Mother of Monster

Mother of Monster
19. Queen


__ADS_3

Roland bangun dari tidurnya dan mendapati tebtah berada di salah satu janar hotel. Pria tua itu sangat panik takut jika para monster teksh mengurungnya.



“Aku berniat untuk pergi saat para monster itu kelelahan, tapi aku justru ketiduran.” Roland marah pada dirinya sendiri karena terlalu ceroboh.



Sadar jika tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi, pria tua itu segera turun dari tempat tidur lalu mengecek pintu untuk memastikan apakah itu terkunci atau tidak.



Ckrek! Pintu terbuka dengan mudah yang menandakan sejak awal pintu tidak terkunci. Roland mencoba melihat keadaan diluar, tapi yang dia temukan hanya ruangan kosong. Beberapa saat kemudian pintu lain terbuka lalu seorang survivor yang dia kenal terlihat keluar dari pintu itu.



“Tuan Roland, kau ada di kamar sebelah ternyata.” survivor itu terlihat begitu lega, sepertinya dia juga ketakutan jika seandainya dipenjara oleh para monster di dalam hotel.



“Apa yang terjadi, kenapa aku tiba-tiba ada di kamar hotel?.” tanya Roland.



“Jika bertanya padaku, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”



“Cih.” Roland kesal karena tidak ada informasi yang bisa dia dapatkan dari rekannya.



Beberapa saat kemudian setiap kamar pintu terbuka lalu orang keluar dari dalam. Sekarang totalnya menjadi 10 manusia. Roland sadar jika tujuh diantaranya adalah rekan yang berjuang bersama dirinya di atas atap hotel, sementara itu tiga orang lainnya memperkenalkan diri sebagai penjaga dari area pengungsian.



Sepuluh orang itu segera bersiap untuk pergi dari hotel, termasuk Roland yang akhirnya memilih untuk mengungsi daripada tinggal di hotel penoh monster. Alasan lainnya karena pasokan makanan yang terbatas.



“Hey, apa hotel ini menggunakan pembangkit listrik diesel atau semacamnya?.” salah satu penjaga pengungsian bertanya, yang membuat tujuh survivor akhirnya sadar jika lampu di lantai itu telah menyala.



“Tidak, kemarin hotel ini tidak memiliki sumber daya apapun seperti bangunan lainnya. Ini pasti karena para monster yang melakukan sesuatu pada generator.” kata Rolan.



Setelah sampai di lobby, mereka tidak menemukan satupun monster baik yang hidup maupun yang telah mati. Area yang seharusnya paling banyak terdapat jasad kini sudah dibersihin, walaupun di beberapa tempat masih terlihat noda darah.

__ADS_1



Pintu terbuka lebar seakan mempersilahkan semua orang untuk keluar dari gedung ini. Mereka tetap waspada takut jika itu adalah sebuah jebakan. Tapi setelah keluar dari hotel tidak ada apapun yang terjadi, semua orang pun segera berlari menuju hutan.



“Merela sudah pergi.” ucap seorang gadis yang melihat kepergian para manusia dari hotel dari lantai lima puluh.



“Mungkin sebentar lagi mereka akan datang bersama beberapa manusia lain. Mereka pasti tertarik dengan kota yang sudah kita bersihkan.” kali ini suara seorang pemuda yang berbicara.



“Karena itu kalian harus melindungi kota ini saat ibu pergi.” ucap seorang wanita berambut Merah.



““Baik bu””



“Ah benar, sebelum ibu pergi meninggalkan kota. Mungkin ibu membutuhkan nama baru, Nana lamaku, Shintia terlalu banyak yang mengenalnya. Itu merupakan peninggalan masa lalu yang kelam.”



Keduanya saling memandang. Mereka sebelumnya tidak pernah tahu nama dari wanita yang telah melahirkan mereka.




“Mari kita lihat. Aku mendapatkan nama Ra2 setelah menyerap Dungeon core, nama yang terdengar seperti Ratu.”



Saat ketiganya saling berbicara, wanita itu tidak henti-hentinya mengeluarkan janin dari rahimnya. Janin itu dengan cepat tumbuh besar menjadi beragam makhluk entah itu goblin, Orc, manusia pohon, serangga, burung atau monster yang tidak terjelaskan karena tubuhnya terdiri dari gabungan berbagai monster.



Bahkan manusia pun dia lahirkan.



“Nama 'Ratu'. itu sangat menggambarkan seorang ‘Ibu’.” kata pemuda yang tidak lain adalah anak pertama wanita berambut merah, Zodort. Sebelumnya dia merupakan seorang goblin Champions.



Tapi setelah dilahirkan kembali dia menjadi lebih mirip dengan manusia berusia 15. Begitu pula dengan Oci si putri Orc, dia tidak berbeda dengan kakaknya.

__ADS_1



“Tapi jika hanya Ratu saja terlalu biasa bukan?.” Oci merasa nama ‘Ratu’ masih kurang cocok untuk ibunya.



Zodort berniat untuk memarahi adiknya karena mengaggap nama yang ibu mereka pilih tidak cocok. Tapi pikirannya seketika berubah saat ibu mereka sendiri mengaggap jika pendap Oci ada benarnya



“Aku pikir nama ‘Ratu’ memang terlalu sederhana. Mungkin harus menambahkan sesuatu.” ucap wanita berambut Merah.



“Mungkin ‘Ratu monster’?.” Oci memberikan saran.



“Itu mustahil, bukankah ibu sudah mengatakan jika ada kemungkinan akan berbaur dengan para manusia? Jika menggunakan nama itu maka ibu bisa ditangkap.” Zodort menolak Nana uy diberikan oleh Oci dengan alasan yang kuat.



“Muuh.... lagipula apa ibu memang perlu pergi?.” Oci memasang wajah cemberut.



“Oci hentikan, ibu sudah mengatakan jika dia harus pergi untuk mencari Dungeon core. Jangan buat ibu sulit.” Zodort memperingati adiknya.



“Tapi....” Ochi masih sulit menerimanya.



Pada akhirnya wanita berambut merah menggunakan nama ‘Queen’ sebagai namannya. Sepanjang hari dia hanya berbaring di atas tempat tidur sambil terus melahirkan.



Tubuhnya terikat oleh akar pohon yang menjalar di setiap bagian hotel. Dia telah menjadikan hotel itu sebagai Dungeon sementara dirinya sendiri adalah inti Dungeon itu.



Sedangkan makhluk yang terus dia lahirkan selain akan digunakan sebagai penjaga area Dungeon, juga banyak diantaranya yang ditugaskan untuk melakukan pembangunan kota.



Di bagian belakang hotel terdapat area pembangunan yang terdapat ribuan manusia dan moster yang semuanya adalah anak-anak Queen. Mereka berkerja keras membangun sebuah istana untuk ibu mereka.


***

__ADS_1


note: mungkin setelah ini adegan segggggs nya bakalan berkurang.


__ADS_2