
Aku sadar jika semuanya akan menjadi seperti ini. Wanita itu akhirnya bergerak melawanku. Ini karena aku terlalu fokus untuk memperbanyak lantai Dungeon tanpa memperkuat pasukan monster.
Tapi aku melakukan itu karena tidak ingin dia menjadi lebih kuat, karena aku sadar semakin banyak monster yang aku beli maka dia pun akan semakin bertambah kuat.
Kekuatan wanita benar-benar diluar nalar, hanya seorang diri tanpa bantuan dari anak-anaknya, dua melakukan solo Raid pada Dungeon yang aku bangun.
Dengan cepat dia menerobos lantai demi lantai, setiap monster yang berusaha menghadangnya langsung tewas hanya dengan satu kibasan tangan. Mereka meledak menjadi cat merah yang mewarnai dinding Dungeon.
Hingga akhirnya dalam dua menit penjelajahan dia sudah sampai di depan pintu lantai ke tujuh. Beragam Undead memenuhi lantai ini, aku harap monster-monster yang terlihat menjijikkan dan tidak memiliki batang bisa menghentikan wanita itu.
Tapi dugaanku kembali dipatahkan saat dia dengan wajah yang sangat bahagia menikmati permainan bersama para zombie, dia seolah tidak merasakan bau menyengat dari daging busuk para zombie.
Harapan terakhirku adalah para Skeleton dan Specter, tapi mereka bahkan lebih buruk dari zombie. Dia hanya perlu mencium tengkorak para Skeleton setelah itu energi sihir yang menjadi sumber kehidupan para Undead terhisap olehnya.
Para Skeleton hanya menyisakan tulang belulang, sementara Spectre yang merupakan roh jahat terhisap hingga lenyap tidak bersisa. Aku menghabiskan banyak poin untuk membeli mereka hanya untuk berakhir dengan kesia-siaan.
Seharusnya monster berjenis Undead memiliki imunitas pada abnormal status seperti racun dan pengendalian pikiran. Tapi entah kenapa pesona yang dia miliki dapat mengalahkan sistem imunitas yang seharusnya merupakan hal mutlak.
Sebenarnya siapa wanita itu?
Bagaimana dia bisa mengacaukan sistem yang dibuat oleh para dewa?.
__ADS_1
Saat aku disibukan dengan beragam pertanyaan di kepala, wanita itu sudah tiba di ruang bos. Tanpa bersusah payah dia mengalahkan bos Dungeon yang merupakan Skeleton Kong dengan menghisap energi mana seperti menghirup udara.
Kematian skeleton king membuat pintu penyimpanan Dungeon core terbuka. Dia memasuki ruangan itu dan akhirnya kami pun berhadapan secara langsung. Saat dia mengambil Dungeon core dari atas altar maka aku akan mati.
Andai saja aku bisa berbicara, mungkin kami bisa saling menahan setelah mengobrol. Tapi apalah daya, aku hanya sebuah kesadaran dari batu kristal yang tidak bisa melakukan apapun selain mengontrol Dungeon.
Kesadaran ku mulai lenyap setelah dia mengambil inti Dungeon. Tidak menyangka akan sesingkat ini, tapi aku rasa semuanya sudah cukup.
Melihat pemandangan saat dia memuaskan dirinya sendiri dengan para monster benar-benar memuaskan, walaupun aku agak menyesal karena tidak memiliki kesempatan secara langsung.
Andai saja aku bisa mendapatkan direinkarnasi kembali, aku ingin menjadi manusia seperti dia. Hidup seperti yang dia inginkan tanpa peduli dengan norma sosial.
\*\*\*
“Hah?.”
Aku tersadar di ruangan yang serba putih, aku tidak tahu sedang berada di mana.
“Bukankah seharusnya aku sudah mati?.”
“Secara teknis kau memang sudah mati.”
__ADS_1
Suara itu kembali menjawab perkataanku, walaupun aku sebenarnya tidak menunjukan pertanyaan itu padanya.
“Suara itu.... Mungkin kau?.”
“Ya... seperti yang kau bayangkan ini aku orang yang telah membunuhmu.”
Wanita berambut merah itu kemudian menampakan dirinya dengan wujudnya yang biasa, tetap tanpa busana.
“Jadi seperti itu wujud yang kau inginkan?.”
“Apa?.”
Perkataannya membuat aku sadar jika saat ini aku bukan lagi sebuah kesadaran, tapi aku sudah memiliki tubuh yang bisa merasakan dan dilihat. Tubuh yang begitu mirip dengan wanita itu, tapi yang berbeda adalah aku seorang pria.
“Bagaimana ini bisa terjadi?.”
Tanpa menjawab pertanyaan ku, dia hanya mendekatiku yang terduduk. Dia menatapku dengan senyuman yang menawan, jarinya membelai dada dengan otot sixpack hingga berakhir pada dagu.
Aku merasakan dadaku berdebar kencang saat kami saling bertatapan. Dia mencium bibirku dengan lembut, tapi aku membalasnya dengan kuat. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.
Aku memeluknya begitu erat, dia membalas pelukan itu sambil tertawa kecil seraya mempersilahkan aku melakukan apapun yang aku mau.
__ADS_1
Akhirnya apa yang selama ini aku inginkan menjadi kenyataan. Di ruangan serba putih kami bercinta dalam waktu yang sangat lama.