Mother of Monster

Mother of Monster
23. Dicampakkan


__ADS_3

Besoknya semua orang beraktivitas seperti biasa, mereka tidak mengingat apa yang terjadi kemarin.


Queen hidup ditengah-tengah para pengungsi tanpa mereka sadari, kehadiran wanita itu tidak terdeteksi seperti seorang manusia yang tidak bisa dilihat.


Hanya Roland yang mampu menyadari kehadiran Queen karena dia adalah pengecualian.


“Jadi apa yang nyonya rencana untuk para pengungsi di tempat ini?.” tanya Roland.


“Tidak ada.” Queen menjawab singkat, “Aku akan melanjutkan perjalanan. Mungkin kau bisa mengambil alih tempat ini dari pemimpin saat ini.”


Keduanya menatap Haris yang sedang melihat-lihat kondisi para pengungsi. Semua orang terlihat takut ketika pemimpin tempat ini menatap kearah mereka, terutama para wanita.


“Dengan Kekuatan yang kau miliki, melakukan hal itu pasti akan sangat mudah.” Queen melanjutkan ucapannya.


Rolan memikirkan perkataan Queen. Pria yang telah dilahirkan kembali itu, merasa memimpin tempat ini untuk kepentingannya sendiri merupakan rencana yang cukup menarik.


Karena permintaan dari Roland, Queen tinggal satu hari lagi di tempat pengungsian. Mereka menghabiskan waktu bersama sepanjang malam.


“Aku sungguh meminta maaf karena begitu egois, mom.”


“Agh... tidak apa... nnngh... Aku tidak mungkin meninggalkan mu begitu saja saat kau masih membutuhkan bantuan ibu. Aghh....”


Keduanya bercinta di atas atap supermarket walaupun hujan deras mengguyur tapi mereka tidak berniat pindah ke dalam. Dinginnya hujan justru membuat keduanya semakin liar.


Sementara itu para pengungsi mendapatkan masalah dari suara eksotis yang dihasilkan oleh Queen. Mendengar suara erangan yang sangat merdu membuat siapa pun tidak bisa tenang.


Haris mengerahkan banyak penjaga untuk mencari dari mana sumber suara, tapi tidak ada yang pernah menemukan Queen dan Roland karena tempat mereka telah diberi sihir pelindung.

__ADS_1


Langit menjadi begitu cerah setelah hujan yang berlangsung selama berjam-jam. Di atap yang banjir oleh air hujan, Roland dan Queen tidur bersama menatap bintang-bintang.


“Begitu indah.” kata Roland.


“Hemm...” gumam Queen yang tidur di lengan pemuda itu.


“Aku tidak menduga ini akan lebih baik dari yang aku perkirakan.” Roland memeluk tubuh Queen lebih erat hingga keduanya tertidur lelap hingga pagi.


Paginya Roland bangun tanpa Queen disampingnya. Itu cukup membuat pemuda itu kesepian, tapi dia tahu jika akan menjadi seperti ini. Queen sudah mengatakan padanya jika hanya 0,00001% kesempatan untuk dia memilih untuk bersama seseorang.


Itu artinya tidak ada kesempatan bagi Roland untuk mendapatkan seorang Queen.


“Jadi seperti ini rasanya dicampakkan?.”


Pemuda yang sebenarnya memiliki jiwa seorang pria berusia 60 tahun itu, saat ini merasa rasa sakit dihatinya setelah ditinggal pergi oleh wanita yang memberinya segalanya.


Dia menatap matahari yang mulai terbit dari barat.


Dia menatap matahari yang mulai terbit dari timur. Sambil memikirkan kembali percakapannya semalam bersama Queen.


“Dia mengatakan apa yang akan aku lakukan setelah ini bukan?.” saat itu Roland tidak memberikan jawabannya pada Queen, karena dia sendiri sudah tidak memiliki keinginan apapun setelah meninggalkan hotel.


Roland sempat berpikir untuk kembali ke hotel, tapi Queen mengatakan jika tempat itu dan wilayah sekitarnya sudah menjadi area kekuasaannya, yang sekarang menjadi tempat tinggal dari puluhan ribu anak-anak Queen.


Roland bisa saja tetap pergi ke sana, dia akan disambut sebagai salah satu bagian dari keluarga. Tapi di sana Roland tidak akan memiliki pengaruh apapun sama seperti anak-anak yang bekerja keras dibawah perintah Named Child.


Karena itu Roland memilih untuk tetap tinggal di pengungsian ini. Dia akan mencoba untuk membangun kekuasaannya sendiri.

__ADS_1


“Aku akan membangun ulang daerah ini, dan aku akan mengendalikan semuanya dari bayangan.”


Dengan kekuatan dan pengetahuan yang telah dia dapatkan dari Queen. Rolan akan dengan mudah menyatukan seluruh pengungsian dibawah kendalinya.


Tapi tentu Roland tidak akan menggunakan cara membosankan, seperti membunuh Haris dan mengambil posisinya sebagai pemimpin tempat ini.


Roland akan melakukannya secara perlahan, hingga semua orang tidak pernah menyangka jika mereka tengah dikendalikan seperti sebuah boneka.


“Aku adalah orang yang akan berada dibalik layar.”


Rolan merasa tidak menyangka jika dirinya cukup jenius. Dia berpikir jika Queen pun telah meningkatkan IQ yang dia miliki sehingga membuatnya lebih cerdas.


“Aku akan membuat patung untuknya, dan aku akan menyuruh makhluk rendahan seperti mereka menyembah sang Ratu setiap hari.”


Entah bagaimana ceritanya. Tiba-tiba pria yang menganggap dirinya jenius itu mulai mempertimbangkan membuat sekte sesat untuk menyembah Queen.


“Benar.... benar... Ahahaha....”


Dia tertawa terbahak-bahak di atas atap tanpa satupun busana yang menutupi tubuhnya. Semua orang yang melihatnya tampa ragu menganggap jika Roland sudah menjadi gila.


“Ahahaha... ini pasti.... ini pasti sebuah petunjuk yang dewa berikan Ahahaha...”


Yap... Dia benar-benar sudah menjadi gila.


Setelah perasaanya dicampakkan oleh wanita yang dia kagumi.


Roland menderita gangguan mental.

__ADS_1


Sungguh pria malang.


Walaupun dia bukan berasal dari Malang.


__ADS_2