begitu juga saat di pengungsian ini, disaat ribuan orang bersenang-senang bersama wanita itu, hanya Roland yang diam menonton tanpa melakukan apapun.
Semua itu dikarenakan kejantanan pria tua itu telah direnggut sudah sejak lama. Dia sudah menderita seperti itu bahkan sebelum bertemu dengan Queen.
Saat Queen bertanya bagaimana kejantanan miliknya hilang, Roland hanya mengatakan jika itu terjadi karena infeksi akibat gigitan anjing.
***
Old Roland/Kelgraz/Perfect Roland
__ADS_1
[Note: mungkin ada tabrakan fakta di chapter sebelumnya. Tapi mohon maklum saya hanya penulis amatir yang menulis lurus tanpa menyimpan plot atau semacamnya.]