
...****************...
"Anak gadis bunda, ayo bangun! Udah siang nih,”
Aku menggeliat saat gorden yang menutupi jendela terbuka sempurna. Sinar mataharinya masuk dan mengenai wajahku.
Bokong bunda duduk dipinggir ranjang, jari jemarinya mengelus kepalaku penuh kasih sayang. Hingga aku kembali terbuai untuk berkelana ke alam mimpi.
“Hus, jangan tidur lagi dong, sarapan dulu ke bawah.” Kata bunda menghalangi mimpiku. Aku mau tak mau duduk dan menyandar di ranjang. Bunda pun keluar dari kamar, mempersilahkan dulu aku untuk cuci muka dan gosok gigi.
Sekiranya kemarin aku tak jadi tidur di hotel, dan berakhir mengungsi di rumah orang tuaku saja. Apa kata Alshaf tentang semua hotelnya penuh, benar adanya, jadi karena aku yang telah lelah memilih opsi membelokkan taksi ke Komplek tempat aku tinggal dulu.
Ah, pria yang berperan sebagai pacarku itu tak mengirimkan aku satu pesan pun. Iya ... aku salah karena telah membentaknya hanya perihal sepele. Malam itu, otakku sedang mumet jadi aku lampiaskan segalanya pada Alshaf yang tak bersalah.
Tapi jika disuruh untuk meminta maaf, aku benar-benar tak mau. Maaf-maaf saja gengsiku lebih tinggi daripada rasa sayangku padanya!
Daster selutut milik bunda melekat pas ditubuhku. Seperti adegan klise dalam film, tatkala aku turun dari tangga kedua mataku langsung menatap sosok Alshaf yang tengah duduk bersama papah.
Untuk memastikan, aku mengucek mata berkali-kali. Dan hasilnya tetap sama! Itu Alshaf. Apalagi sekarang ia tersenyum kepadaku lalu kembali lanjut mengobrol dengan pria bersarung yang tak lain papahku sendiri.
Semua sudah mengumpul di meja makan dengan piring dan lauk pauknya. Kebiasaan sekali sarapan pagi makannya sudah nasi.
karena abang tidak ada jadilah Alshaf yang duduk di sampingku. Aku tanpa mau bertanya lebih dulu padanya, langsung saja menghabiskan makanan itu. Untungnya lagi, keluargaku tidak suka berbicara sambil makan. Jadi tidak ada sesi interogasi.
“Bun yah, Nada ijin ke kamar lagi ya.” Tatapan orang tuaku itu langsung menatap penuh tanya. Aku tahu sih, mereka ingin menanyai hubunganku dengan Alshaf, tapi masalahnya sekarang aku dan dia sedang bertengkar. Dan lagi, aku emang belum siap jujur kepada ayah dan bunda tentang status kami. “Nada capek, sekalian mau beres-beres kamar!” tanpa mendengar jawaban mereka aku langsung berlari ke atas.
Setelah lama ditinggalkan, barang-barang dikamarku menjadi berdebu. Salah satunya, karpet berbulu yang kuminta pada papah.
Karena letak jemuran ada di roftoop, aku bawa karpet yang ukurannya tak terlalu besar ini ke atas. Di pertengahan tangga, tenagaku tiba-tiba tersurut hingga hampir saja aku terjungkal ke belakang namun untungnya sepasang tangan seseorang menahan tubuhku. Dan segera mengambil ahli karpet dari tangan ini.
__ADS_1
Sejenak aku termenung dengan tatap yang fokus pada punggung tegap lelaki itu yang kini telah lenyap dibalik pintu roftoop. Alshaf, aku benci dia selalu ada saat aku kesusahan begini.
“Maaf buat aku yang tinggalin kamu sendiri di jalan.” Ujar Alshaf saat kakiku baru saja menampakkan diri di lantai atap. Dia berdiri di pembatas dengan tatapan ke hamparan rumah di bawah sana. “Kemarin aku khawatir banget sama kamu, Nad. Sampai-sampai gak sadar udah peluk kamu, di tempat umum.”
Walau dia tak melihat gelengan kepalaku sekarang. Aku tetap menolak semua permintaan maafnya. Yang salah di sini itu aku, dan yang harusnya meminta maaf juga aku bukan Alshaf. “Gak apa-apa. Aku cuman ... lagi pusing aja makannya bentak kamu kemarin, lupain aja semua kejadian semalam.” Akhirnya rangkaian kata itulah yang keluar dari mulutku.
Aku berjalan menghampirinya. “Dokter kasih tahu aku, aku punya penyakit amnesia traumatic. Waktu itu aku shock banget dan gak tahu harus apa,”
“Nad,”
“Mungkin bagi sebagian orang penyakit yang aku alami ini gak terlaku kritis dan harusnya gak terlalu di permasalahkan. Tapi bagi aku yang suka mengenang segala momen, entah itu bahagia atau sedih ... amnesia traumatic benar-benar sebuah mimpi buruk.” Aku langsung berhenti bicara, saat Alshaf menyuruhku untuk menatapnya. “Aku minta maaf .... buat semua hal yang udah terjadi di hidup kamu. Apapun itu.” Tanpa kumengerti dia langsung memeluk tubuhku.
Dan pada akhirnya kami akan berbaikan kembali.
Namun, tunggu. Tidak akan kubiarkan semua secepat ini! Dengan keras aku lepaskan pelukan kami, hingga mata Alshaf menatap aku penuh bingung. “Jawab semua pertanyaan aku!”
“Mrs. Cute, please...?”
“Kenapa harus aku jawab?”
“Karena kamu pacarku. Dan kamu juga udah tahu semua tentang aku lebih dari diriku sendiri. So, sekarang gantian. Aku harus tahu tentang kamu, Alshaf.”
Ada jeda 10 detik. Sampai mulutnya mau berucap. “Janji untuk aku. Setelah tahu jawabannya jangan pergi kemana pun. Okay?”
“Okidoki!”
“Aku ... no lebih tepatnya keluargaku,” Matanya menatap aku penuh kekhawatiran. “kami seorang pembunuh bayaran.”
“Al, aku boleh ketawa gak nih?” Tawaku sudah mau menyebur. Tapi wajah serius Alshaf malah mengurungkan hal itu. Dan merubah ekspresi wajahku menjadi pucat. “Itu ... seriusan?”
__ADS_1
“Ya. Kamu udah janji gak akan pergi. Jadi, Setelah tahu satu kebenaran ini, kamu harus tetap di samping aku ... Mrs. Cute.”
Damn it! Mengapa Alshaf menjadi semenakutkan ini. Gara-gara jawabannya juga, aku jadi tak bernafsu untuk bertanya pertanyaan-pertanyaan lain yang sudah bersarang banyak diotakku sedari beberapa hari lalu. “O-oke. Mending kita turun ke bawah.”
...
Turun ke bawah adalah langkah yang salah. Karena sekarang, aku dan Alshaf tengah disidang oleh papah. Mau tau jawaban Alshaf saat dia masuk kemari, kala aku tertidur pagi tadi? Dia bilang, “Saya penyanyi yang lagunya ditulis oleh Nada, om. Ijin ingin bertemu Nada untuk tanya tentang lirik lagunya.” Ya memang terdengar tak gentleman sekali. Tapi aku yang memintanya sedari awal pacaran, untuk tak membicarakan status kami berdua ke keluarga masing-masing.
Dan sekarang ... kami dalam bencana karena bunda melihat aku dan Alshaf berpelukan tadi.
“Apa bagus seorang lelaki berbohong kepada ayah dari perempuan yang dia cintai tentang hubungan mereka?” Aku lirik Alshaf yang berada di sebelahku. Dia tetap tenang meski wajah papah tegasnya mirip adududu.
“Tidak, om.” Jawabnya. “Lalu kenapa kamu membohongi saya?”
“Karena saya menuruti keinginan perempuan yang saya cintai untuk merahasiakan hubungan kami,”
“Lalu, jika nanti Nada menyuruh kamu untuk merahasiakan hal buruk. Kamu akan lakukan?”
“Tidak.”
“Kenapa? Bukannya kamu mencintainya?” Waw. Telingaku serasa ingin pecah untuk pertanyaan-pertanyaan yang papah buat.
“Justru karena saya mencintai Nada, saya akan memberi pengertian kalau itu buruk. Tapi jika menurut saya itu baik untuknya, saya akan tetap merahasiakan hal itu untuk jangka waktu yang dia inginkan. Bukan berarti juga hubungan kami yang dirahasiakan dari keluarga itu baik om ... saya paham, Nada masih butuh waktu untuk menerima hubungan kami dan berfikir bagaimana cara memberitahu yang benar pada om dan tante. Apalagi, Nada baru putus dari pacarnya belum lama ini.”
Tangan kanan dan kiriku saling menggenggam. Entah jawaban apa, yang akan papah beri. “Nada,” Aku mendongak. Itu bukan suara papah melainkan Alshaf. “Maaf.” Aku tak tahu maaf untuk apalagi ini?? Ya tuhan frustasi sekali aku?!
“Om, tante. Sekalian saya di sini. Saya meminta ijin untuk menjadikan Nada sebagai seorang pacar. Sejujurnya saya menginginkan status yang lebih dari pacaran, tapi saya belum berdiskusi hal itu dengan Nada. Jadi untuk sementara waktu, saya ... meminta restu sebagai pacar untuk putri kalian.”
Aku sudah mau menangis saja. Soalnya belum pernah ada lelaki yang seberani ini kepada papah
__ADS_1
“Saya beri restu kalo kamu ikut bersama saya.” Setelah ucapan Papah, beliau segera bangkit disusul Alshaf yang tersenyum menenangkan lalu ikut papah keluar sana.
...****************...