
...****************...
"Masuk, Nad. Aku jaga dari belakang," Katanya. Aku hanya mendelik kesal. Tak habis pikir dengan jalan pikirannya yang memilih menitipkan mobilnya di parkiran perusahaan, lalu berlari mengejar aku kemari.
Bukan apa-apa ya, aku takutnya dia risih saja naik transportasi umum. Apalagi melihat pakaiannya yang begitu tertutup, pasti akan gerah.
“Nad, ayo.” Bisik Alshaf. Aku pun melangkah masuk dan ternyata tersisa satu kursi lagi yang kosong. Sebelum duduk aku lihat dulu kearah Alshaf. Dia mengangguk lalu menuntunku untuk duduk disana, dengan dia yang berdiri di hadapanku.
Kutatap Alshaf dari bawah sini, dia memakai masker dan topi tadi dengan tambahan hoodie. Posturnya terlihat berbeda dari orang-orang di sampingnya, karena tinggi yang dimiliki Alshaf ini di luar batas pikiranku.
“Permisi, aduh..” Aku lihat seorang ibu hamil yang kesusahan, dengan dermawannya aku suruh sang ibu hamil untuk duduk di kursiku saja. Dan aku berdiri dibantu Alshaf, sehingga kini aku berdiri di hadapannya.
“Kenapa berdiri?” bisiknya dibelakangku. “Mata kamu gak lihat dia lagi hamil?” tunjukku kearah sang wanita di hadapan kami menggunakan dagu. “Gak. Lihat aja nanti.” Aku mendengus. Alshaf tak berperikemanusiaan!
__ADS_1
Kereta berjalan dan sesekali menggoyangkan badan kami, sampai sepertinya aku sedang melamun, dan sentakan yang diberikan mesin kereta lumayan kencang. Hingga membuat aku dan beberapa orang terhuyung ke depan, untungnya tangan Alshaf siap siaga menahan tubuhku. Hingga aku kembali menegak.
Aku menganga tak percaya saat dari dress perempuan hamil yang kuberi kursi tadi. Keluar sebuntal kain yang telah digulung hingga seperti perut seseorang yang tengah mengandung.
Alshaf terkekeh. “Kan, aku bilang apa ... jangan polos-polos banget Nad, takut diculik.” Dengan kesal aku sikut perutnya. Tapi dia malah tertawa lebih kencang.
Melihatnya aku membuang muka, sebal. Tapi tak khayal aku tertawa juga sebab kebodohanku. Sepertinya, aku harus belajar untuk menjadi orang yang lebih pintar dalam menolong orang.
Tak terasa kami telah sampai didaerah dekat Apartemen. Walau berdesak-desakan keluarnya, untuk hari ini aku merasa terlindungi. Sebab ada Alshaf yang sangat menjaga aku dengan begitu baik. Jika seperti kemarin-kemarin, aku akan ikut terdorong kemana-mana oleh orang-orang.
Aku tersenyum menatapnya, mungkin Alshaf sadar akan hal itu, jadi dia ikut menundukkan kepala dan menaikkan salah satu alisnya. Aku menggeleng. Tapi, Alshaf malah melepaskan maskernya lalu bertanya ‘apa’ tanpa suara.
“Gak ih, jalan aja yang bener. Kesandung, mampus!”
__ADS_1
Si Alshaf malah sengaja dan lebih tak memerhatikan jalan. “Gak apa-apa. Kalo aku jatuh nanti aku tarik kamu supaya jatuh bareng, terus nanti bangun rumah tangga bareng-bareng juga ... gimana?” Aku menggigit bibir menahan senyuman hanya karena gombalan recehnya. “Dasar dangdut!” kataku dengan memukul lengan Alshaf.
Karena percakapan singkat kami berdua, langkah kami tak terasa telah bertemu jalanan trotoar ibukota kembali. Dari sini saja sudah terlihat bangunan apartemen yang menjulang tinggi.
Alshaf menatapku sambil berjalan. “Mrs. Cute, maaf buat yang tadi di taman ... aku sama sekali gak ada niatan buat bikin kamu merasa dibohongi atau apalah. Si Kiran udah aku nasihati buat gak gitu lagi ... dia juga janji besok mau minta maaf sama kamu,” Jelasnya sepanjang perjalanan kami. Aku mengangguk saja, telah lupa juga dengan kejadian itu.
Kebiasaan saat jatuh cinta, aku akan lupa dengan segala kesalahannya. Yang terpenting dia masih bersikap baik setelahnya, aku tak apa.
Karena apartemen terletak di sebelah kanan, otomatis kami yang sedang berjalan di kiri dengan jalan raya sebagai penghalang, harus menyeberang.
Aku terkejut, saat tepat berada didepan Zebra cross, Alshaf melepaskan genggaman tangan kami berdua. Dia lebih dulu berjalan ke seberang sana meninggalkan aku yang berdiri di sini.
Lampu hijau bagi pengguna jalan masih hidup. Namun kenapa aku tetap diam?
__ADS_1
“Nada jasila!” Teriak Alshaf dari ujung sana. “Mau jadi wanita saya untuk selamanya?”
...****************...