Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
basement


__ADS_3

...****************...


“Lampu, lampu apa yang gak boleh diganggu.”


“Lampu tidur?”


“Tet not!” Ralat sang pemberi tebak-tebakan sedari beberapa menit lalu.


“Terus apaan?”


“Lampu, lampu, lampu .... belajar!” Setelahnya tawa menggelegar langsung mengisi ruangan sebesar taman kota ini disusuli oleh umpatan-umpatan dan dengusan kekesalan.


Sedang aku hanya menggeleng menanggapi jawaban dari tebak-tebakan yang diucap Finka. Wanita berambut pendek yang tengah mengandung buah hati itu sangat mencairkan suasana rapat kami di pagi Senin ini.


Rapat yang dihadiri hanya lima orang termasuk aku, mendiskusikan tentang single album Rafael yang rencananya akan dikeluarkan tahun depan nanti. Mengingat lelaki itu, aku jadi menyadari telah lama tak saling jumpa. Biasanya dia sudah mengganggu setiap pagiku, tapi sekarang mendengar suaranya saja tak pernah. Mungkin, penyanyi narsis yang satu ini sedang mempersiapkan pita suaranya untuk bernyanyi.


“Heh, Nad!”


“Ya, kenapa Kak?”


Keningku mengernyit saat dia mendekat lalu berbisik disana. “Kamu satu lantai sama Rafael?”


“Lantai di apart?”


“Iya ... beritanya benar gak?”


Berita apa? Aku tidak tahu menahu. “Mampir aja langsung.” Balasku.


Karena merasa sudah tak ada kepentingan lagi, kami memutuskan mengakhiri rapat di pukul 12 siang yang bertepatan dengan lunch. Mereka tadinya mengajak ku untuk ikut ke restoran samping gedung, tapi aku tolak secara halus sebab sedang ingin lebih banyak mengistirahatkan tubuh lemah ini di atas kasur.


Bahagianya. Walau baru beberapa kali kemari, sudah banyak orang yang berlalu lalang denganku yang menyisakan senyum manis. Lagi-lagi aku bersyukur mendapati lingkungan yang baik. Oh iya aku pernah bilang kan jika ada perusahaan musik yang mengajak aku untuk bekerja sama, tapi belum Eca jawab? Ternyata perusahaan itu adalah perusahaan yang sama dengan perusahaan yang menaungi Rafael.


Setelah banyak waktu berlalu akhirnya Eca menyetujui kerja sama itu. Dan jadilah, bukan hanya terikat kontrak dengan Rafael, aku pun kini bekerja untuk perusahaan musiknya juga.

__ADS_1


Tatkala akan mendekat ke tujuan, kedua bola mata milikku menemukan sebuah sosok yang sudah lama tak terlihat. Aku mendengus. Dengan angkuh dan tatapan fokus kedepan sana aku lewati wujud lelaki berpostur tinggi yang sedang serius berbincang dengan rekan sesama penyanyinya.


Aneh. Dia melirik. Hanya melirik. Camkan hanya melirik saat aku berjalan di sampingnya, tanpa ada lelucon, tanpa ada gangguan, tanpa ada sapaan atau senyuman!


Yang lebih aneh lagi adalah, saat aku mau berbelok kearah parkiran, aku malah berhenti sejenak dan memutar balik tubuh hanya untuk melihat kembali reaksi seorang Rafael Moeroto. Dan dia tak peduli.


“Kenapa sih gue?” Aku langsung memukul kepala dan melanjutkan jalan yang tertunda tadi.


...


Setiap bangunan untuk ditinggali pasti punya fasilitasnya sendiri-sendiri. Dari mulai keamanan hingga kenyamanan untuk para penghuninya. Dan semua itu akan didapatkan dengan membayar harga yang tak murah.


Sama halnya dengan apartemen yang kuhuni. Terkenal akan kemahalan per unitnya, membuat apartemen memberi akses sebuah kartu untuk setiap penghuni. Yang di mana kartu ini digunakan untuk kita keluar masuk gedung apartemen, dan parkir.


Ya, setiap penghuni sudah ditentukan di mana kendaraan-kendaraan mereka boleh diam.


Aku yang biasanya memarkirkan mobil hijau toskah ku di urutan 56, kini harus berhenti menghalangi jalan pengemudi lain. Sebab ada mobil lain yang menepatinya.


Lelah yang menumpuk di kedua pundak, yang meminta segera diringankan. Membuat aku keluar dari pintu mobil dan berjalan menghampiri kendaraan beroda empat yang mengambil ahli tempat istirahat mobil hijau kecintaanku.


“Permisi?” Sepertinya di dalam mobil ini memang tak ada penghuninya. “Huft ... Halo pak bisa ke basement blok c no 56? Iya ada masalah sedikit, tolong ya.” Aku tekan kembali tombol hitam kecil di tengah kartu. Mematikan langsung komunikasi antara aku dan satpam yang tengah berjaga.


Dilihat-lihat kembali agaknya aku familiar dengan wujud mobil perebut ini.


Aku mendongak tatkala mendengar langkah kaki yang mendekat.


“Good morning Mrs. ada masalah apa?” Tanya satpam yang baru datang itu. Lantas tanpa dipaksa aku jelaskan detail alasan kenapa aku memanggil satpam kemari.


Beliau mengangguk, paham. “Tunggu ya Mrs. Saya konfirmasi dulu ke rekan kerja saya yang berjaga tadi.” Jawabnya.


“Baik, pak.” Lagi-lagi aku disuruh menunggu, padahal aku benci berdiam lama tanpa kepastian apa-apa.


Jenuh yang membesar, membawa aku untuk berjalan mengambil ponsel yang tertinggal di dasboard. Tapi, belum ada kakiku melangkah menjauh dari mobil orang, sepasang manusia datang dengan tangan saling mengait, romantis.

__ADS_1


Mulut ku refleks menghembuskan nafas lelah. Apalagi saat sang hawa menampilkan senyum mengejek dan berhenti tepat di hadapan aku yang sama sekali tak berselera menyambutnya.


“Wah, siapa ini? Udah lama banget gak liat kamu,”


“Gue mau lewat, permisi.” Tangkasku padanya. Tapi, Nela seolah tak paham dan malah lebih maju lagi sembari menarik tubuh Zafa agar mendekat ke tubuhnya. “Kok gitu sih sama tetangga baru kamu? Harusnya kita bisa akur loh, iyakan sayang?”


“Iya.” Suara Zafa terdengar. “Nad, boleh minggir? Ada barang dibagasi mobil aku.” Tanpa aba-aba mulutnya berucap dan sengaja sekali menatap aku dengan tatapan sendu.


Dengan begitu aku ikuti titahnya.


Pantas, diri ini serasa tak asing dengan mobil yang menempati tempat parkir milik mobilku. Ternyata mobil itu milik Zafa, dan yeah aku baru ingat jika Nela pernah bercerita tentang harapannya yang ingin bertetangga denganku saat telah memiliki pasangan. Dan syukurlah, harapannya itu terkabul. Dengan aku yang dijadikan tumbal.


“Tolong, mobil kalian pindah ke tempat parkir yang seharusnya. Soalnya ini lahan yang mobil gue.”


“Oh ya? Kok aku gak tahu,”


“Lo tanya gue, terus gue harus tanya ke siapa?” Tanyaku balik. Maaf-maaf saja jika kalimat ini terlihat kasar, agaknya aku sudah lelah dan ingin cepat-cepat istirahat.


“Maaf, Nada ... aku salah ngomong ya? Wajar sih kamu marah, aku emang anaknya bodoh banget. Masa hal kaya gini aja aku gak tau, gak kaya kamu yang pintar banget...” Mimik wajahnya sangat-sangat menyebalkan menurutku. Dengan kedua mata yang membesar, mulut dikerucutkan, dan suara yang berusaha imut tapi dikedua telingaku malah terdengar menjijikkan.


Dengan malas lagi, aku berucap. “Bagus itu lo sadar, jadi mulai sekarang jangan salah parkir lagi dan kelihatan bodoh.”


“Nad, kok kamu kasar gitu ke Nela?” Huft, tadi istrinya kini suaminya pun ikut-ikut berdrama.


“Ya terus gue harus gimana? Puji istri lo karena dia merendahkan dirinya sendiri atau malah harus sujud sambil bilang kalo dia juga pintar dan gue yang bodoh?” Dengan jengkel aku mendesis. “Lagian dari dulu juga gue emang kaya gini.”


Zafa berjalan dan tubuhnya yang tinggi berdiri di hadapan aku, yang otomatis menggantikan posisi Nela. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menatap kedua matanya yang dulu selalu terpancar kasih sayang yang melimpah untuk aku. Tapi kini yang ada hanya tatapan amarah.


Aku terkekeh menyedihkan. Harusnya, iya seharusnya aku jangan lagi merasakan jantung berdebar yang begitu kencang kala dekat dengannya, tidak boleh menaruh perasaan cinta lagi karena cintanya kini bukan untuk aku. Aku mengepalkan kedua tangan, menyalurkan segala emosi dalam batin lalu kulihat wajahnya dengan berani.


“Kamu berubah, benar-benar berubah Nad. Bukan Nada yang aku kenal lagi, bukan Nada lemah lembut, bukan Nada yang selalu sayang sama orang di sekelilingnya. Aku jadi bersyukur karena lebih memilih Nela ketimbang kamu.” Kata-kata yang berhasil membuat aku tertawa besar.


“Hahahahaha, sorry? Bukannya gue ya yang harusnya sujud syukur karena gak berjodoh sama cowok kaya lo. Dan juga, lo sendiri yang buat Nada dulu mati.” Aku mendekat padanya yang sedang menahan kekesalan. “Jangan lagi anggap diri lo seolah-olah tau banget siapa Nada!” Langsung saja setelah itu aku tubruk tubuhnya dan berjalan menjauh dari mereka kearah lift. Masalah mobil biar nanti orang kepercayaanku yang mengurusnya.

__ADS_1


...


__ADS_2