Mother of Monster

Mother of Monster
13. Perburuan


__ADS_3

Zodort bersama Oci membawa pasukan untuk berburu. Ibu mereka telah memberikan pesan untuk membawa hidup-hidup makhluk dengan ras yang belum pernah mereka temui.



Selama tiga jam berburu mereka mendapatkan tiga monster Yang berbeda. Keduanya yakin jika ibu pasti akan senang dengan apa yang mereka bawa.



Sebenarnya jika mereka mau bisa saja berburu ini selesai lebih cepat. Tapi mereka tidak melakukannya karena ini adalah kali pertama untuk anak-anak melihat dunia luar setelah terkurung di dalam Dungeon sejak lahir,.



Seakan mengerti jika ini akan terjadi, ibu mereka pun hanya mengatakan untuk pulang sebelum matahari terbenam. Itu berarti mereka bisa bermain sepuasnya selama seharian penuh.



“Kakak, lihat banyak darah di area itu.” kata Oci menunjuk area yang sepertinya telah terjadi pertempuran di sana.



Beberapa mayat monster tergeletak begitu saja dengan luka yang beragam. “Luka sayatan dan tembakan. Sepertinya mereka mencoba berburu untuk menaikan level” Zodort mengutarakan pendapatnya setelah melakukan penelitian singkat pada area itu.



“Apa kita akan melanjutkan?.” tanya Oci.



“Dasar bodoh, bukankah ibu telah mengatakan jika kita harus menjauh dari para manusia!.” Zodort memperingati adiknya.



“Tapi kenapa? bukankah manusia itu ras lemah?.” Oci masih bersikukuh untuk berburu manusia. Dua penasaran dengan rasa daging yang belum pernah dia coba.



“Walaupun benar jika manusia itu lebih lemah, tapi mereka memiliki teknologi yang lebih maju. Dengan senjata yang bernama ‘Sniper’ mereka bisa membunuh monster dari jarak ratusan meter. Atau mobil lapis baja yang disebut dengan Tank dengan kekuatan ledakan dahsyat”



Zodort mencobanya menjelaskan, namun Oci dan saudaranya yang lain sedikitpun tidak mengerti dan saling memandang satu sama lain.



“Ya, pada intinya manusia memiliki senjata mematikan yang sangat berbahaya.” pangkas Zodort.



“Oke itu mudah dipahami.” balas Oci.



Ketika mereka hendak kembali ke Dungeon, tiba-tiba Zodort melihat tiga manusia dengan seragam yang sama. Dilihat dari perlengkapan yang dikenakan sepertinya para manusia itu merupakan pasukan khusus.


__ADS_1


Tapi.... “Apa pedang tua dan pemukul kayu juga termasuk senjata mematikan yang kakak ceritakan?.” Oci melontarkan sarkasme setelah melihat senjata yang dibawa para manusia terlihat biasa-biasa saja.



Zodort tidak peduli dengan sindiran yang dikatakan oleh adiknya, dia saat ini kebingungan apakah akan menangkap para manusia atau tidak.



“Ibu pasti akan senang mendapatkan hadiah kita, mungkin manusia bisa menjadi hadiah utama.” kata Oci yang dengan jelas mendorong kakaknya untuk menangkap para manusia.



\*\*\*



\[Zodort POV\]



Tiga manusia mendekati hutan, kami berlindung di balik pepohonan dan semak untuk melakukan penyergapan..



“Aku mendengar jika beberapa orang kembali didatangkan.” kata manusia dengan pemukul kayu. Dua sepertinya yang paling muda diantara ketiganya.



“Heeeh... berapa banyak lagi, bukankah tempat pengungsian kita sudah over populasi?. Jika terus bertambah bisa-bida kita diserbu monster.” satu-satunya wanita diantara ketiganya. Dia terlihat tidak senang mendengar jika lebih banyak orang di tempat pengungsian.




“Lalu bagaimana dengan masalah makanan?.”



benar aku ingin tahu bagaimana mereka mendapatkan makanan, karena saat kami berada di dalam Dungeon hanya diberi makan daging monster yang sangat pahit.



“Sepertinya mereka akan dipaksa berburu untuk mendapatkan makanan.”



“Ahaha... bukankah itu seperti sebuah perbudakan?.”



“Tapi itu wajar bukan, jika mereka tidak ingin mati kelaparan ya mereka harus berburu. Lagipula melakukan perburuan itu sangat menyenangkan terutama ketika naik level.”



Pembicaraan ketiga terhenti saat melihat seekor goblin yang tengah duduk ditengah jalan menuju hutan. Goblin itu sepertinya tengah memakan sesuatu.

__ADS_1



Goblin itu hanya sebuah jebakan yang kami pasang untuk menarik ketiganya masuk kedalam hutan. Dan sepertinya itu berhasil.



“Woah mangsa empuk.” kata si wanita.



“Hey, tenanglah kita tidak ingin goblin itu kabur kedalam hutan.”



Ketiganya berusaha mendekati goblin tanpa bersuara. Lalu saat jarak mereka sudah masuk dalam area serang, si pemimpin berniat menebas goblin dengan pedangnya.



Namun hal yang diluar perkiraan ketiga manusia terjadi. Goblin itu segera berbalik dan menangkis pedang manusia dengan sebuah belati.



Mereka sangat terkejut, tapi hal yang lebih mengejutkan adalah ketika tiba puluh monster muncul dari pepohonan di sekitar mereka.



“Sial, kita telah terjebak.” pemuda memberitahu keadaan yang sudah pasti disadari rekannya.



“Ki... kita akan mati!.” wanita menjadi sangat ketakutan.



“Harus memanggil bantuan!.” pemimpin masih dapat mempertahankan ketenangannya, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantung, aku agak khawatir untuk sesaat karena takut yang dia keluarkan adalah senjata. Tapi sepertinya bukan karena manusia itu menembakkan benda itu keatas langit.



Cahaya merah dengan jejak asap terbang tinggi di udara. “Apa itu?.” tanya Oci.



“Itu adalah sinyal untuk memberitahu posisi mereka pada manusia di sekitar. Mungkin seperti sinyal tanda bahaya.” aku mencoba menerangkan.



Ketiga manusia terkejut melihat aku dan adikku bisa berbicara, tapi karena sadar jika akan ada banyak manusia yang datang kemari karena sinyal tadi, kami pun segera menangkap mereka lalu segera kembali menuju Dungeon.



Namun saat kembali kami mendapati jika Dungeon telah menghilang, kami menjadi begitu panik karena takut terjadi sesuatu pada ibu.



Tapi kekhawatiran itu menghilang setelah salah satu saudari kami yang melayani ibu saat melakukan persalinan mengatakan jika ibu saat ini berada di sebut hotel yang terletak tidak jau dari bekas Dungeon.

__ADS_1


__ADS_2