
...****************...
Nama Alshaf hari ini trending pertama di twitter. Pengguna aplikasi berwarna biru dengan lambang burung itu, sedang ramai-ramainya membicarakan penampilannya yang begitu menawan, kala fanmeeting kemarin sore.
Sudah tak aneh lagi di kalangan para karyawan ELVE, mendengar hal ini.
Apalagi, Alshaf ini tipe idola yang disayang sekali oleh para fansnya atau mungkin orang yang bukan penggemarnya pun akan tetap menyayangi ia. Sebab wajah lelaki itu yang kelewat seperti orang lemah lembut berhati malaikat.
“Nadaaaa!” Kepalaku menggeleng mendengarnya. Finka dengan tampang cerianya, datang dengan penuh semangat. “Lo, lo, lo harus tau!” Ibu hamil itu mengatur nafasnya lebih dulu. “Perusahaan sekarang traktir kita dinner! Te be el, takut banget lo gue ... tiba-tiba banget!”
Malam ini? Ini kan Jadwal aku dan Alshaf bertemu. Kita telah lama tak berkontak fisik secara langsung karena kesibukan yang dimiliki penyanyi bersuara emas itu, yang tengah padat-padatnya menjelang konser. Jangankan kontak fisik, saling mengabari lewat ponsel pun sudah sangat lama tak kami lakukan.
“Karyawan doang atau ... artisnya juga?”
“Ya semuanya lah!” Jawab antusias Finka.
Syukurlah, setidaknya aku masih bisa saling tatap dengannya.
__ADS_1
Aku elus perut Finka yang katanya baru memasuki bulan ke 6. Kadang aku penasaran akan siapa suami Finka. Dia ini terlihat seperti wanita mandiri. Pernah sekali waktu itu Finka ngidam ingin makan pancake durian, dan yang memenuhi keinginannya itu adalah Azel. Bukan sang suami. Tapi, ya sudahlah. Itu bukan urusanku juga.
Eh, tunggu. Aku jadi teringat ucapan Kak Mey yang bilang, jika mau mencari tahu sosok Alshaf maka aku harus bertanya kepada Finka. Memangnya apa yang perempuan ektrovert ini tahu?
“Finka,” Ternyata naluriku sebagai pacar dari lelaki itu memberontak untuk bertanya. “Kenapa-kenapa Nad??” Lagi, dia selalu antusias.
“Lo ada hubungan apa sama Alshaf?” Oh tidak-tidak itu terlalu buruk terdengar. “Lo tahu sesuatu tentang Alshaf?” Aduh kalo yang ini ... gimana, apa gak terkesan terlalu ingin tahu.
“Ngomong aja kali, apaan?”
“Alshaf itu gimana orangnya sih, Fin?” Tanyaku tak ada dalam list pertanyaan dipikiranku.
Tapi itu bukan jawaban yang aku mau. Aku segera pamit undur diri untuk pulang. Karena sejujurnya hari ini aku sedang mengambil jatah liburku dalam sebulan dan datang ke perusahaan hanya untuk membawa barang-barangku yang tertinggal.
Tadi, pertama kalinya aku lihat Finka gelisah dalam berbincang. Membuat aku tersadar, Pembahasan kami kali ini membuatnya tak nyaman.
Yang tadinya aku tak mau tahu sesuatu tentang Alshaf, sekarang aku malah sangat bersemangat untuk mengulik segala kisah hidupnya. Aku juga masih ingat percakapan antara Alshaf dan Kiran di balkon kala itu. Tentang ‘membunuh’.
__ADS_1
...
Karena sedang menjalani program diet. Aku membuat makanan siang menjelang sore ini, sebuah alpukat yang telah dipotong-potong dengan oatmel disisinya. Menurutku ini perpaduan yang yummy! Tapi bagi Eca ... terasa aneh.
Aku bawa mangkuk yang telah diisi dua menu tadi dengan segelas air putih sebagai pelengkap. Aku tidak terlalu suka jus campuran atau minuman manis kemasan.
Tubuhku menegang. Posisi sofa yang membelakangi lorong dapur, membuat aku tak mengenali sosok yang tengah duduk disana dengan pakaian sok misteriusnya.
Aku dengan gerakan perlahan dan tak menghasilkan suara, menyimpan mangkuk dan gelas di meja kecil yang menyimpan foto-foto. Lalu aku ambil sapu yang pas sekali berdiri di sampingku.
Pelan-pelan tapi pasti langkahku mendekati sosok itu. Saat tepat berada dibelakangnya, sapu ini langsung melayang ke bahunya. “Siapa lo?! Maling!” ujarku setelah memukulnya dengan sapu.
Sosok yang kuanggap maling mengaduh kesakitan dan berbalik. “Alshaf?” Lantas aku panik dan melempar sapunya ke sembarang arah. Dengan cepat aku dekati ia dan mengusap bahu yang terkenal pukulan tadi. “Maaf-maaf. Aku pikir kamu maling,”
Alshaf masih meringis. Sampai aku harus mendekatkan diri padanya yang kini menyandar pada sofa. “Sini biar aku—ih Al!” Dasar mencari kesempatan dalam kesempitan! Tiba-tiba lelaki itu menarik lenganku dan malah membawa aku kedalam pelukan eratnya. Hingga kami tertidur bersama si sofa sempit ini.
“Kangen kamu, Mrs. Cute...” bisik yang membuat kami tenggelam dalam rengkuhan kerinduan.
__ADS_1
...****************...