Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Kepulangan yang menyakitkan


__ADS_3

...****************...


Pelukan rindu, riuh piuh jejak kaki yang bersentuhan langsung dengan lantai bandara, serta teriakan mencari orang dijemputnya menjadi latar belakang suara teleponku dengan orang di seberang sana. Aku terkekeh kala Eca berteriak kesal kepadaku, sebab aku lebih dulu melakukan penerbangan ke Indonesia. Meninggalkannya seorang diri di negara berciri khas akan tulisan hollywod nya itu.


“Nanti kalo udah ketemu sama pacar kamu, telepon aku sesegera mungkin!”


“Iya-iya nyonya manajer.” Aku tutup panggilan telepon kami dan segera masuk kedalam sebuah taksi yang sudah berjajar rapi didepan pintu keluar bandara, secara acak. “Restoran Ximeow ya, pak.” Alamat yang kusebut pada pak sopir taksi tadi adalah, sebuah Restoran Jepang yang telah lelakiku rintis saat baru memiliki KTP hingga sekarang berkembang pesat menjadi restoran terkenal.


Nama lelakiku, Zafa vayor.


Hahahaha dasar! baru kuingat namanya saja sudah berhasil membuat wajah terasa hangat dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Kuharap pak sopir tak menyadari reaksi tubuh yang berlebihan hanya karena jatuh cinta ini. Mari kujelaskan sedikit tentang lelaki bernama Zafa itu, ya.


Dia, sudah mengisi hatiku yang kosong sedari tubuh ini masih memakai seragam putih abu sampai berubah menjadi pakaian bebas semasa kuliah. Kami menjalani hari-hari seperti sepasang kekasih pada umumnya. Namun, tiba-tiba kami berpisah sebab aku yang mendapat panggilan untuk menulis salah satu lagu penyanyi yang berada di Los Angeles kala itu. Mau tak mau, karena aku yang menjunjung tinggi ingin menjadi seorang penulis lagu terkenal, akhirnya memilih pergi ke negara itu dan meninggalkan Zafa.


“Huft ...” Kesal. Pesan ku tiga hari lalu sama sekali belum dibaca olehnya. Padahal baru saja kulihat, Zafa berstatus online. Kami juga baru kembali berkomunikasi sekitar satu tahun ke belakang setelah tiga tahun tak berkomunikasi apa pun. Itu juga dimulai, dengan dia yang tiba-tiba meneleponku dengan beralasan sedang terpengaruh minuman berunsur alkohol.

__ADS_1


“Mbak mau dekat bengkel saja diturunkannya? Soalnya kalo didepan resto langsung gak bisa, lagi ada acara nikah sepertinya.” Izin sopir bertopi itu, membuatku segera keluar setelah membayar dan dibantu untuk mengeluarkan koper yang lumayan besar ini. “Terimakasih, pak.”


Aku seret koper sembari berjalan masuk kedalam restoran yang sudah dipenuhi kendaraan beroda empat dan hiasan bunga putih di dinding. Belum lagi karpet merah yang digelarkan begitu saja ketika kakiku baru sampai di pintu masuk. Meyakinkan, jika ucapan pak sopir yang mengatakan ada pernikahan memang benar adanya.


“Permisi, Ibu bisa tunjukkan kartu undangannya?”


Langkahku lantas terhenti. Undangan? Itu sama sekali tak aku punya. “Umm, Saya gak punya undangannya. Tapi, saya pacar Zafa Vayor, pemilik resto ini.” Ucapku segera, agar tak ada drama usir mengusir.


Sedikit aneh. Reaksi yang diberikan pegawai berkebaya ini begitu terkejut akan pernyataanku barusan. Oh, mungkin dia kaget sebab baru tahu bosnya sudah memiliki pawang, kali ya. “Jadi, boleh saya masuk?”


Baru saja akan ku cubit lengan, pelaku utama dari pernikahan ini datang dengan pakaian jas rapi dan tatanan rambut hitam yang sudah teracak. Ku pikir, dia datang sendiri untuk menghampiri kemari, sebab karenanya aku sudah bisa bernafas lega, tapi tiba-tiba seorang perempuan yang memakai dress purple datang dengan sedikit berlari lalu menggandeng lengan sang pria yang sudah menatapku.


Gila! Apa ini rencana pembunuhan berencana untuk mematikan mental kejiwaanku?


“Zafa, Nela ... kalian?”

__ADS_1


“Hai Nada!” sapa perempuan itu begitu riang. “Makasih ya, udah datang ke acara pernikahan aku sama Zafa. Padahal tadinya, aku sama suamiku ini mau mampir langsung ke Los angeles, loh!” lanjut dia kembali, tak tahu malu.


Jika keadaannya sedang normal, mungkin aku akan menarik tubuh Zafa dan setidaknya menampar pipi Nela yang tak tahu malu sudah berani mengaku-ngaku pacarku menjadi suaminya. Tapi, keadaan kali ini berbeda. Aku harus menahan segala rasa marah dan kecewa dengan mengeratkan genggaman di gagang koper.


Apalagi kala melihat cincin yang sama dijari keduanya. Memperjelas saja bahwa ini bukan sebuah prank. “Brengsek.” Umpat yang harusnya aku lontarkan lebih banyak dan parah dari kata brengsek. Aku jalan mendekat, menatap kedua matanya, mencari kebenaran akan semua kejadian yang tiba-tiba ini. Padahal sebelumnya kami baik-baik saja, dia juga bersikap manis dan sama sekali tak ada Bau-Bau pengkhianatan sedikit pun. Tapi pernikahan ini ... “Gue bodoh banget zaf,”


“Nada,”


“Apa? Kenapa gak bilang kalo lo selama ini cinta sama sahabat gue? Ngapain kita jalanin hubungan lama-lama kalo lo ujung-ujungnya nikah sama Nela!”


Dapat kulihat, Dia menggeram. Pertanda jika emosinya mulut tersulur. Namun aku tak peduli akan hal itu dan berahlih tatap pada Nela. “Lo gila, khianat dibelakang gue, Nel? Padahal setiap hari lo sendiri yang selalu kasih kabar apa aja yang Zafa lakukan. Dan sekarang, tiba-tiba kalian married?” Kala aku melayangkan tangan padanya, tangan Zafa sudah akan menepis, tapi aku lebih cepat menghindar dan meletakkan telapak tanganku ke bahu istri Zafa itu yang terbuka. “Lo mau tahu sesuatu gak Nela?”


Di samping Nela, Mata Zafa menatap tajam diriku yang sama sekali tak terpengaruh. Aku lebih memilih menelusuri dress purple cantik ini dengan lenganku. “Pakaian pernikahan yang lagi lo pakai ini, pakaian yang sama dengan yang waktu zaman kuliah gue pilih dan beli buat hari pernikahan gue sama Zafa suatu hari nanti." Aku tertawa keras sembari bertepuk tangan yang mampu mengalih tatap para tamu. “Lucu, malah jadi lo yang pakai, tapi gak apa-apa deh. Yang penting dress pilihan gue ini pas ditubuh lo. Gak salah juga, Kali-kali sedekah ke orang yang lebih membutuhkan.”


Aku segera berjalan mundur. Orang-orang sudah menatapku dengan tatapan penuh tanya. Tapi rasanya tanganku gemas, jika belum melakukan hal ini pada lelaki bejat yang sedari tadi hanya diam. Maka kala langkahku baru beberapa jengkal, kuputar balikkan tubuh dan langsung memberi tamparan keras di pipi Zafa bolak-balik. “Tunggu balasan lainnya.” Dan tanpa penghormatan, Aku langsung menarik koper keluar dari restoran ximeow yang harus secepatnya berahlih nama menjadi xianjing.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2