
...****************...
“Alshaf buka pintu!” Tenggorokanku langsung tersedak karena teriakan dari luar pintu.
Aku begitu panik, hingga hampir meminum teh yang telah bersatu dengan sampah. Tapi untungnya Alshaf sigap memberikan aku air minum polos, alias air putih. Setelah makanan benar-benar surut ke perutku. Aku barulah bisa menghirup nafas yang banyak dan menoleh pada Alshaf. “Al, kok santai sih?!” Sungut yang aku barengi dengan tepukan dibahunya.
“Paling Zaki.” Balasnya singkat lalu berdiri, menghampiri pintu. Aku mendengus. “Tenang aja kali Nad, muka lu udah kaya nahan berak.” Si kafi anjing. Enteng banget ngomongnya.
Bukan apa-apa. Aku hanya belum siap dan belum mau memberi tahu orang-orang tentang hubungan aku dan Alshaf. Apalagi dia seorang publik figur.
“Nada?” Tubuh Zaki sang manajer Alshaf berdiri menjulang di hadapanku. Aku lantas berdiri dan tersenyum. “Iya, apa kabar pak Zaki?”
“Baik. Ada apa nih di studio rekaman? bukannya sudah selesai menulis lirik lagu Alshaf?”
“Iya, aku cuman konfirmasi. Pamit keluar ya pak...” Aku langsung berjalan kearah pintu setelah mengantongi ponsel. “Di sini aja, Zaki juga gak masalah.” Namun Alshaf tak membiarkan hal itu terjadi dan menarik aku untuk kembali duduk. Tak memedulikan tatapan bertanya Zaki.
Aku menghela nafas. Kini posisinya, aku, Alshaf, dan Kafi duduk disofa. Sedang Zaki duduk didepan kami dengan kursi tunggal. Sekarang keadaan jadi canggung untukku.
__ADS_1
“Rileks.” Bisik Alshaf yang langsung aku cubit tangannya.
Aku tersenyum ragu kearah Zaki yang memerhatikan kami. “Aku gak apa-apa dengar pembicaraan kalian?” Ijinku pada Zaki.
“Gak apa-apa Nada. Pembicaraan saya juga akan menyangkut anda.” Aku semakin dibuat tegang saja oleh ujarannya. Dan mungkin ... orang di sebelahku merasakan itu, hingga ia kembali menggenggam tanganku. “Zak, gak usah formal gitu. Cewek gua jadi takut.”
“Al apaan sih..” Cicit yang aku suarakan berkat keterkejutanku atas ucapan Alshaf. Namun Alshaf seakan tak peduli. Aku ragu-ragu menatap ekspresi Zaki. Aku pikir dia akan marah atau bagaimana tapi ternyata... “Hahahaha, tegang banget muka kamu, Nad! Santai aja, aku udah tahu tentang hubungan kalian berdua.”
Ah, syukurlah. Berarti daritadi kepanikanku hanya sia-sia.
“Jadi gini, foto pelukan lo sama Nada ke sebar di sosial media. Fans sama netizen pada lomba-lomba cari tahu siapa ceweknya dan Perusahaan udah kasih pernyataan kalo Nada cuman temen lo. Gua agak kaget liat respon orang-orang, cuman perkara foto pelukan lo sama cewek. Bahkan sampai trending di twitter,” Jelas Zaki.
Kalimat terakhirnya, membuat aku terkekeh. Tak sengaja pandanganku jatuh ke Alshaf. Aku sejujurnya tak tahu apa-apa tentang lelaki ini selain lagu-lagu yang dimilikinya. Tapi .. kenapa dia seakan-akan tahu aku sekali?
Huh, mungkin selepas kerja nanti aku harus cari tahu di internet tentang Alshaf.
“Jadi, maksud lo kasih tahu ini ke gua apa?”
__ADS_1
“Perusahaan kasih peringatan ke gue sebagai manajer lo karena lo udah berani mesra-mesraan di depan publik. Jadi untuk kedepan nya gua harap lo gak ngelakuin hal itu lagi. Apalagi lo sekarang lagi banyak job, Al.” Ucapan yang terdengar seperti nasihat itu aku masukkan ke dalam otak. Karena takutnya, Alshaf hanya menganggapnya angin lalu. “Aku titip ke kamu juga ya Nad.”
“Iya, tenang aja pak."
“Eits, bang aja. Pak, kaya tua banget gua.”
Aku membalasnya dengan acungan jempol. “Halah gak usah Nad, Zaki emang harusnya udah punya cucu,” Kafi kembali menyahut.
Tatapan tajam Zaki langsung menghunus kearah nya. “Enak aja lo buaya! Tuh urus manajer lo yang pusing bayar wartawan buat tutup mulut sama kelakuan lo!” Balas Zaki.
“Iri, iri! Bilang aja pengen kaya gua yang banyak ceweknya kan??"
Setelahnya kalian hanya akan melihat keributan di studio rekaman ini.
“Maaf berisik. Mereka lagi kumat. Lupa belum aku kasih obat tadi.” Mendengar ucapan pacarku yang lucu ini, refleks aku kembali jatuh cinta dan tertawa.
...****************...
__ADS_1
...kalian lebih suka per part panjang atau pendek kaya gini?
...