
...****************...
“Nad, Nada! Puzzle nya udah ke susun semua!” Teriakan dari ruang tengah sana mempercepat gerakan tanganku memasukkan pasta ke piring.
Setelah selesai, aku lantas menghampiri Alshaf yang tengah terduduk di karpet. Didepan lelaki itu terlihat gambar menara Eiffel yang terbagi menjadi potongan puzzle dan kini telah tersusun menjadi satu, berkat tangan dan usahanya.
“Wih, keren banget! Aku dari kemarin mager terus mau susun itu.”
Wajah Alshaf menoleh ke arahku. “Kalo ada puzzle lagi, call me.” Mulut Alshaf membuka besar, aku awalnya tak paham tapi mata dia melirik ke pasta yang aku bawa tadi. “Ay-ay captain!” Dan, beberapa lembar pasta sudah masuk ke mulutnya.
Aku tertawa akan tingkahnya. Semakin lama, semakin unik saja kelakuan Alshaf ini.
“Gak makan pasta juga?”
“Udah bikin oatmeal tadi, sayang kalau dibuang.” Balasku sembari memakan sesendok oatmel.
Tangannya terulur dan mengusap rambut panjangku yang terurai. “Lagi diet ya?” tanyanya dengan tatapan yang tak ku paham. Aku mengangguk.
__ADS_1
“Badan kamu udah bagus, Mrs. Cute. Tapi, gak apa-apa, this body is yours. Kamu lebih tahu apa yang baik dan buruk untuk tubuh kamu sendiri. Asal jangan over aja.” Mendengarnya aku termenung. Alshaf gak melarang aku sama sekali untuk diet. Malahan dia kini membawa aku untuk menyandar dibahunya. “Nanti olahraga bareng aku, kita bisa gym, jogging, main tennis, basket, atau apa pun itu. Tapi ... tunggu jadwal aku kosong dulu ya?” Saat tatapan kami bertubrukan aku tersenyum dan mengangguk.
Dan lalu, kami saling merangkul dengan pemandangan jalanan macet ibukota.
Bahagia dengan pasangan itu ternyata sesimpel ini ya. Tak usah banyak mengeluarkan uang, tak perlu juga mengeluarkan tenaga. Kita hanya perlu mengeluarkan perhatian dan pelukan. Alshaf, aku harap dia lelaki yang selama ini aku cari.
...
Yang tadinya hanya memandang, sekarang kami ikut andil dalam merasakan kemacetannya. Dengan mobil Alshaf sebagai korban, kami melaju ke arah rumah sakit yang waktu itu tempat aku dirawat. Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu tentang penyakitku hingga aku tidak sadarkan diri selama beberapa hari.
Dia melirik sekilas lalu memutar stir. “Gak, aku harus latihan main gitar buat konser nanti. Kamu?”
“Ikut ... semangat buat konsernya nanti!” balasku walau agak sedih Alshaf tak akan hadir di dinner perusahaan ini. “Pasti semangat. Apalagi kalo kamu datang,” Jawabannya benar-benar di luar prediksi.
Aku terkekeh, lalu menghadapkan seluruh perhatianku padanya. “Tapi, free gak nih tiketnya buat aku?”
Alshaf menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengambil tanganku untuk digenggam. “Bayar lah!" Ujarnya yang membuatku mendengus. “Bayar pakai waktu kamu seumur hidup, maksud aku.” Ralat dia dengan kerlingan mata nakal. Yang kuhadiahi pukulan.
__ADS_1
Wah, aku baru tahu dia punya sifat jahil juga.
Tak terasa kami telah sampai dengan tujuan. Aku sengaja meminta Alshaf untuk memberhentikan mobil di dekat halte. Agar ia tak mengetahui kemana aku pergi.
“Hati-hati ya, Al! Kalo sempet kabarin aku via chat, atau telepon juga boleh.” Pamitku lalu aku buka pintu, namun sayang, tangannya lebih cepat menarik aku, hingga, wajahku menubruk dadanya itu. “Kangen...”
“Heh! Ini aku di pelukan kamu masih aja—“
“Jangan bawel dulu,” Alshaf semakin mengeratkan pelukan kami. “Kamu pasti tahu aku cinta kamu, kamu juga pasti tahu aku selalu kangen kamu, Mrs. Cute. Jadi jangan pergi jauh-jauh dari pacarmu ini ya? i love you moon and back.” Setelah kata-kata cintanya, dia melepaskan pelukan kami lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu di sampingku.
Saat aku melangkah keluar, tangannya sigap melindungi kepalaku agar tak terbentur. “Makasih.” Ucapku seusai perlakuannya.
“Karena aku gak tahu kamu kemana, aku udah transfer uang ke rekening kamu. Kalo ada apa-apa jangan sungkan kasih tahu aku. Okay?”
Aku mengangguk lalu melambaikan tangan padanya dan segera berjalan. Maaf Alshaf, aku masih belum bisa berbagi semua tentang hidupku dengan kamu.
...****************...
__ADS_1