
...****************...
Merindukan seseorang yang sudah berbeda dunia adalah hal yang paling menyakitkan bagi aku. Aku sudah pernah merasakan berpisah dengan papah saat beliau ke Indonesia bagian Timur, kala itu aku hanya menangis sesaat dan kembali bahagia saat papah menelepon.
Lalu, aku pernah ditinggal juga oleh abang untuk jangka waktu yang lama dan dia akan tetap kembali kerumah, membuat rindu yang membuncah ter bayarkan dengan sebuah pelukan yang abang beri.
Namun ... saat kedua mata seorang Nada kecil, melihat mamah tertidur lelap di ranjang tidurnya dengan keadaan muka pucat dan tubuh dingin. Nada kecil itu hanya mengira jika mamah sedang sakit dan memberitahu pada abang lalu setelahnya suara abang menangis menggelegar seisi kamar mamah.
Saat itu pun Nada kecil masih bisa tertawa dengan bahagia bersama sepupunya, sampai dua hari kemudian ... aku mulai merasa rindu akan sosok mamah.
Rindu bercerita, rindu pelukan, rindu segala kasih sayang yang mamah berikan.
“Nad, minum dulu,” Aku menoleh cepat ke samping. Alshaf, lelaki itu lagi-lagi ada saat keadaanku sedang kacau begini.
Sesaat aku lupa sedang berada di dalam mobil milik Alshaf, Karena kembali mengenang kesedihanku. Lelaki itu dengan tatapan khawatir dan tangan terulur tersenyum teduh kepadaku. Kadang aku berpikir, pria ini benar mencintaiku tidak sih? Soalnya dia tidak pernah mengungkapkan secara gamblang akan perasannya itu. Dan hanya melakukan tindakan saja.
“Nad? Kalo mau nangis, nangis aja jangan ditahan. Anggap aku gak ada di sini dan aku pun bakal lupa—“
“Boleh peluk?” Setelah permintaanku itu. Alshaf hanya menatap, membuat aku seketika merutuki mulut yang asal bicara ini. “Maaf-maaf. Sini minumannya.” Ucapku mengalihkan.
Tapi dia bukannya memberikan botol minuman, melainkan menarik aku dan memberi sebuah pelukan ke tubuh hangat ini. Kedua mataku memejam, merasakan kenyamanan yang Alshaf beri. Dia juga seperti biasa memberikan tepukan ringan dipunggungku, membuat aku semakin betah saja ada dalam rengkuhannya.
“Alshaf,” Dia berdehem. “Kangen mamah..” Aku tak tahu kenapa semudah itu mengungkapkan isi hati pada orang yang baru kukenal tidak ada sampai setahun. Mungkin efek sudah nyaman begini kali ya?
Alshaf mungkin tak menjawab tapi dia semakin mendekatkan tubuh kami, walau ada tuas transmisi sebagai penghalang. “Tapi gak bisa ketemu. Sakit banget ... harus tahan kangen gini.” Aku menjeda sebab rasa sesak itu kembali muncul. Jari-jari tanganku memegang erat ujung kaos yang Alshaf pakai. “A-aku...”
“Gak usah dilanjut, aku paham.” Usapan lembut Alshaf naik ke uraian rambutku. “Boleh nangis, kalo ditahan gitu nanti kamu makin sakit.” Bisiknya yang memecahkan langsung tangisku.
__ADS_1
Aku meraung dan bersembunyi di ceruk lehernya. Semakin mengeratkan pelukan kami, hingga hal di luar nalarku terjadi. Aku naik ke pangkuannya. Aku yakin Alshaf pun terkejut, karena saat aku mengangkat kakiku sendiri ke pahanya dia tersentak namun hanya untuk beberapa detik. Sebab selanjutnya Alshaf membantu posisi agar aku nyaman.
Setelahnya hanya terdengar suara aku menangis di dalam mobil. Tidak ada orang yang menghakimi karena kesedihanku seperti yang biasa dilakukan Zafa saat aku mengeluh. Tidak ada orang yang menyuruhku berhenti mengeluarkan air mata , tidak ada pula ... orang yang memaksaku untuk bercerita.
Orang ini. Orang yang tengah aku peluk tubuhnya adalah ... orang yang aku butuhkan selama ini. “Alshaf,” Lirih yang aku paham dia dengar. “Stay with me, please ... jangan pergi kemana-mana lagi.” Pintaku walau tak paham sendiri dengan kata ‘lagi’.
“Of course. I’m here for you,” Jawab Alshaf sembari mencium pundakku sekilas. “Aku akan selalu ada di mana pun kamu berada. Don’t worry, Mrs. Cute.”
Setelah mendengar perkataannya aku malah makin menangis. Tapi jiwaku menjadi lebih tenang. Tenang kalo Alshafku tak akan pergi meninggalkan aku sendirian seperti apa yang Zafa lakukan padaku dulu. “I love you.” Ucapku dalam hati.
Mana berani aku langsung terus terang padanya!
...
Buk
Huft, ternyata menangis menguras banyak tenagaku.
“Pelan aja,”
“Hm?” Aku tatap Alshaf yang sedang membersihkan noda saus dipinggir bibirku. “Tenang aelah, ini makanan gak akan lari kemana-kemana.” Katanya dengan terkekeh.
Aku mengangguk kaku. Lalu sadar telah berperilaku tak sopan. Padahal semua makanannya dibayar Alshaf. Tapi malah aku habiskan setengah dari semua pesanan.
Masih kikuk aku simpan sisa burger ke tempatnya lalu tersenyum tak enak pada pria itu yang terlihat santai-santai saja. “Sekarang giliran lo makan, gue udah kenyang kok. Maaf ... agak maruk,” Ujarku sembari menggaruk kepala yang tak gatal.
“Gak konsisten amat,”
__ADS_1
“Hah, gimana?”
“Di mobil aja aku kamu, sekarang kembali ke setelan pabrik.” Aku hampir tertawa mendengar jawabannya yang lebih ke cibiran. Apalagi saat Alshaf memakan cepat setengah burger bekasku.
Sembari memerhatikan sang puan makan, aku bersandar ke punggung sofa dengan minuman cola ditangan. “Mamah meninggal, waktu aku umur 6 atau 7 ... aku lupa lagi sih, tapi aku masih ingat waktu itu, mamah pamit mau tidur siang doang. Eh taunya waktu aku samper udah gak ada,” Aku tertawa sumbang. Sekarang aku malah mengalih tatap ke arah televisi yang mati, karena tak kuat melihat kedua mata Alshaf yang fokus kepadaku. “Perginya mamah buat semua jadi rumit Al. Dari papah sama abang yang sering berantem cuman karena perkara kecil, papah yang makin jarang pulang ke rumah dan abang juga malah ikut-ikutan sok sibuk sama kuliahnya. Dan ya ... Nada kecil yang waktu itu cuman butuh disayang ngerengek ke papah terus minta mamah baru buat main...”
Aku memilin jari-jariku. Mengenang masa-masa penyesalan itu sangat sulit. “Iya, aku tahu bego. Harusnya aku gak minta hal kaya gitu, tapi papah beneran bawa seorang mamah baru buat aku yang sekarang aku panggil bunda,” Tangan Alshaf mengelus pundakku. Membuat aku tersenyum. Tak salah menceritakan hal ini padanya. “Dan kamu tahu? Waktu itu abang marah besar. Dia juga bilang kalo bunda adalah orang ketiga dari pernikahan papah sama mamah. Aku awalnya gak peduli, sampai waktu aku masuk SMP, banyak hal-hal baru yang aku temui. Sampai akhirnya aku juga jadi ikut benci sama bunda. Ya karena ... tuduhan abang itu terbukti benar.”
Aku langsung meminum habis air cola ini. Hingga dinginnya dapat menyegarkan tenggorokan yang kering. “Ceritanya gitu aja sih. Tapi ... ini aneh gak sih Al?”
“Aneh gimana? Kalo kamu benci sama bunda kamu itu—“
“Bukan-bukan, ini kejadian waktu di tempat rahasia tadi. Jadi akutuh bisa sampai kaget bahkan harus kamu gendong ke mobil, karena lihat wajah mbak-mbak pegawai kentangnya, punya muka yang mirip semirip-miripnya sama mamah!” Ucapku menggebu-gebu. “Serius deh, aku pengen pastiin sekali lagi apa yang dilihat akutuh bener atau gak,”
“Mau besok aku ajak ke sana lagi?” Tanyanya, yakin. “Tapi buat pertanyaan kamu yang aneh atau gak. Menurut aku gak aneh, malahan wajar loh. Aku aja pernah ketemu sama orang yang mukanya mirip aku.”
“Wah, wah! Pasti lebih cakep yang itu kan?”
Alshaf mendengus tak suka. “Apaan dah. Back to topic aja,” Aku menekan-nekan lengan berototnya dengan meledek. “Jealous ya lo? Aduh, gue dicemburuin artis nih. Wajar sih, gue kan emang cantik—“
“Udah sadar kamu cantik. Tapi kenapa masih gamon sama mantan?”
Jleb
Ini aku harus menjawab bagaimana ya? Aku juga tak paham sih, akan perasaanku sendiri.
...****************...
__ADS_1