
...****************...
“Hachim!”
“kan, kan. Udah bunda bilang ma—“
“Hachim!” Untuk ke sekian kali aku kembali bersin, untungnya pilek sudah reda kemarin, dan sekarang tinggallah bekasnya saja. “Bunda jangan ngomong dulu, nanti hidung Nada gatal lagi ...” Rengekku, dan segera memasukkan diri kedalam selimut lalu menarik tubuh bunda agar ikut berbaring diranjang bersama. Salah satu kebiasaanku kala sedang sakit.
Bunda menurut, tangannya mulai mengelus rambut yang telah ku potong menjadi pendek. Aganya aku sedang buang sial dan kenangan buruk. Omong-omong tentang hal buruk, aku jadi mengingat kejadian dua minggu lalu saat mendatangi pernikahan sahabat dan pacarku. Anehnya, saat ini perasaan cinta pada Zafa yang dulu besar sekali sekarang sudah lenyap entah kemana. Mungkin aku mati rasa.
“Udah bunda bilang, jangan pulang sendiri. Tunggu manajer nya Nada, gak usah buru-buru.” Nasihat bunda tiba-tiba. “Sampai Indonesia malah hujan-hujan an lagi. Gak sadar apa kalo sakit suka lama?”
“Maaf bikin susah bunda.”
Bunda tidak setuju, Dia menarik wajahku yang sedang terbenam di lehernya. “Gak sama sekali ya, adik! Bunda bilang gitu maksudnya supaya kamu lebih sayang ke diri sendiri. Gak usah juga kamu datang ke cowok gak tahu diri kaya si Zebra!”
Oh, sepertinya bunda juga sudah mengetahui kabar pengkhianatan yang kualami. Ku pikir, dia tak tahu karena tak membahas sedikit pun atau bertanya-tanya mengapa aku pulang ke Indonesia sebulan lebih cepat dari rencana atau tentang aku yang membakar semua barang yang pernah ada kenangan antara aku dan Zafa di dalamnya.
“Namanya Zafa, bukan Zebra,” Ralatku.
“Hus! Apaan jadi bahas banci kaya dia? Jijik banget!”
Aku terkekeh mendengarnya. Sudah lama sekali tak mendengar omongan ke tidak suka an bunda kepada orang lain. Atau merasakan langsung kasih sayangnya yang melimpah untuk aku yang suka sekali tak menghiraukannya.
“Omong-omong ...” Seketika aku merasa hawa aneh mulai menyelimuti ruangan yang sedang dihuni oleh bunda dan aku. Jika bunda sudah memulai kata ‘omong-omong’ artinya akan ada perkara yang malas aku ba—
“Cowok yang antar Nada waktu ketiduran siapa?”
__ADS_1
--has.
Bolehkah kali ini aku melarikan diri saja? Karena aku pun tak tahu jawabannya. Hari itu aku hanya memeluk orang secara asal. Sama sekali tak peduli akan siapa dirinya, yang terpenting sedihku mereda. Namun sepertinya ... aku mulai menyesal.
Brak
Bug
“Nada! Si Zafa diba ... wah.” Kata terbata-bata yang diucap Sifa, berhasil membuat bunda langsung bangkit dari tidurnya.
Sudahlah, akan ada keributan baru setelah ini.
...
“Saya sama sekali gak kasih ijin kamu untuk menemui putri saya.” Suara bunda terdengar saat aku baru saja menginjak lantai dasar rumah. Dapat kulihat ada wujud Zafa yang menjulang tinggi dengan bunda yang menghalangi jalan Zafa di hadapannya.
“Kamu gak ada hak apa pun untuk bicara bahkan saling lihat saja dengan putri saya, tak akan saya beri ijin!” Bunda mulai meninggikan nada bicaranya. Tubuhku mulai gemetar dan gusar, takut akan apa yang akan terjadi setelah ini. Mengingat jika Zafa dan bunda sama-sama memiliki ego yang tinggi.
Aku lirik Sifa. “Lo sih, pakai teriak segala. Lihat kan, mereka berdua jadi adu argumen sekarang,” salahku pada perempuan berhijab hitam ini yang juga ikut panik. “Ya maaf, Da. Gue telepon kak Deril, deh, suruh ke sini!” Aku langsung menoleh terkejut kerahnya. “Kalo gitu langsung besar masalahnya. Udah biar gue aja yang maju.”
Sejujurnya tubuhku masih lemas, tapi harus kupaksakan untuk berjalan kearah bunda yang berdiri di dekat pintu. Bak pahlawan aku berdiri ditengah-tengah antara mereka berdua yang langsung lenyap suara berdebatnya.
“Bun ... udah. Masuk aja, biar Na—“
“Gak, gak, gak! Kamu aja yang masuk, jangan juga dekat si Zebra brengsek ini!” Tangan Bunda segera menarik lengan kananku dan menyembunyikan badan ku dibelakang tubuh Bunda yang mungil. Karena tinggi yang lebih dari bunda, aku masih bisa melihat Zafa dari belakang sini. Lelaki itu ... aku tak tahu apa yang mau dibicarakannya setelah dua pekan berlalu, setelah membuat aku merasa patah hati, setelah membuat aku semaksimal mungkin harus terlihat baik-baik saja padahal rasanya jiwaku seakan hilang arah. Apa yang diinginkannya lagi dari dalam diri ini? Rasa percayaku sudah direngutnya, perasaan cintaku juga telah habis ada padanya. Lalu, apa lagi yang—
“Sana pergi, dan jangan lagi-”
__ADS_1
“Kenapa saya saja yang harus pergi?” Suara Zafa mulai terdengar dingin. Aku tak yakin semua akan baik-baik saja. “Seharusnya tante juga gak punya hak buat ikut campur urusan saya dengan Nada, yang sebatas hanya anak tiri tante.” Aku terkejut, benar-benar terkejut akan kalimat jahatnya pada bunda. Belum sampai disana keterkejutanku, Zafa kembali berucap. “Tante dengan saya juga sama posisinya. Sama-sama orang yang pernah membuat Nada terpuruk.”
“Minggir, Bun.” Kali ini tak ada perlawanan dari Bunda. Aku maju menghadap tubuhnya. Menatap mata itu entah kenapa ingin sekali kucolek. “Apa? Sopan lo gitu bilang ke bunda gue?”
“Language, Na.”
“Bangsat, anjing, Babi, Kampret, Tai, sialan! Lo gak ada kendali apa pun lagi di diri gue, Zafa. Mau gue berapa kali pun bilang kasar, lo gak berhak larang gue.” Aku menepis segera lengannya yang akan menggapai jariku. “Sekarang juga lo pergi dari rumah gue!”
“Na, na please ...” Aku tetap mencoba mendorongnya keluar, meski lemas ku tetap memberontak kala tiba-tiba tangan Zafa akan memeluk ralat dia mencoba mendongakkan wajahku dan ingin membuat bibir kami bersentuhan. “Lepas!” tapi dia enggan mengikuti inginku. Saat jarak kami hanya dua jengkal lagi, bunda datang. Di detik selanjutnya tamparan Zafa terima dari bunda. “Keluar. Saya bisa laporkan kamu ke pengadilan.” Kata-kata bunda begitu tajam terdengar. Tapi aneh. Itu sama sekali tak membuat Zafa takut.
“Ayo, Na! Ikut aku. Aku jelaskan semua yang terjadi!” Gila. Menurutku Zafa telah terdeteksi tak waras. Lihat saja, suami orang ini malah kembali menarik tanganku padahal sudah bunda dan Sifa cegah. Belum lagi aku sudah berusaha melepaskan diri tapi gagal. Hingga tubuhku sudah ada di luar rumah, Zafa tetap menarikku. Ku liat ada sapu kayu yang biasa pak Ujang gunakan untuk membersihkan daun-daun kering yang berjatuhan, bersandar di dinding garasi. Dengan gerakan cepat aku ambil sapu itu lalu dipukulkan ke kepala Zafa hingga pegangan terlepas.
“Nada!” Aku berlari kearah bunda. Tapi belum sempat itu terjadi. Tubuhku telah dibalikkan dan tangan kekar yang tadi memegang erat lenganku, menampar begitu keras pipi gembul sebelah kanan, membuat jiwa yang tadinya lemas kini benar-benar terjatuh ke tanah. Aku terdiam, benar-benar termenung.
Bahkan saat seseorang pria berhoodie mint mengangkat tubuhku dan mendudukkan ke sofa ruang tamu. Aku tetap tak bergerak atau berucap apa-apa.
“Hey girl, look at me,” Suara itu. Suara yang pernah kudengar satu kali tapi sudah lampau. “I have promise with you. Sekarang, aku tepat in janji itu, okay? Jangan takut lagi.” Iya. Kata-kata itu. Aku ingat milik si pria yang 14 hari lalu memeluk ku di tengah hujan dengan payung hitamnya. Aish, sialan! Aku lupa namanya siapa.
Kali ini. Aku menatapnya. Sangat-sangat dalam, ingin mencari sesuatu hal kenapa ia selalu ada saat keadaan aku yang sedang terpuruk begini?
Dan kenapa, saat dia membawaku kedalam pelukan amannya. Aku tak memberontak? Kenapa detik ini aku membiarkan tangan miliknya menepuk-nepuk punggungku dan sesekali mengusap lembut?
Terakhir apa alasan, aku dapat dengan mudah menangis kembali di dekapan pria ini?
“Lo .... siapa?”
“Dia selalu pukul kamu, kan? Tenang aku balas semua perlakuan bejat dia ke kamu, hari ini.” Tidak menjawab pertanyaanku, tetapi. Kalimatnya, terlihat begitu sungguh-sungguh.
__ADS_1
...****************...