
...****************...
Di antara keramaian kota, di antara hiruk-peruk ribuan manusia. Ada tawa yang benar-benar tulus, ada tawa yang hanya dusta keluarnya, ada manusia yang menahan sakit duniawi, dan ada aku, yang harus menahan air mata yang mendesak turun dari kedua bola mata. Sebab masih berdiri di dalam lift yang tertinggal hitungan orang.
Ternyata permasalahan aku dengan masa lalu belum benar-benar usai. Aku masih merasa nyeri jika mengingat pengkhianatan yang dilakukan Zafa dan Nela, cinta yang kuberikan seluruhnya untuk Zafa masih tersisa banyak direlung hati, dan aku malah bertanya-tanya. Apa yang salah dari aku? Apa karena rambut Nela lebih bagus makannya Zafa lebih memilih dia ketimbang aku? Atau karena bentuk tubuh yang Nela punya sangat sexy? Sedang aku tidak?
Ya tuhan, sungguh aku benci harus mencari-cari kesalahan dalam diriku, padahal Zafa yang selingkuh. Aku benci, harus membenci diri sendiri padahal lelaki brengsek itu yang salah!
“Kak, permisi ini tombol lantai yang kakak tekan?”
Aku menoleh langsung, dan pergi setelah berucap maaf dan Terimakasih.
Kedua kaki yang sedang berjalan di lorong sepi akan orang, berhenti sejenak. Memastikan sekali lagi, bahwa sosok lelaki yang tengah berdiri di samping pintu unitku dengan ponsel serta dompet ditangannya adalah benar sosok abang.
“Ngapain di situ?”
Lantas setelah pertanyaan yang diucapkan abang terdengar aku berlari kencang kearah nya dan masuk segera kedalam pelukan yang sudah lama kurindu.
Ternyata mau seberat apa masalah yang datang, aku akan tetap baik-baik saja jika ada abang disisiku.
Tangisku langsung pecah tatkala abang menepuk-nepuk punggung yang tertutup cardigan crop putih.
“Nada, masuk aja ya? Ceritanya di dalam.” Aku pun mengangguk lalu memasukkan pin pintu yang baru kuganti.
Setelahnya tanpa ku suruh abang menggendong ku di belakangnya. Dan kami masuk bersama ke dalam.
“Yakin nih, gak mau pindah ke rumah abang aja?” tanyanya sembari melihat-lihat setiap ruangan yang ada di unit apartemen.
Aku dengan yakin mengangguk, lalu kembali menjatuhkan kepala diceruk lehernya. “Abang waktu dirumah sakit kenapa gak jadi jenguk?”
Ada jeda sejenak untuk pria dewasa ini menjawab. “Malas jadi nyamuk di keluarga yang lagi harmonis-harmonisnya.”
Jawaban itu berhasil membuat aku terdiam. Kematian mamah yang sudah terjadi sekiranya 10 tahun silam, ternyata masih menyakitkan bagi abang. Dia masih belum menerima kehadiran sosok ibu pengganti, dan kebahagiaan tanpa seorang mamah.
Tanganku menepuk pundaknya, meminta diturunkan. Ia menurut, dan mendudukan ku disofa. Tarikan kencang yang aku berikan berhasil membuat abang duduk juga di sampingku.
“Bang ... coba buat lembaran baru yuk? Walau tanpa mamah di ceritanya tapi masih ada papah, ada aku, ada bunda juga yang sayang banget sama abang,”
Dia terkekeh. “Maksud kamu, wanita yang bunuh mamah, yang kamu sebut bunda itu sayang abang juga?”
“Bang...” Aku hela nafas lelah. Meyakinkan abang hanya perbuatan yang sia-sia. Bukan sekali saja, aku sudah coba melakukan berbagai cara agar abang bisa menerima bunda tapi hasilnya tetap sama, gagal.
Ting Ting
“Pesanan abang udah datang tuh, bentar!” Ucapnya yang bangkit dari sofa lalu berjalan ke lorong menuju pintu.
Kedua pundakku merosot tak semangat. Sebenarnya juga aku dulu tak menerima kehadiran bunda tapi karena beberapa hal akhirnya aku bisa juga berdamai dengan beliau. Dan mulai membuka diri kembali.
Huh, Karena kejadian beberapa menit lalu, aku jadi lupa niat awalku pulang. “Hoam....” Aku menutup mulut yang menguap sebab kantuk. Tanpa kucegah, kepalaku bersandar ke bantal sofa. Lalu kupejamkan kedua mata, mengizinkannya beristirahat walau sejenak.
“Dek ... Dek, bangun dulu.”
“Ngantuk, duluan aja.” Entah apa yang ku maksud intinya pada saat ini aku hanya ingin tidur. Dan beruntunglah setelahnya suara abang diam dan tak terdengar.
...
__ADS_1
“Lo dululah! Maju buruan, gue tunggu di dekat batu tuh!”
“Yaelah Ril, lo aja yang kesini. Banyak musuh di daerah situ.”
“Lu ya, yaudah iya gue ke sana!”
Suara-suara lelaki saling bersahutan serta teriknya matahari sore yang masuk melalui jendela yang tak terhalang gorden, membuat aku membangunkan diri sendiri dan menyandar pada punggung sofa.
Ku tatap dua pria berbaju hitam dan merah yang sedang bermain playstation dengan membelakangiku. Aku pastikan baju berwarna gelap itu abang, tapi yang di sampingnya aku tak kenal.
“Abang,” Panggilku bernada malas. “Ada makan? Aku lapar.” Lanjutku saat wajah abang menoleh.
“Sini, makanannya ada di samping.”
Dengan keadaan rambut acak-acakan aku melangkah menghampirinya, lalu duduk disana dan membawa piring berisikan ayam geprek. Wah nikmatnya baru bangun sudah disuguhi makanan level pedas.
Satu suapan sudah akan masuk ke dalam mulut, namun mataku lebih dulu menemukan wajah Alshaf yang tengah fokus bermain game didepan televisi sana. Kedua bola mata milikku sudah seperti akan keluar, kala dia menatap aku dengan tersenyum.
Mengapa tiba-tiba dia bisa kemari?! Apa dia berteman baik dengan abang sampai saat waktu Zafa kerumah, Alshaf ada disana dan memukulinya dan kali ini dia mampir di unitku?! Kalo benar, ini di luar nalarku.
Tak ada jalan keluar lagi untuk menghindarinya, eits bukannya si Alshaf ini sedang mendiami aku ya? Kok mau saja diajak ke sini?
“Bang, ngapain dia kemari?”
“Main doang, kasihan nih penyanyi stres diam terus di apartnya.”
Ku balas dengusan.
Mengingat-ingat bahwa Alshaf seorang penyanyi, sebagian otakku kembali berputar untuk rangkaian melodi yang akan dinyanyikan dari pita suara emas lelaki bersifat menyebalkan itu.
Rasa pedas yang menjalar tiap sesuap ayam plus nasi itu masuk kedalam mulut lalu turun ke tenggorokan dan diolah ke lambung dan silahkan kalian pikirkan saja sistem pencernaan sebab kala pedas otakku tak bisa berjalan lancar.
“Minum air dulu.” Sebuah tangan menjulur di hadapanku dengan sebotol air putih. Kuterima dengan cepat. Dalam sekali tegukan setengah air dalam botol itu dapat tuntas tanpa berlebih.
Huft. Untunglah, aku berhasil habiskan makanan pedas ini. Ku tatap lelaki yang tadi memberikan air. “Makasih abangku, rada dingin ni mulut.”
“Apaan?” tanyanya sewot dan masih fokus akan games nya.
“Itu tadi air putih, sok pikun banget!”
“Mulai halusinasinya,”
Aku mendengus tak terima. “Gengsi banget! Kalo mau perhatian mah gak apa-apa kali. Gak akan aku ledekin juga. Udah ngaku aja—“
“Gue yang kasih tadi.”
Sejenak suara games dalam televisi mengambil ahli tempat ini. Abang yang tadi fokus akan stick playstationnya sampai mengalih tatap kearah Alshaf. Reaksiku hanya mengerjapkan mata beberapa kali.
Sedangkan pelaku pemberi sebotol air putih itu, masih acuh dengan ponselnya. Woah, sejak kapan tangannya sudah tak memegang stick PS?
“Uhm! bang bungkus nih geprek udah dimasukkan ke tong sampah?” tanyaku sembari berdiri dan membawa botol plastik bekas tadi. Pengalihan.
“Udah. Mau buang sampah?”
“Kagak, mau buang hajat!” Setelah balasanku tawa menggelegar terdengar dari ruangan televisi sana.
__ADS_1
Dengan cekatan aku ambil sampah yang telah dibungkus plastik hitam besar lalu menjinjingnya ke ujung lorong lantaiku.
Jika ditanya kenapa apartemen semahal ini harus membuang sampah sendiri, aku akan menjawab jika nya pembawa sampah biasa yang datang ke setiap unit, dua hari lalu mengalami kecelakaan. Jadi mau tidak mau pihak apartemen meminta para penghuni untuk secara mandiri dahulu membuang sampahnya.
Terpampang pintu persegi berbahan besi yang berdekatan dengan lantai. Aku buka gagangnya lalu memasukkan dua plastik hitam ke sana, dan keduanya langsung turun ke bawah.
Aku tutup kembali pintu besi itu dan berdiri dari posisi jongkok.
“Hai Nada!”
Aku memejamkan mata, terkejut. Bayangkan saja, tiba-tiba wajah orang yang paling kamu hindari ada di depan mata dengan senyuman selebar joker. Ya bagaimana aku tidak kaget. Huh, apa kali ini aku harus menghadapi seorang Nela dengan lebih lembut lagi, agar tidak di amuk oleh suaminya?
“Padahal tadi kita bareng aja buang sampahnya! Aku agak takut jalan sendirian di lorong sepi gini,”
Kedua bola mataku memutar, jengah. “Gue udah minta baik-baik, kita gak perlu kenal lagi.” Aku sudah akan melewatinya begitu saja, tapi tangan Nela menahanku. “Tapi gue gak mau!” kalimat yang mampu sedikit menaikkan salah satu alisku.
“Woah, gue agak kaget lo bisa pakai panggilan lo-gue. Padahal dulu aja lo bilang ke Zafa kalo panggilan lo-gue itu terlalu kasar makannya lo selalu panggil orang pakai aku-kamu.”
“Terserah. Sekarang gue udah dapetin apa yang gue mau, so gue bakal kasih lihat siapa Nela sebenarnya,”
Gelengan kepala diiringi tawa yang puas dariku, berhasil mengalih perhatian Nela yang tadi memegang lenganku.
Aku semakin tertawa besar saja tatkala Nela menatapku bingung. “Lo kenapa sih?” Sentaknya.
“Nela, Nela. Sikap lo kaya begini malah menunjukkan banget kalo lo pengecut tau gak?”
“Maksud lo?” tanyanya dengan kedua alis yang menukik.
“Malas kasih tahu. Bay!” Dengan cepat aku gerakkan kaki melangkah jauh dari sini. “Aws...”
“Gila lo! Lepas!”
“Gak sudi!” Tangan Nela semakin menarik keras ujung rambut yang baru saja aku salon kemarin. ingin menangis rasanya, mengingat untuk perawatan rambut kemarin aku hampir menghabiskan seperempat gajihku! Dan sekarang rambut ini pasti akan rusak!
Kaki kananku memutar ke belakang, memberikan tendangan maut yang berhasil melepaskan jari-jarinya dari rambut kecintaanku.
“Lu sinting apa ya?! Lihat nih rambut gue jadi rontok! Ganti rugi juga gak akan mampu lo!” Amukkan yang aku tuju untuk Nela yang sudah terduduk di lantai, perasaan aku tak sekencang itu menendangnya deh. “Eh, eh ... lo kenapa nangis?”
Suara rintihan tangis Nela mengalun tiba-tiba sesaat setelah aku marahi. Lalu tak lama aku mendengar seseorang mendekat dari arah belakang. Zafa. Aku gigit bibir bawahku tak habis pikir. Wanita ular ini ternyata sedang berakting lagi ya...
“Nel, kenapa? Kamu diapain lagi sama Nada?”
What the hell! Bahkan Zafa langsung menuduh tanpa bertanya apa pun.
“Nada, kamu ada masalah apa? Jangan bikin istri aku tersiksa gini! Walaupun kita pernah pacaran tapi sebaiknya kamu gak sakitin sahabat kamu, sendiri!” mencaknya yang sudah malas aku dengarkan.
“Tanya sendiri sama istri lo. Kasih tahu dia jangan cari masalah sama gue lagi dan gak usah muka dua gitu.” Aku sudah tidak bertenaga untuk ribut. Tapi, Zafa tetap menahan aku di sini dengan cengkeraman tangannya yang kuat. “Yang perlu dikasih tahu itu kamu! Bukan Nela—“
“Lepas. Lo gak ada hak apa-apa sentuh tangan cewek gua.” Suara berat memotong kalimat Zafa. Lalu setelahnya tubuh dari pemilik suara itu berdiri di sampingku.
Lagi-lagi Alshaf orangnya. Aku tak tahu apa yang dibisikkan Alshaf ditelinga Zafa. Tapi yang pasti setelahnya, tanganku terbebas dari cengkeramannya.
Tanpa mau peduli, aku langsung saja memutar balik tubuh dan berjalan ke unit apartemenku. Meninggalkan Alshaf dengan pasangan suami istri perusak mood!
...****************...
__ADS_1