Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Pelukan dari lelaki asing


__ADS_3

...****************...


Baru saja aku dudukkan bokong didepan minimarket, Ponsel yang harusnya aku matikan itu berdering. Dengan kesal aku angkat panggilan dari kontak bernama abang Deril. “Apa?”


“Abang dikasih tahu manajer kamu, kamu lagi di restoran si Zafa. Abang mau minta tolong,”


“Bang Del, aku tuh baru pulang ke Indonesia, loh ... masa udah disuruh-suruh lagi?” tanyaku benar-benar tak habis pikir pada jalan pikiran kakakku satu-satunya ini.


“Ambil mobil abang di bengkel samping tuh restoran. Kasih tahu aja nama abang, nanti dia kasih kuncinya.” Jawaban yang sama sekali tak menjawab pertanyaan melas dariku tadi. “Bang aku mal—“


“Ada keuntungannya buat kamu. Kamu jadi gak usah bayar taksi lagi, tinggal jalanin mobil doang, terus bebas mau kemana aja. Hati-hati. Tenang udah dibayar.”


Tut


Dan langsung si Deril itu matikan. Ya tuhan ... hari ini Emosiku benar-benar dipermainkan. Meski ogah, tapi kakiku tetap saja melangkah mendekat ke bengkel yang untungnya saling berhadapan. Hanya dipisahkan oleh jalan raya.


Seperti gelandangan tak punya rumah. Aku berdiri dipinggir jalan masih dengan koper peach ku. Menunggu jalanan sepi agar aku dapat dipersilahkan untuk menyeberang. Gotcha! Kendaraan sudah tak ada yang berlalu lalang, dan ini tandanya aku boleh untuk melewati jalanan beraspal ini.


Dengan santai kuminum susu kotak yang dibeli di minimarket tadi. Saat satu langkah lagi akan keluar dari zona jalan raya, Motor melewat begitu kencang tepat di sampingku. Yang membuat segendang air bekas hujan menciprat banyak ke celana kulot dan jaket limited edition yang baru kubeli dua hari lalu. Sialan!


Air mata sudah akan jatuh dari pelupuk mataku, namun masih coba ku tahan dan segera masuk kedalam bengkel itu yang banyak sekali orang. Aku melangkah ke meja kasir, dan bertanya tentang pembawaan kendaraan. Lalu aku diarahkan kepada seorang bapak-bapak. Bapak ini sepertinya juga sedang sibuk akan mobil yang tengah diperbaikinya. “Permisi, pak,”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Mau ambil mobil atas nama Deril jewaki.” Ucapku. “Oh ini, mbak.” Langsung kuambil kunci yang disodorkannya. Dan setelah diberi tunjuk mobil yang mana aku segera masuk kedalam kursi kemudi. Dan menjalankannya keluar.


Hari ini, adalah hari yang paling ku benci. Jika tahu begini, aku tak usah memburu-buru pekerjaan menulis lagu dengan tujuan agar bisa kembali ke Indonesia tanpa ikatan kontrak dengan para penyanyi.


Aku juga tak usah, membeli barang-barang masak yang sedang dibutuhkan oleh Zafa. Atau, meminta tanda tangan penyanyi untuk Nela. Marah, kesal, kecewa. Perasaan-perasaan emosi yang sedari tadi aku tahan kini aku luapkan dengan berteriak, menangis dan diakhiri dengan ku pukul stir.


Aku tak tahu, sebesar apa salahku pada Nela sehingga ia merebut Zafa. Dan Zafa. Aku tak mungkin tinggal diam saja setelah dikhianati sesakit ini. Zafa harus tahu jika dia salah telah bermain-main dengan wanita pendendam sepertiku.


Tanpa kusadari air mata sudah berderai begitu deras di pipi, bahkan sampai berhasil mengeluarkan cairan putih dari hidungku. Kulihat langit didepan, sudah berwarna gelap saja.


Tin ... Tin ...


Aku menoleh ke samping kanan. Ada mobil merah. Keningku mengernyit kala sang pengemudi mobil itu menurunkan jendelanya dan berucap untuk menyuruhku menepi. Jika ini begal berarti bagus, aku saat ini sedang membutuhkan samsak untuk melampiaskan emosi.


Jadi, tanpa rasa takut kutepikan mobil milik abang tercinta ke pinggir jalan yang untungnya sepi. Aku segera keluar dari pintu, Kala pria tadi mengetuk kaca. “Apa?” tanyaku segera.


“Mobil kita tertukar, bapak-bapak tadi salah kasih kunci,” Ujarnya.


“Bener? Gue hari ini lagi mau banget pukul orang. Dan lo bisa jadi sasarannya kalo tipu gue.”


“Iya. saya serius.” Tangan lelaki berurat itu tiba-tiba menyodorkan sebuah kartu nama. “Jaminan kalo saya bohong.” Katanya lagi, dan kali ini aku buka kunci yang terpasang dari mobil lalu memberikannya kepada pria ini yang tadi kulihat namanya, Alshaf.


Dia juga sama memberikan sebuah kunci kepadaku. Aku mengangguk lalu berjalan menghampiri mobil yang terparkir dibelakang, bekas tadi dikendarai oleh Alshaf. Aku tak langsung menjalankan kendaraan beroda empat yang sedang kunaiki, dan memilih untuk menunggu mobil Alshaf lebih dulu pergi.

__ADS_1


Lebih ingin memastikan lagi, aku buka dasboard mobil milik abang. Mataku sedikit menyipit saat mendapati sebuah kertas undangan dan beberapa polaroid foto. Perasaan sedih yang tadinya sudah hampir berjalan jauh, kini kembali berbalik dan masuk ke dalam rongga perasaan.


Meluncurkan benih-benih air yang keluar deras dari kedua mata. Bahuku bergetar, untuk kesedihan kali ini aku tidak meraung-raung dan hanya menangis pilu. Bayangkan saja, undangan itu undangan pernikahan antara Zafa dan Nela. Tapi poin kesedihannya bukan di sana, melainkan di foto-foto polaroid nya.


Ada potret Zafa dan Nela yang sedang merayakan ulang tahun Zafa beberapa bulan lalu yang di mana pada waktu itu Zafa sulit aku hubungi dan mengatakan jika ia ada acara bersama para sepupu-sepupunya. Bodohnya aku percaya. Lalu di foto kedua, Ada Nela yang mencium Zafa tepat di bibir dengan latar belakang menara eiffel. Brengsek! Itu negara impianku jika akan honeymoon nanti.


Dan foto terakhir ... menunjukkan sebuah foto janin yang sepertinya masih seumur jagung karena aku belum mendapati di mana letak badan atau kepalanya. Tapi disana tertera jika itu adalah buah hati dari Zafa dan—


Tok ... Tok ...


“Bisa buka bentar, koper kamu ketinggalan.”


Ah iya, saking sedihnya aku hingga lupa koper kesayanganku masih tertidur rapi dibagasi mobil milik Alshaf. Aku menghapus segera jejak air mata di wajah walau masih tertinggal hidung dan kedua mata yang kemerahan. “Oh, iya sori kelupaan.” Aku berucap tanpa berani mengangkat wajah kepadanya.


Saat tanganku sudah akan menarik koper dari tangan Alshaf tanpa diduga Alshaf menarik daguku ke atas sehingga wajah kami kini saling berhadapan. “Awas!” Aku segera sadar dan menepis lengan Alshaf yang menghalangi.


“Are you okay?” Tapi dia seakan tak memberi jalan dan malah bertanya hal yang sedikit sensitif bagiku. Sungguh, aku tak tahu tetapi sedari dulu sekali setiap sedang bersedih dan tiba-tiba ada orang yang bertanya ‘lo baik-baik aja kan?’ atau ‘Kenapa nangis?’ setelahnya percayalah tanpa dicegah air mataku akan langsung mengalir deras.


Detik ini pun aku sedang menahan agar tak menangis. “Butuh pelukan? Janji, saya gak ca—“


Bug


Sial. Aku malah langsung masuk kedalam pelukan Alshaf. Memeluknya erat dan menangis sekeras-kerasnya. Langit yang tadi mendung sekarang malah menurunkan rintik-rintik hujan yang semakin lama semakin besar saja. Saat aku sudah akan kembali kesadarannya dan bersiap menarik tubuh dari pelukan Alshaf yang tak terbalas.

__ADS_1


Pria yang kuaku berkharisma itu membuka penahan payung dan memayungi kami berdua. Lalu tangan kirinya yang menganggur, membawa kembali tubuhku kedalam tubuhnya yang hangat, dan mengelus-elus punggung yang tertutup jaket. “Semua pasti baik-baik aja, i’m here for you.” Bisiknya dan langsung memecahkan tangis milikku kembali.


...****************...


__ADS_2