
...****************...
“Aku udah cari tentang kamu dan dengar semua lagu yang udah kamu nyanyikan. Kebanyakan dari lagunya pasti tentang perpisahan. So, sebelum aku tulis lirik lagu, aku mau konfirmasi dulu sama kamu, mau lagu kaya gimana buat single album ke 6 ini?” Aku tarik nafas sejenak dan melihatnya kembali. “Perpisahankah? Atau...”
“Pertemuan kembali,”
“Ya?”
Dia lebih memilih menyesap segelas kopinya dulu dan barulah kembali fokus kearah pembicaraan kami setelah minuman itu tertelan. “Lagu terakhir gue bercerita tentang cowok yang ditinggal pergi sama calon istrinya. Dan sekarang gue mau calon istrinya itu kembali,” Jelas dia. “Jadi mungkin gue mau tipe lagu romantis dengan aliran pop. Ceritanya yang tadi gue bilang, kembalinya seseorang yang kita sayang.”
Aku mengangguk paham. Di ruangan berukuran 5×7,5 meter ini aku berhadapan langsung dengan Rafael setelah lama mencari tahu bagaimana biasanya Alshaf membawa nyanyiannya. Hari ini juga pertama kali aku berbicara dengan dia dengan sangat serius. Biasanya Alshaf selalu banyak bercanda.
Oh, aku baru sadar dia tak menggunakan panggilan aku-kamu lagi untukku.
“Gimana? Ada yang mau ditanya lagi?”
“Udah gak ada. Mulai besok lirik lagu kamu udah aku tulis. Makasih.” Dengan begitu, aku beranjak dari duduk lalu berjalan lebih dulu darinya.
Tapi Alshaf tetap diam. Dari pantulan cermin didepan sana, dapat kulihat dia diam di tempat dengan tatapan mengarah ke punggungku hingga aku menghilang di belokan lorong untuk menuju ke tempat yang disediakan bagi para penulis lirik seperti aku.
Aku sangat penasaran mengapa sikapnya berubah. Ya memang tidak salah sih, orang aku dan dia baru kenal beberapa bulan saja jadi maklum jika Alshaf begitu.
Senyumanku terbit dengan natural saat bertemu Finka di dekat ruang rekaman. Dia sepertinya akan pergi ke tujuan yang sama sepertiku untuk mencari ide menulis.
“Hallo! Do .. Re ... Mi ... Fa .. Sol .. La .. Si ... Do ...” Finka seketika tertawa kencang setelah menyapaku dengan menyebutkan tangga nada itu. “Hai, Nada! Mau ke room rainbow juga?” Tanyanya sembari menggiring aku untuk tetap berjalan.
“Iya nih. By the way lo nulis buat penyanyi siapa, Fin?”
Dia seketika menghadapkan seluruh wajahnya padaku dengan ekspresi kesal tertahan. Wah, aku yakin Finka dapat artis yang kurang dia sukai.
“Maaf-maaf aja ya bukannya Gue mau bikin jelek nama penyanyi ini ya, tapi seriusan deh, kalo lo kerja buat dia juga lo bakal kesel setengah mampus kaya gue gini!” ungkapnya menggebu-gebu. “Lo tau Bamsan gak?” kali ini dia membisikkannya padaku.
“Gak, emang siapa?”
“Ish, dia tuh ya penyanyi baru netas tau ... terus terkenalnya juga gara-gara berantem sama penyanyi senior! Yah, bahasanya mah dia tuh pansos gitulah. Tapi bukan itu aja, tadi si Bamsan ini banyakkk mau banget, bukannya apa-apa ya, masa nih bocah minta lagu tentang samudra atlantik!”
Aku lantas tertawa karenanya. “Aneh banget buset!”
“Iya kan, kesel banget gue! Tapi gak apa-apa lah sekali-kali gue coba tulis lirik lagu kaya begitu. Gak lagi deh, tapi nanti gue mau coba diskusi lagi sama dia bisa jadi tuh anak hatinya terketuk.” Lanjut Finka yang kali ini emosinya mulai turun.
Tak terasa kami berdua sampailah di room rainbow. Di ruangan ini terdapat sofa santai yang diletakkan secara acak, lalu dekorasinya pun dibuat seperti tempat bermain anak-anak. Mungkin agar membuat otak kami-kami ini tidak stres dan ide datang dengan sendirinya.
Langkahku dan Finka mengayun ke arah kumpulan manusia di ujung barat dekat rak buku. Selain karena aku kenal dengan beberapa orang disana, aku juga mau tahu sedikit tentang kak Mey.
__ADS_1
“Waduh, waduh ada duo maut nih,” Sambut Azel, lelaki bertato naga ditangannya yang berotot.
“Duo maut apaan?!” Sentak Finka tak terima. Sedang aku segera mendudukan diri dipinggir Kak Mey yang tengah fokus dengan laptopnya.
“Bumil marah-marah mulu perasaan! Napa lagi lo?”
“Gara-gara si Bamsan! Emosi banget gue sama dia! Masa tadi....” Dan berlanjutlah cerita Finka yang tadi juga sudah ia ungkapkan padaku. Namun dengan sedikit tambahan yang belum aku dengar.
“Ini Nada ya?”
Lantas aku menoleh ke arah Kak Mey yang kini sudah memfokuskan seluruh atensinya kepadaku. Dengan ramah aku tersenyum. Kak Mey ini penulis beberapa lagu milik Alshaf. “Iya, kak Mey. Salam kenal,” ucapku.
Wanita dengan blazer hitam yang aku tahu dua tahun lebih tua dariku itu seperti menatap dari bawah hingga atas lalu kembali menatapku dengan terkekeh. Hal yang membuat aku mengernyit bingung. Gue ada salah kah?
“Kamu cantik.”
“Tiba-tiba?” Lontarku. “Tapi Terimakasih untuk pujiannya, kakak juga pretty.”
“Hahahaha okay!” Balasan yang terdengar terpaksa. Tapi kemudian kak Mey mendekat kepadaku lalu menyentuh kedua pundak yang seketika membuat bulu kuduk merinding. “Tipe Alshaf banget.”
Kedua indra penglihatan kami bertubrukan untuk beberapa menit. Menyalurkan kata-kata yang tak bisa terungkap oleh mulut. Hingga suara histeris Finka mengacaukan semua, dan aku segera cabut dari sana. Entahlah, aku merasa Kak Mey ... aneh?
...
Yah, begitulah. Aku awalannya kurang paham, namun Eca membantuku dengan sangat baik. Sehingga aku paham.
Bercerita tentang Eca aku jadi sadar telah lama tak bercengkerama dengannya. Huft, kini aku sedang duduk di bawah rindang dedaunan yang menghalangi sinar matahari langsung tembus ke wajahku.
Dengan kedua mata memejam, aku nikmati hilir angin yang menerpa segala fisikku. Mengalami kondisi yang sedang kualami ini, aku malah terbayang saat pergi ke pantai dengan Alshaf. Dipikir-pikir aku jadi merindukan momen bermain dengannya.
“Sutt, Nada!”
“Heh, bangun!”
Mataku mengerjap, lalu kedua alis menukik, memfokuskan penglihatan akan siapa seorang yang mengganggu tadi. “Eca?”
“Iya, ayo mau makan siang gak?”
Panjang umur. Baru saja dipikirkan orangnya datang. Aku langsung bangkit dan kami berdua berjalan bersama keluar dari taman perusahaan ke cafe perusahaan yang letaknya di lantai 3.
Katanya, cafe ini memiliki makanan yang terkenal enak dengan harga terjangkau dikantong. Eca sepanjang jalan bercerita banyak hal tentang orang-orang yang memakai jasa manajernya. Aku hanya menganggapi dengan tawa atau kadang berdehem saja.
Ting
__ADS_1
Suara pintu lift terbuka, mengantarkan beberapa kaki orang melangkah ke cafe yang tempat duduknya sudah hampir penuh. Pantas sih ini jam makan siang.
“Eca, kayanya restoran di bawah sepi atau delivery aja lah.” Usulku yang sudah putus asa.
Namun Eca menggeleng dan mengirim pesan pada seseorang lalu tangannya menarikku hingga kami berdua berhenti di meja dekat kasir.
Meja itu berisi dua orang pria.
“Gue numpang duduk sini ya bro!” Ijin Eca lalu aku di dudukkan di hadapan seorang lelaki yang seperti tak berselera akan kedatangan kami.
Dia yang tak lain Alshaf, tengah makan bersama sang manajer.
“Mau pesan apa kalian?” Tanya Zaki.
Aku tak menjawab karena sebelumnya sudah bilang akan makan dengan makanan yang Eca pesan saja.
“Lo bareng gue aja pesan bareng yuk!” Belum dibalas oleh Zaki tapi Eca sudah menyeretnya ke tempat memesan makanan. Yah, jadi tertinggallah kami berdua –aku dan Alshaf.
Sejujurnya aku benci didiamkan orang, tanpa tahu kesalahanku apa. Dan seorang Nada tak punya rasa gengsi untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Jadi, dengan mantap aku ketuk meja hingga mengalihkan tatapan Alshaf yang tadi fokus akan ponselnya ke arahku.
“Gue ada salah apa sama lo, sampai lo jaga jarak gini?” Tuduhku langsung tanpa berbasa-basi.
Dia diam sejenak. Dengan bola mata yang berkeliaran ke kanan dan kiri. Terhitung 5 detik hingga ia mampu menatap aku kembali. “Ini yang lo mau kan? Berhubungan layaknya seorang penulis lagu dan artisnya?”
“Iya ... tapi setelah apa yang udah lo perbuat ke gue. Gue gak merasa kaya gitu lagi. Gue pikir, kita bisa jadi teman.”
“Sekarang gue lagi gak butuh temen sih,” Sombongnya.
Ck, ingin aku rujak wajah sok keren Alshaf itu! Entah karena aku yang memang sedang sensitif. Saat mendengar perkataannya membuat aku tiba-tiba darah tinggi saja. “Okay! Bilangin ke Eca gue gak jadi makan siang.” Sinisku lalu bangkit dari sana.
Bodoh amat, aku hanya ingin kembali ke ruanganku. Menstabilkan emosi yang susah terkontrol ini.
“Nad, Nada,” panggilan seseorang dibelakangku tak aku hiraukan. “Berhenti dulu!” Nada panggilannya kini naik beberapa oktaf.
Sampai saat aku mau melangkah ke pintu lift yang untungnya sudah terbuka, seseorang itu menahan lenganku. Yang lantas, membuat aku membalikkan tubuh dan mampu mengetahui siapa seseorangnya.
Dia tak langsung berucap, tapi menatap ke belakangku. “Tutup aja liftnya, dia gak jadi naik.” Setelah perkataannya, Alshaf Moeroto memporoskan seluruh perhatiannya hanya untuk aku. Hanya untuk Nada. Tatapan yang biasa melihat aku acuh kini kembali lagi menjadi tatapan Alshaf, sang lelaki yang dulu aku temui karena tertukar mobil. Alshaf yang selalu memeluk aku kala ada masalah, dan Alshaf yang usil membuat aku kesal setengah mati. Tatapan kehangatan dan penuh sayang.
Dia tak berucap apa pun tapi langsung menarik aku kedalam pelukan nyaman yang aku rindu. Melupakan jika kami berada di tempat umum, melupakan jikanya dia seorang penyanyi yang dikenal banyak orang, dan aku seketika melupakan juga rasa yang pernah ada untuk Zafa juga tak memedulikan apa yang terjadi nanti, sebab aku pun membalas pelukannya dengan sangat erat.
...****************...
__ADS_1