Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Pertemuan tak terencana


__ADS_3

...****************...


Satu hal yang belum aku beritahu kepada orang-orang tentang hubungan pacaran aku dan Zafa. Mungkin, hanya tuhan dan hingga mati pun aku tak akan memberitahu pada siapa pun. Sebenarnya hanya tentang, Zafa yang selalu mencekikku kala dia sedang ada masalah dengan ayahnya, Zafa yang menampar bolak-balik pipiku kala aku selalu menebar senyum kepada orang yang kukenal dijalan, dan, Zafa yang .... memecutkan sabuk di seluruh tubuh dengan alasan dia marah kalo aku bertanya kenapa ia selalu mengingkari janji. Ya, hal-hal yang menurut orang sepele tapi tidak bagi Zafa.


Setiap tangan Zafa berhasil memberi bekas biru di tubuh rengkuh ini, aku akan menghilang dari kadar keluarga, dan kegiatan sehari-hariku. Aku akan menunggu bekasnya lenyap, walau sakit dihatiku tak pernah hilang seinti pun, bahkan hingga detik ini.


Jika ditanya apa alasan tak meninggalkan Zafa dan melaporkannya ke pihak berwajib. Aku akan dengan santai menjawab, “Aku sayang dia, dan Zafa pun sama. Dia pukul aku hanya karena emosi sesaat.” Yah. Sebodoh itu aku dulu.


“Bun, jangan diperpanjang. Sekarang aku baik, kejadian tampar itu juga udah dua bulan berlalu,”


“Nada, tolong ya, laporkan aja si Zebra itu supaya dapat hukuman terus....”


“Terus dipenjara? Dan buat istrinya jadi janda? Gak bun. Nada gak mau jadi jahat juga buat orang lain. Sekarang, Nada cuman mau tulis lagu lagi, dan hidup lebih tenang.” Inginku, dari beberapa tahun lalu tapi baru terwujud sekarang.


Sepertinya bunda juga sadar atau sudah lelah menasihatiku atas perkara yang sama, jadi dia mengangguk dan menasihati beberapa hal lalu pamit pulang kerumah.


Meninggalkan aku sendiri di apartemen pemberian papah kala ulang tahun ke-17.


Apartemen yang hanya berisi satu kamar dengan balkon yang memperlihatkan langsung pemandangan ibukota, lalu kala keluar dari kamar akan ada ruangan yang kurombak menjadi tempat menonton tv, bersantai sekaligus menerima tamu.


Begitu mini malis tapi aku nyaman. Aku menghela nafas lalu bersandar ke sofa, lelah sekali dua hari ini bolak-balik rumah bunda untuk memindahkan barang-barangku yang ada disana. Belum lagi, harus menjelaskan tentang Zafa ke papah, dan abang.


Jika dihitung kembali, kejadian aku ditarik-tarik keluar rumah lalu ditampar oleh lelaki itu sudah 7 pekan berlalu. Bersamaan juga, dengan hilangnya pria berhoodie yang menenangkan aku agar tak takut. Kata-katanya juga benar, ucap bunda, setelah aku tertidur pulas, pria itu langsung memukul Zafa habis-habisan hingga saat aku bangun di keesokan paginya, Zafa telah terbaring lemah dirumah sakit setelah melakukan operasi.


Benar-benar terkejut.


Teng Tong .... Teng Tong ...


Meski enggan dan bingung akan siapa tamu di siang-siang bolong begini, aku tetap melangkah dan membukakan pintu apartemen.


“Nada cantik, you okay?” Suara cempreng segera menggema dalam ruangan. “Apa-apa aja yang sakit, sini bilang. Biar aku oba—“


“Ibu manajer, i’m fine. Sini masuk.”


Eca diam sesaat lalu bergerak mengikutiku masuk kedalam. Kulihat ekspresinya bingung dan menahan tawa. “Kenapa?” tanya aku.

__ADS_1


“Gak. Cuman, agak aneh aja liat gimana desain apart kamu yang baru ini. Kaya .... bukan Nada banget.”


Pernyataan itu aku benarkan dalam hati. Jika dibandingkan dengan tempat tinggalku di luar negeri sana, apartemen ini begitu adem. Tempatnya tertata rapi. Dan nyaman.


Huh, namun kalo melihat ke apartemen sebelumnya, di sudut ruang hanya warna gelap yang dipandang, belum lagi barang-barang yang sering kali ku simpan asal, ditambah aku selalu mematikan lampu saat siang ataupun malam, yang menambah kesan ‘ini bukan tempat tinggal manusia’.


“Gimana nih kabarnya setelah berbulan-bulan gak balas atau angkat teleponku?” pertanyaan yang lebih ke sindiran halus untukku. Aku menanggapinya dengan tersenyum dan menerawang ke jendela. “Baik banget. Kuping aku jadi damai gak dengar suara cerewet lagi,”


Eca terlihat menggeram kesal, dia melempar sebuah satu map kearah ku. “Apaan?”


“Surat kontrak kamu sama penyanyi yang lagi naik daun di Indonesia. Aku terima-terima aja.”


“Yah, kok Eca gitu?” Melasku. “Aku kan mau healing dulu ke Bali lah atau traveling ke seluruh Indonesia!” Ya, itu rencanaku beberapa hari lalu dan sudah kusiapkan list nya.


“Nanti lagi aja. Sekarang cari cuan dulu yang banyak,” Balasnya yang terdengar menyebalkan sekali di telingaku.


Baru saja, aku mau beranjak masuk ke kamar, Eca lebih cepat menahan, dan malah menyeretku ke gantungan yang terpasang jaket. “Ca, kenap—“


“Pakai, kita mau ketemu manajer artis itu sekarang di bawah.”


“Ha?” Gila. Eca ini telah bekerja begitu lama denganku. Aku tahu dia adalah wanita tergila dan terfreak tapi belum tahu jika Eca memang segila ini. Sudah membuatku harus kembali bekerja, dan siang ini tiba-tiba menarikku keluar dari pintu apartemen. Lalu mendorong masuk kedalam lift.


Aku mendelik dan menginjak kaki Eca yang hanya terbalut sandal. Bukannya mengerang sakit, Eca malah menjulurkan lidahnya dengan muka paling konyol dan ingin ku bogem.


“Nyebelin!” Aku langsung arahkan pandangan ke depan saja, melihat Eca tengah fokus memainkan ponselnya.


Sebab unitku hampir berada di lantai tertinggi, waktu untuk turun ke bawah menjadi lama. Aku menghirup oksigen banyak-banyak. Eits, tunggu. Wangi parfum maskulin ini seperti milik....


Aku menoleh ke pria yang tadi masuk bersama. Sialan, aku tak bisa melihat wajahnya karena dia yang memakai masker dan kupluk dari hoodie navy yang tengah membalut tubuh atletiknya.


Namun aku yakin sekali, meski telah berminggu-minggu berlalu, wangi parfum ini milik lelaki misterius yang selalu menenangkan ku. Kenapa ku sebut misterius, karena saat aku bertanya siapa dia bahkan sampai memaksa pada bunda, sifa, dan abang karena ada disana saat kejadian perkelahian antara pria itu dengan Zafa. Mereka tak ada yang mau membuka mulut, membuat aku kesal setengah mati.


Ting


Itu suara lift terbuka, namun karena ada yang masuk bukan sebab aku yang keluar. Kulihat informasi lantainya, ternyata ada di lantai 10.

__ADS_1


“Misi, misi.” Kata beberapa orang, yang ternyata hampir banyak yang akan naik lift. Aku menyingkir, saat tubuh sedikit berisiku akan terdorong ke belakang, sebuah tangan menahan, dan menggeserku berdiri di hadapannya. Pria tadi!


Aku menahan nafas beberapa saat, kala sadar jarak kami berdua begitu dekat. Kesal, kesal kenapa tinggiku harus sepantar bahu pria bermasker ini.


Ting


Nah, barulah ini giliranku. Aku tanpa berterima kasih atau menatap ke belakang langsung mengeluarkan diri dari ruang sempit akan orang itu. Diikuti Eca, langkah kakiku menginjaki restoran yang ada di apartemen yang konon katanya hanya orang yang memiliki koneksi saja yang bisa menempati salah satu unitnya.


“Hey, Zaki!” sapaan dari Eca, mengalihkan tatapku. Oh, ternyata pria dengan headphone ditelinga dan duduk di pojok kanan berdekatan dengan jendela adalah manajer dari penyanyi yang akan kutulis lagunya.


Aku tersenyum, saat lelaki bernama Zaki itu menyapaku. Dengan pelan kugeser kursi hingga aku bisa menduduki bokongku disana.


“Saya Zaki manajer dari penyanyi Alshaf Moereto, salam kenal. Dengar-dengar, anda suka green tea?”


“Nada, salam kenal juga. Buat pertanyaan tadi, iya aku suka green tea,” Setelah jawaban itu, Zaki menyodorkan gelas berbentuk lonjong ke hadapanku. “Ini, sebagai pengenalan patrner kerja yang baik.” Ternyata, isi gelas itu green tea.


Aku meminumnya, salah satu tanda menghargai effort nya karena mengetahui minuman kesukaan yang jarang sekali orang terdekatku tahu.


“Zaki, mana penyanyi lo? Katanya mau datang,” Sedikit terkejut, mendengar Eca menggunakan kosakata lo-gua. Dia biasanya sangat-sangat enggan jika kuajak memakai kata gaul itu, tapi tiba-tiba saja berucap sesantai itu.


Tangan Zaki menunjuk ke belakang tubuhku. “Tuh anaknya.”


“Oh, dia tadi satu lift sama gue!” tepatnya setelah selesai ucapan Eca. Acara meminum Green tea ikut berhenti.


“Siang, semua.”


Awalnya aku tak peduli. Hal seperti ini sudah biasa aku lakukan, berteman dengan semua penyanyi yang akan kutulis lagunya. Lalu kami berdua bertemu, itu sudah biasa dan camkan! Aku tidak pernah merasa tertarik akan penyanyi yang memakai jasaku!


Tapi. Pengecualian, kali ini. Aku melanggar prinsipku. Di memori aku merasa pernah mendengar nama Alshaf namun entah kapan dan di mana. Sebab penasaran ku putar kepala ke arah suara pria yang bernama Alshaf itu.


Bola mataku rasanya akan keluar detik ini juga! Kulit wajah terasa memerah dan menghangat seketika. Apalagi kala lelaki itu membuka masker dan kupluk hoodienya. Membuat rambut pirang itu terlihat jelas. Aku, sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan saat dia mengambil tempat duduk di samping kananku yang kosong, ruh ku seakan enggan kembali sadar.


Jadi, lelaki yang ku peluk kala hujan, lelaki yang menggendong ku hingga sofa ruang tamu, lalu lelaki yang menarikku dari desakan orang di lift tadi, adalah ... Alshaf Moereto. Pria yang akan kutulis lagunya, bersama kontrak yang telah ditanda tangani dan akan mengikat hubungan kami sampai beberapa bulan kedepan. Yang artinya aku akan bertemu orang ini hampir setiap saat.


“Hello, Mrs. Cute,” Panggilnya tiba-tiba. “We meet, again. Senang, bisa bekerja sama dengan kamu.”

__ADS_1


Aku membalasnya dengan terkekeh. "Iya, gue yang gak senangnya, bro." batin hati menjerit besar.


...****************...


__ADS_2