Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
kiran?


__ADS_3

...****************...


Walau senja sudah tiba, aku tetap duduk dengan laptop ditangan. Menulis kasar lirik lagu yang nantinya akan aku perlihatkan dulu pada Alshaf. Tadi sih, lelaki itu duduk menemani disisiku. Tapi sekarang dia sedang mandi dikamarnya. Hehe, yup! Aku masih betah berdiam di unit apartemennya.


Setelah dipikir-pikir, aku selalu merasa kesepian ada di unit sendiri.


Teng Tong


“Suara bel?” Jari-jari tanganku seketika berhenti mengetik. Aku tatap pintu dan kamar Alshaf secara bergantian. Sudahlah, aku bukakan pintunya Kasian juga sang tamu berdiri lama di luar.


Sekilas aku lihat siapa orang yang menekan bel dari layar hitam kecil samping pintu. Seorang perempuan berkoper silver. Dia siapa ya? Dari dandanannya sudah terbaca perempuan ini anak gaul abis. Dan mungkin umurnya lebih muda dari kami berdua.


“Mas Al! Eh?” Ralatnya langsung kala pintu baru terbuka. Dia panggil Alshaf mas?


Muka cerianya berubah kusut. “Lo siapa di apart pacar gue?” katanya bernada sewot.


Aku kikuk sendiri jadinya. “Ternyata dia udah punya pacar toh.” Dalam batin aku mengucapkannya. “Saya penulis dari lirik lagu Alshaf. Kalo anda..?”


“Kiran Aprliani Zasawa. Pacar tersayang Mas Alshaf.” Balasnya bergaya angkuh.


Tak ada salam perkenalan atau permisi, Perempuan bernama Kiran itu menerobos masuk kedalam dengan sengaja menyenggol bahuku. Sedang aku hanya bisa menghembuskan nafas kesal, bertingkat maksimal.


“Kalo udah ada pacar ngapain deketin gue terus sih?! Gatel banget tuh cowok. Untung gue baper sama dia masih dua puluh lima persen, belum full. Lagian emang dia mau tanggung jawab sama perasaan gue?” gerutukan selama jalanku menuju tempat aku menyimpan laptop tadi. Serius aku hanya ingin mengambil barang-barangku lalu langsung pulang ke unit—langkahku berhenti.


Perempuan tadi, ah Kiran. Didepan mataku tengah memeluk erat tubuh Alshaf yang masih berambut acak-acakan dengan keadaan bagian atas terekspos.


Ini kenapa kedua tanganku mengepal kesal ya? Melihat tubuh yang biasanya aku peluk kini direngkuh orang lain, membuat sebagian jiwaku merasa tak rela. Mungkin untuk beberapa detik Alshaf diam, namun sekarang, dia pun ikut membalas pelukan yang Kiran beri. Tak lama, senyum Alshaf merekah.


Sempurna. Tubuhku langsung gerah seketika.


Cup

__ADS_1


“Mas Al, Kiran kangen banget loh!”


“Kayanya mas yang lebih kangen sama kamu.” Tanpa terduga Alshaf membalas kecupan Kiran di kening perempuan itu.


Sialan! “Ehm, Al! Gue pamit pulang ya,” Kataku dengan cepat menyambar laptop dan tas. “Buat liriknya biar gue kirim lewat email.” Lanjutku.


“Gak akan di sini dulu aja?” tangannya menahan pundakku. “Gak, lebih enak di unit gue sendiri. Unit lo panas bener,”


“Nanti tinggal hidupin AC. Udah stay disini—“


“Mas, udah biarin aja. Gak bagus juga penulis lagu sama artisnya berduaan terus kan?” saat berkata, ‘kan’ mata Kiran menatap aku, membuat aku mengangguk. “Benar kata pacar lo. Gue pamit.” Tanpa melihat ke belakang lagi, aku langsung keluar dari sini.


Dadaku naik-turun. Panasnya masih terasa di seluruh tubuh. Ini kenapa sih?!


“Eh, Ada sahabat lamaku. Lagi ngapain?” Gila aku malah bertemu dengan pasangan aneh lagi—Zafa dan Nela— keduanya seperti mau pergi.


Dengan tampang malas, aku langsung masuk ke unit apartemenku. Sepertinya aku harus mandi dengan air super dingin.


...


Dia terlihat tengah memainkan jari-jari kukunya yang disulap menjadi begitu cantik. “Good. Baru kerja sama bareng ELVE kamu udah bikin aku lelah,” katanya yang tak kumengerti.


“Foto kamu pelukan bareng penyanyi yang fans nya sejuta umat, ke sebar di sosial media. Banyak wartawan yang telepon ke perusahaan Rafael, terus ... mereka semua telepon aku.” Kedua mata yang biasa menatap dengan penuh kasih sayang itu kini sepenuhnya berubah tajam. Seketika bulu-bulu kuduk ku merinding melihat Eca versi menyeramkan begini. “Padahal seharusnya hari ini jam aku tidur, kan?”


“A-a iya! Iya, harusnya jadwal kamu tidur. Sekarang tidur aja dikamar aku, bi-biar aku tidur di sofa aja. Iya kaya gitu aja...” Lihat, pelafalanku saja sampai tergagap begitu saking gugupnya.


Namun, Eca seakan enggan menerima usulanku. Dia melangkah mendekat kearah ku yang masih betah berdiri. Padahal niat awal pulang tadi ingin langsung mandi. “Nada, jangan mesra depan umum lagi ya? Tau gak, karena kalian pelukan di cafe UMUM tadi ... aku sampai gak makan siang, loh!” Ucap Eca kembali dengan menekankan kata umum. Dia dengan mimik sedih mengelus perutnya. “Laper banget perut aku ini gara-gara gak dikasih asupan...”


“O-oh Eca mau aku pesenin pizza atau makanan apa gitu? Tenang aja biar aku bayar.” Ucapku langsung.


Kepala Eca mengangguk beberapa kali. “Mie ayam pak Anton 3 sama jus mangga. Terimakasih temanku.” Setelah menepuk pipiku dia langsung berjalan cepat ke kamar dan menutup kencang pintunya.

__ADS_1


“Huft, astaga! Gue kaya di sidang!”


Sembari memesan pesanan sang ratu tercinta aku berjalan ke balkon luar lalu duduk di kursi. Balkon luar ini lebih besar ukurannya dari balkon yang ada di kamarku. Setelah semua terpesan aku istirahatkan tubuh dengan menyelonjorkan kedua kaki dan menyandarkan punggung. Lalu fokus melihat langit. Aku jadi terbingung, sejak kapan senjanya hilang?


Jika saat-saat begini, otakku secara otomatis selalu mengenang ke masa lalu. Memutar memori yang tak ingin kuputar tapi malah dengan lancang terbayang jelas di kepalaku.


Dulu sih, saat kuliah aku dan Zafa sering kali ke laut, lalu diam di bibir pantai hingga bulan tercetak jelas di langit. Kemudian kami berdua akan saling mengungkapkan segala keluh kesah di hari itu.


Yah, tak dapat kuungkiri meski Zafa telah menyakiti aku di akhir cerita kami. Tapi dia juga sudah memberikan banyak kenangan indah di memoriku dan sepertinya akan selalu tersimpan aman disana.


Ting


Oh, pesan dari sang kurir. Aku lantas segera beranjak dan membuka pintu sebab katanya dia sudah ada di lobi. Dan juga karena aku membayar menggunakan via bank jadi makanannya sudah dititipkan ke resepsionis.


Berbekal sendal jepit dan rambut di ikat asal aku menuju lobi. Untungnya di dalam lift hanya ada aku yang menjadi penunggu.


“Mau bawa barang atas nama siapa kak?” Kata sang resepsionis.


“Nada Jasila.”


“Baik, tunggu sebentar ya. Saya ambil dulu.” Aku mengangguk.


Menghilangkan rasa bosan aku ketuk jari ke tembok. Melihat sekeliling yang begitu-begitu saja, tak ada bedanya lobi apartemen ini.


“Hei, lo ... perempuan yang difoto itu kan?” Segera aku menoleh ke pria yang sepertinya sama sedang menunggu barang pesanannya. Aku tak mengenal dia. Jadi tetap kudiamkan saja.


“Oh benar ternyata. Salam kenal, gua Azri tinggal di lantai yang sama kaya lo, unit paling ujung. Semoga kita bisa ketemu kembali, bay.” Aku mengernyit aneh. Sumpah orang tadi tak jelas karena setelah berucap panjang lebar dia lekas pergi meninggalkan aku yang dilanda kebingungan.


“Kak ini pesanannya. Terimakasih.” Aku segera membalas terima kasihnya dan kembali ke tempat asalku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2