Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Dua tujuh


__ADS_3

...****************...


Wajah Nada sudah menghilang dibalik layar laptop. Perlahan senyum Alshaf ikut melenyap. Dia membalikkan kursi gaming nya dan menghidupkan lampu tamaram. Langkahnya berjalan menghampiri sebuah ruangan yang di desain mirip seperti dinding. Namun nyatanya saat didorong, dinding itu adalah sebuah pintu.


Kaki Alshaf masuk ke sana. Dia kembali menghidupkan lampu, hingga terang menerpa matanya.


Benda-benda tajam serta tembakan dan setelan pakaian hitam tersimpan rapi dibalik lemari kaca. Sayang, tujuannya kemari kali ini bukan untuk menyentuh barang-barang di sana. Melainkan, melihat apa yang sedang dilakukan gadisnya.


10 layar monitor terpasang di sudut ruangan. Setiap monitor menampilkan satu objek. Nada Jasila. Mulut Alshaf terkekeh, mendapati Nada yang mengomel di depan cerminnya sendiri sembari membersihkan lipstik yang menghiasi bibir gadis itu. "Gila, aku bisa gila lama-lama mencintai wanitaku." Sungut Alshaf dengan tangan yang bertumpu di meja.


Mengingat kembali tujuannya kemari apa. Jari-jari Alshaf menekan-nekan keyboard dan menuliskan waktu tertentu.


Lalu video di monitor berputar mundur hingga menampilkan kembali wujud Nada yang sedang fokus melihat laptop. Dia tengah mencari di internet tentang keluarganya.


Meski mata masih menatap monitor, tangan Alshaf sibuk memanggil orang kepercayaan di telepon genggam miliknya.


"Ada apa, pak Alshaf?"


"Saya ingin tahu. Apa semua kekacauan yang keluarga saya buat telah dibersihkan?"


"Tentu sudah."


"Kalo begitu saya mau anda dan semua anggota lebih ketat melindungi Nada Jasila. Tetap dari kejauhan dan jangan sampai dia merasa terganggu. Paham?"


"Paham."


Alshaf berlaru ke papan yang berisi foto-foto manusia yang dulunya ia cari untuk dibunuh. "Oh iya, si Azri tidak membuat keributan kan? kalo dia kembali ribut penjarakan saja di ruang bawah tanah."


"Tidak pak. Tetapi...,"


"Apa?" Kedua alis Alshaf sudah menukik sempurna. "Azri bertemu dengan nona Nada seminggu lalu di lobi apartemen. Maaf karena baru memberitahu hal sepenting ini pada bapak."


"Sialan! Anda ingin saya beri hukuman apa untuk ini? Jari kanan atau kiri atau ... kedua mata anda saja? Saya siap membuatnya hilang saat ini juga, Razay." Balas Alshaf dengan urat-urat di leher dan tangannya yang perlahan menonjol. Memperlihatkan semarah apa ia saat mendengar informasi dari Razay.


"Saya siap menerima semua hukuman."

__ADS_1


"Saya juga dengan lapang dada akan melakukan hukuman itu secepat mungkin Razay. Tapi beritahu, apa saja yang mereka bicarakan?"


"...."


....


Hari ini sesuai janji, Alshaf dan Nada pergi ke rumah seseorang yang tak Nada ketahui siapa. Dia memakai dress simpel dengan rambut yang di kepang satu. Sedangkan Alshaf. Seperti biasa, t-shirt dan celana chino.


Mobil telah melewati perkotaan. Sekarang pemandangan diluar jendela berubah menjadi perpohonan dan beberapa bukit yang terlihat dekat namun aslinya jauh.


"Emang rumah teman kamu ada yang di daerah desa gitu ya?" Tanya Nada melirik sekilas Alshaf lalu kembali menatap ke luar. "Bukan teman."


"Loh, terus siapa dong ...." Mengingat suatu hal, mata Nada membulat sempurna. "Alshaf jangan bilang, rumah orang tua kamu?"


"Seratus! Tebakan kamu benar." Begitu santai Alshaf menjawabnya. Berbeda dengan Nada yang langsung panik.


"Ah aelah Al! Aku tuh salah kostum tau gak?? Terus ini make up nya terlalu natural, ini juga ngapain aku pakai acara rambut di kepang--"


Tangan kiri Alshaf menghentikkan Jari Nada yang mau membuka ikatan kepangnya. "Udah cantik gini. Mereka juga gak akan peduli-peduli amat sama penampilan, Nad." Ujar Alshaf.


"Hei Nad?"


"Eh udah sampai ya." Tanpa melihat tatapan aneh Alshaf. Nada segera keluar dari mobil dengan pintu yang telah Alshaf bukakan.


"Cantik." Pujian itu ditujukan untuk Bangunan yang menjadi tempat kedua orang tua Alshaf tinggal. Tidak seperti rumah hantu menyeramkan, yang ini malah asri dengan tumbuhan-tumbuhan dan bunga yang ditempatkan dihalaman depan rumah. Mereka merawat semua makhluk hidup dengan begitu baik.


Tanpa disuruh, Nada langkahkan kakinya mendekat pada hewan kelinci yang tengah memakan wortel. Kelinci putih itu bersembunyi diantara daun-daun hijau yang tumbuh. Alshaf terkekeh dibelakangnya. Dia mengikuti Nada lalu ikut berjongkok disamping perempuan itu.


"Namanya Ois,"


"Ois? Cewek atau cowok?"


"Betina."


Nada tertawa kikuk. "Hehe iya, betina maksud aku."

__ADS_1


Keduanya hanyut melihat cara kelinci itu makan. Hingga tak sadar, ada sepasang suami istri yang sedang memperhatikan keduanya dari balkon lantai dua. "Dia wanitanya?"


"Iya. Sepertinya golongan darahnya A dan yang pasti ... Manis."


Sang pria menoleh. "Kita diijinkan untuk mencobanya?"


Wanita yang berperan sebagai istri menggeleng. "Sebelum mencoba, anakmu itu akan lebih dulu membunuh kita Gre. Lalu dia akan memberikan daging keriput ini kepada hewan-hewan di hutan sana."


Keduanya lantas tertawa kencang. Menganggu ketenangan Nada dan Alshaf. Sepasang manusia itu melihat keatas dan seketika mampu membuat Nada langsung berdiri. "Halo." Sapat Nada begitu canggung.


...****************...


Tuk ... Tuk ... Tuk ...


Seiring suara pisau itu terdengar, jantung Nada berdegup lebih cepat tiap detiknya. Dia hanya mampu berdiri dan menatap tangan Hasna, sang ibunda Alshaf yang begitu lihai memotong sayuran untuk dijadikan sup.


Keduanya sedang di dapur. Alshaf dan ayahnya ada di ruang tengah sana.


"Nama kamu siapa? Saya lupa tadi,"


"Nada tante."


"Sepertinya kamu rajin olahraga ya?" tanya kembali Hasna.


"Ah iya. kalo lagi senggang hampir tiap hari,"


"Pantas bagus. Sepertinya daging kamu juga enak." ucapan tiba-tiba Hasna langsung membuat kaki Nada bergetar. Dia tak bohong. Ini lemas luar biasa. Bahkan sekarang kedua tangannya memegang meja untuk menopang berat tubuh.


Hasna berbalik, dengan pisau ditangannya. "Ya Tuhan, Ya Tuhan. Dia mau bunuh gue kah?" batin Nada semakin menjerit tatkala pisau itu dijulurkan kearahnya oleh Hasna. Dengan senyum yang menurut Nada mengerikan Hasna lebih mendekat pada tubuhnya. "Kamu udah tahu ya?"


"Ta-tau apa tante?" Sialan! Kenapa nada bicaranya menjadi gagu begini?


"Oh enggak, ini ...." Hasna menggantung kalimatnya dan membawa telapak tangan Nada untuk memegang pisau. "Giliran kamu, tolong potong bawang daunnya ya. Saya ke luar dulu." lanjut Hasna.


Nada pikir, setelahnya tak ada lagi yang akan diucapkan Hasna. Namun wanita berumur yang masih terlihat muda itu berbisik ke telinganya. "Santai, saya gak ada niatan makan daging menantu sendiri kok ...." Ujar yang diakhiri dengan tepukan beberapa kali di pundak Nada. Yang sudah lemas seperti tak mempunyai tulang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2