
Suara gaduh dapat didengar begitu berisik dari lantai bawah.
Suara jeritan dan suara tawa para monster bersahut-sahutan, membuat tujuh survivor yang bertahan di atap gedung merasa semakin ketakutan.
“Me.... mereka akan naik kemari.” ucap seorang pelayan hotel.
“Gawat.... aku hanya ingin dibunuh oleh wanita cantik berambut merah itu!.” kata pria mesum dengan dengan diapers dan pakaian wanita.
“Mama.... aku takut!.” teriak seorang anak pada ibunya.
“Jadilah berani nak, mungkin inilah saatnya kau berbakti pada ibu. Jadilah makanan para monster agar mereka mengabaikan ibu.” ucap ibu itu penuh motivasi.
Kepala semua orang terpelintir mendengar perkataan seorang ibu pada anaknya.
Dor!
Suara gedoran pintu yang begitu keras membuat semua orang terperanjat kaget.
Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor! Dor!.....
Gedoran pintu terus berlanjut serta semakin kuat hingga pintu itu hampir jebol, itu membuat para survivor semakin ketakutan karena merasa sudah saatnya mereka menjadi makanan para monster.
“Hey adik, bukankah seharusnya kau mengatakan salam?.” terdengar suara seorang pria dari balik pintu.
“Eh!? Apa itu harus?.” suara seorang gadis menjawab suara sebelumnya.
__ADS_1
“Ya tentu saja. Jika kau terus menggedor pintu seperti itu, yang ada mereka semua mengira kita adalah monster yang tidak berbudaya.”
Suara pria itu agak meninggi seakan mulai emosi.
“Apa itu budaya? Apa itu makanan? Apa itu lebih enak dari bakwan jagung buatan ibu?.” sementara suara dari gadis terdengar agak bodoh.
“Hadeh..... berbicara dengan mu benar-benar membuat tekanan darahku naik. Sudah cepat katakan salam dan undangan makan, setelah itu kita kembali ke bawah. Ibu mengatakan jika dia akan masak makanan Padang hari ini.”
“Heeee.... hounto....” suara gadis itu terdengar begitu senang.
Semua survivor terus mendengar perbincangan dibalik pintu tanpa mengetahui sosok seperti apa yang sedang berbicara. Mereka mulai berpikir jika di balik pintu adalah para manusia.
“Permisi tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Kami datang kemari hanya untuk mengirimkan pesan dari ibu kami yang mengundang kalian semua pada jamuan makan malam.”
Setelah mengatakan itu suara di belakang pintu berniat untuk kembali turun. Tapi Roland segera mencegah.
“Oh, tentu kami akan membawa kalian bertemu dengan ibu kami.”
Ketika Rolan membuka pintu yang dipenuhi cakar dan penyok. Yang pria tua itu lihat pertama kali adalah wajah Orc yang tersenyum lebar ke arahnya.
“Halooo.....” Smile.
Seketika pria tua itu pun terkena serangan jantung.
“Loh, kenapa dia malah cosplay jadi belatung?.” Oci menatap Roland yang kejang-kejang di lantai.
__ADS_1
***
Lampu hotel menyala menandakan jika para goblin telah berhasil membuat mesin listrik berbahan bakar inti monster.
Keadaan hotel yang begitu terang ketika keadaan di sekitar mulai gelap karena matahari mulai tenggelam, membuat pemandangan indah tersendiri.
Tujuh survivor masuk kedalam restoran dimana aku berada. Mereka diikat oleh para goblin dan salah satu yang digendong Oci mengeluarkan busa di mulutnya.
“Oci apa yang terjadi pada pria tua itu?.” tanyaku sambil menatap dengan tajam dan menyesap wine dengan perlahan.
“Um.... ini... Manusia ini kecapean turun tangga... Hehehe.” Gadis Orc itu tertawa kecil seakan sedang menyembunyikan sesuatu.
“Begitu rupanya, sungguh pria tua yang malang.” aku segera meminta para goblin dan Orc untuk meninggalkan para survivor di tempat sama dimana para monster yang tertangkap dikumpulkan.
“Kalian pasti sudah sangat lapar bukan? Ibu sudah menyiapkan masakan sepesial untuk kalian.” aku menunjuk meja prasmanan yang dipenuhi oleh makanan. Aku membuatnya cukup untuk memenuhi perut 200 orang.
Melihat makanan yang begitu banyak membuat para survivor meneteskan air liur. Tapi raut wajah mereka segera berubah jijik manakala semua anak-anakku begitu lahap memakan semua hidangan yang ada.
“Jadi mari kita saling berbicara.” perhatian semua orang seketika tertuju padaku.
Ada sepuluh manusia, 6 survivor, 3 anggota keamanan dan 1 yang hampir jadi mayat.
Lalu ada 13 monster yang ditangkap oleh anak-anak saat mereka berburu, walaupun mereka adalah monster liar yang ganas tapi aku sudah menaklukkan mereka dengan pengendalian emosi, begitu pula dengan para manusia yang aku buat agar mereka tenang.
Mereka semua hanya diam, menunggu perkataanku selanjutnya.
“Kalian semua harus bercinta denganku.” ucapku dengan senyum ceria.
__ADS_1