
...****************...
“Alshaf Moereto!”
Tidak, tidak. Dia menguraikan pelukan kami berdua dan menoleh cepat ke asal suara Zaki yang memanggil. Aku baru sadar, detik ini seluruh tatap pengunjung cafe melihat fokus ke arah kami, ralat tepatnya ke Alshaf. Kepalaku menunduk malu, Bego! Gue baru inget ini cafe bisa dikunjungi sama semua orang.
“Damn.” Umpat yang aku dengar dari orang di depanku. “Nad, aku ijin pegang tangan kamu ya?” kepala yang tadi menatap ke bawah sekarang mengangkat sempurna. Dengan ragu aku mengangguk. Seperkian detik berikutnya, aku terkejut sebab Alshaf menarik lenganku dengan berlari kencang seperti dikejar penagih hutang lalu turun melewati tangga darurat.
Dia menghentikan lariannya kala kami sepertinya sudah ada dilantai dasar.
“Gila,” Aku mengumpat kepada Alshaf yang tengah mengatur nafasnya. Lelaki tak jelas itu malah terkekeh sembari tangannya terulur mengusap keringat yang berada di keningku. “Maaf, bikin capek gini.” Ucapnya.
Aku menyentak lengan Alshaf. “Lagian kenapa sih tiba-tiba ajak lari?” Sungutku yang masih tak terima harus diajak berolahraga di siang-siang bolong begini.
“Gak kenapa-kenapa, refleks doang.”
What the hell! Hanya sebuah refleks katanya? Dia sudah membuang banyak tenagaku, membuang jam makan siangku. Cih rasa ingin menerkam tubuh Aslhaf semakin membara saja. “Lo tuh sin—“
“Cabut ke tempat makan rahasia aku, ayo!" Ucapnya memotong kalimat yang belum aku tuntaskan. Lagi-lagi si penyanyi papan atas itu menarik lenganku. Kali ini kami mengambil langkah menuju gedung serbaguna.
Aku mengernyit heran, memangnya ada yang menjual makanan di sini?
Pertanyaan dibenaku belum terjawab, tapi Alshaf membuat aku kembali terheran-heran. “Al, masa kita mau tembus tembok?” Ujarku padanya.
Dia hanya diam tapi Jari-jarinya bergerak liar di tembok samping tanaman hias yang berdiri di dekat pintu masuk bangunan serbaguna itu. Mulutku membuka sempurna, saat dinding-dinding tersebut bergeser, hingga terpampanglah sebuah lorong tidak sempit yang minim akan cahaya.
“Jangan nganga gitu,” Aku langsung menabok pundaknya. “Mau ke dalam gak nih?” Tanya dia setelah mengaduh dibuat-buat.
“Mau. Kalo lo aneh-aneh gue udah bawa bubuk cabe. Tinggal gue semprot ke mata lo itu!” Wanti-wanti ku padanya yang terkejut bukan main.
“Camn down girl. Aku juga gak mau aneh-aneh ke kamu.” Dia tidak berujar dengan suara besar, melainkan berbisik tepat dibelakang telinga kiri. Hal yang mampu menggelitikkan leherku.
Kali ini sang adam mengaitkan jari-jari kami. Dia memimpin jalan seperti biasa, hingga aku dapat melihat pemandangan punggung tegap yang terbalut kemeja. Aku yakin pria ini sering melakukan gym setidaknya setiap pagi dalam seminggu.
Duk
Tak sengaja aku menendang sepatunya. Alshaf terkikik saja, tapi aku mendengus sebal. Dia berhenti tanpa berucap untung saja aku tak ikut tersandung—“Wow,” Ini berlebihan tidak sih? Saat aku tadi sedang mendumel dalam hati kedua penglihatan miliku terpaku pada pemandangan di hadapan sana.
Di belokan lorong minim cahaya ada tempat tersembunyi.
Ada tangga dengan anak tangga menurun, disisi-sisi dindingnya ditumbuhi bunga merambat berwarna merah muda, lalu diberi lampu yang terang seperti cahaya matahari. Aku benar-benar dibuat takjub dengan tempat rahasia dibalik gedung perusahaan musik terkenal ini.
“Ini fasilitas yang perusahaan kasih buat artis-artis yang punya kontrak sama perusahaan. Sengaja dibuat, supaya artis mereka gak stres gara-gara wartawan atau netizen yang mau tahu sama kehidupan kita.” Jelasnya. Aku mengangguk paham.
Setelah dipikir-pikir Perusahaan musik yang bernama ELVE ini sangat-sangat memuliakan orang-orang yang mau bekerja sama dengan mereka. “Enak juga jadi artis di sini.” Lirihku.
__ADS_1
Aku menoleh heran kearah Alshaf yang terkekeh. “Kenapa?” Dia menggiringku untuk tetap berjalan. “Masuk ke perusahaan ini dan jadi artis gak gampang, banyak bakat yang harus kita punya supaya buat saham perusahaan naik. Ada perjanjian yang harus dipenuhi selesai tanda tangan kontrak,” Aku masih memandang pahatan wajah Alsjaf dari samping sini. “Jadi menurut aku, semua yang kita dapat sebagai artis sekarang seimbang lah sama perjuangan yang ditempuh.”
Dalam diam aku membenarkan kata-katanya. Mungkin bukan aku yang relate akan susahnya masuk ke perusahaan ELVE tapi pernah sekali aku diceritakan Finka tentang ia yang berjuang selama beberapa tahun agar bisa bekerja diperusahaan impiannya membuat aku paham sesusah apa itu.
Dengan pelan aku tepuk beberapa kali pundaknya. “I’m proud of you, good job boy!” Kata-kata semangat yang malah dibalas anggukan olehnya. Aku mendelik, tak berapa lama aku dan Alshaf dapat menemukan beberapa bangunan berdampingan yang menjual berbagai makanan.
Ruangan ini mirip 11 12 dengan stand makanan di festival atau mall. Bedanya mungkin ini lebih elite. Lalu saat kepalaku memerhatikan sekitar, aku dapat menemukan wajah beberapa artis yang kukenal. Ikut senang rasanya melihat jati diri mereka sesungguhnya tanpa harus berbohong di depan publik.
“Nad, ayo,” Aku menahan dulu Alshaf. “Kemana?” Dia menunjuk menggunakan dagunya kearah meja kosong, yang di sebelahnya diduduki oleh seorang penyanyi yang kala itu berbicara berdua dengan Alshaf.
Sepanjang jalan menuju meja itu, aku perhatikan sekitar. Baru kusadari ternyata disini bukan hanya menjual makanan saja, namun ada juga toko pakaian brand ternama. Seperti, Louis Vuitton, Gucci, Dior, H&M— “Eh,” Aku terkejut, tiba-tiba tangan Alshaf memeluk pinggangku.
“Tadi kamu mau ke tabrak.” Jawabnya dan melepaskan pelukan pinggang itu.
Tak terasa kami telah sampai di meja, Alshaf lebih dulu duduk dan memundurkan kursi berbusa agar mudah aku duduki.
“Bro! Dari mana aja lu kemarin? Gue tunggu di studio rekaman kagak dateng-dateng.” Sapa sang teman penyanyi lelaki Alshaf.
Kulihat mereka langsung melakukan tos ala laki-laki. “Di apart lah gue, males bener harus kerja.” Balasan Alshaf benar-benar mengingatkan aku akan ke kejadian ribut dengan Zafa dan Nela. Apa kabar ya mereka?
“Siapa cewek bareng lo? Artis baru?” Meskipun pertanyaan itu ditujukan sebagai sebuah bisikan tapi kedua telingaku sangat mendengar jelas apa tanyanya.
Aku tatap Alshaf. Melihat apa yang akan ia jawab. “Bukanlah,”
“Terus siapa lo?”
Tatapan teman lelaki Alshaf langsung mengarah ke arahku. “Lo kayanya seumuran sama gua. Gua Kafi, lo?”
“Nada.”
“Widih, lo bisa aja bro cari penulis lagu yang bening gini!” Katanya sembari menyenggol lengan Alshaf. Sedang Alshaf mendengus tak suka, dan berfokus kembali kepadaku. “Mau makan apa? Biar aku beli,”
“Bareng aja gimana?” Usulku.
“Gak usah, Antri nanti capek. Menunya disamain sama aku aja ya.” Dia langsung bangkit dari duduknya. “Kaf, jaga bentar.” Titahnya pada Kafi sebelum angkat kaki ke bangunan yang entah menjual makanan apa.
Tinggallah kami berdua di meja ini.
“Nadi eh maksud gua Nada. lo tahu gak?”
Aku menggeleng. Tiba-tiba Kafi mendekatkan wajahnya membuat aku mundur seketika. “Harusnya selain artis gak boleh ada yang kesini, kecuali yang kerja di toko sini sih. Itu pun udah ada ijin dari perusahaan,” Dia sepertinya sadar terlalu dekat dan kembali duduk seperti semula di depanku. “Si Alshaf bakal kena sanksi kalo ketahuan bawa lo kemari.”
“Maksud lo ... gue harusnya gak tahu tempat ini?”
“Emang udah seharusnya gitu.” Setelahnya hanya ada hening antara kami berdua.
__ADS_1
Dengan aku yang berfikir tentang perkataan Kafi tadi akan sanksi apa yang akan diterima Alshaf nantinya, jika ketahuan membawa aku ke tempat ini. Jika ... Kafi sendiri sedang fokus memainkan Spinner dijari-jari bercincinnya.
“By, dengerin aku dulu dong ... Aku sama Claudia kan cuman akting doang,” Suara melas seorang pria yang lewat meja kami, mengalihkan lamunanku. “Aku cinta kamu selalu." Ujarnya kembali. Lalu kedua orang lelaki itu melakukan kissing dan berlaru pergi.
Meninggalkan aku yang mematung tak percaya. Bukan, bukan tentang jenisnya saja tapi ... pria yang tadi mengatakan cintanya adalah seorang aktor yang tampan dan sudah memiliki tunangan. Mereka juga katanya akan menikah 2 minggu lagi.
“Itu salah satu alasan kenapa orang asing gak boleh ada di sini, Nad.” Kata Kafi dengan tatapan mengikuti punggung kedua orang lelaki tadi. “Si Alex cuman sandiwara doang mau nikah, nutupin kelainan seksual dia yang suka sesama batang.” Aku nyaris tertawa saat mimik wajah Kafi berubah jengkel di akhir kalimatnya. “Jijik sih gua kadang, liat publik figur yang beda begitu. Tapi ya gimana, gua juga sama kaya mereka.”
“Aneh lo! julid ke mereka padahal lo sendiri gitu.” Ujarku yang langsung disambut tawa oleh sang puan. “Udah ah, Kaf! Gue mau jajan kentang. Kalo ada Alshaf suruh tunggu di sini bentar.” Melihat anggukannya aku bangkit dan berjalan ke bangunan yang dipasang gambar kentang goreng besar diatas tulisan nama kedainya.
Dalam hati, aku sudah mencantumkan akan memesan apa jika telah sampai di depan penjual toko itu. French fried jagung manis! Hahahaha aku sungguh-sungguh tak sabar untuk memakannya.
“Anda harusnya pelan saat berjalan. Lihat! Kaos limited edition yang saya beli di Paris kemarin, sekarang kotor semua gara-gara minuman yang anda bawa!”
“Maaf ... saya akan meminta bos saya untuk memotong gaji milik saya. Saya janji akan mengganti walau setengah harganya,”
“Seperempat nya kali. Saya tahu gajih waiters tak sebesar itu.”
“Iya, saya sekali lagi meminta maaf. Saya akan ganti dengan—“
“Halah! Udah lah, saya masih mampu beli lagi.”
Pertengkaran di sampingku menjadi latar suara aku mengantre. Lagi-lagi aku melihat bagaimana watak asli dari seorang musisi. Tapi kali ini ... agak berbeda, aku sangat-sangat menyayangkan, karena Afresh—sang musisi— adalah idolaku sejak aku duduk dibangku kuliah. Sudahlah, aku seharusnya hanya mencintai suaranya saja bukan dengan orang yang menyanyikan.
“Halo kak? Kak? Permisi,”
Aku segera tersadar, dan langsung mengucapkan pesananku. Dalam berdirinya tubuhku, kedua mata terus berkeliaran ke sana-kemari, entah mencari apa karena ini hanya sebuah pengalihan agar aku tak bosan menunggu pesanan selesai.
“Mbak vi pulang aja gak apa-apa ... biar Jesi sama Bila yang jaga,”
“Santai Jes, aku masih kuat kok. Tadi cuman oleng dikit, makannya gelas sama isi minumannya jatuh.”
Oh, ternyata perempuan yang bermasalah dengan Afresh tadi pegawai kedai kentang ini. Sedari pertengkaran tadi perempuan ini membelakangiku hingga aku tak bisa menebak berapa umurnya.
“Mbak, ayolah—“
Bruk
“Mba Vi!” Melihat perempuan itu tiba-tiba terjatuh pingsan membuat aku jadi ikut melangkah cepat ke tempat sang wanita berdiri yang lumayan dekat denganku.
Aku mengucap syukur, saat kedua tanganku pas menahan tubuhnya yang akan ambruk ke lantai. Tapi. Suara berdengung mengisi indra pendengaranku untuk beberapa detik, kakiku ikut bergetar hingga aku tak mampu menahan bobot tubuh kami berdua.
Teriakan dari pegawai kedai ini juga tak aku hiraukan. Seluruh pikiranku sekarang hanya fokus dengan ... wajah perempuan ini yang betul-betul mirip dengan mamah—sang wanita yang telah lama meninggal. Wanita yang sama yang sudah mengandung serta melahirkan aku ke bumi ini.
“Mamah, ini bukan mamah kan?” lirih yang disusuli tangis tak bersuara.
__ADS_1
...****************...