Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Dirawat


__ADS_3

...****************...


Ruangannya putih, dari jauh mata memandang pun yang dapat dilihat kembali hanya warna putih, setelahnya tak ada. Saat berucap, rasanya suara itu kembali berputar dan menjadi sebuah gema. Yang seketika memutuskan harapan Aku untuk menemukan jalan keluar dari ruangan ini.



Kuperhatikan diri sendiri dari bawah hingga dada. Rok setengah paha bermotif kotak-kotak monokrom, lalu baju blouse yang senada. Diingat-ingat perasaan aku pernah memakai setelan ini tapi entah untuk apa sebab tak teringat.



“Saya bilang, kan. Jangan paksa dan buat dia untuk ingat semua tentang kamu!” Bentakan itu terdengar tapi entah darimana sumbernya.



“Saya minta maaf. Saya hanya ingin mengajak dia ke tempat favorit kami dulu, tanpa ada maksud lain. Saya janji setelah ini akan lebih hati-hati.”



Aku berlari ingin mendatangi seseorang yang berbicara tadi. Nihil, dari arah mana pun yang didapati tetap saja ruangan putih. Lututku mulai melemas, mata mulai berkaca-kaca suara itu telah hilang dan tak terdengar lagi. Bagaimana ini? Aku tak menemukan siapa-siapa untuk dimintai tolong.



“Nada!”



“Siapa?” Teriakku membalas teriakan yang memanggil nama. Aku kembali berlari meski sedikit kesusahan.



“Aku di sini!” mataku berseliweran mencari sang puan. Dengan menyipitkan dan menetralkan cahaya putih di hadapan sana, senyumku merekah. Itu pasti jalan keluarnya!



Lama-kelamaan saat jarak aku dan cahaya semakin dekat, terlihat lah jelas sebuah pintu yang tengah dibukakan oleh seorang perempuan yang tak jelas wajahnya. Dia menampilkan gigi, tersenyum lebar padaku. Saat aku melewatinya untuk keluar dari pintu dia menahan bajuku.



“Titip dia.” Aku tak paham ucapnya dan hanya mengangguk lalu kaki bisa melangkah keluar.



“Dokter! Dokter!”



Tubuh ini serasa kaku, pernapasan tak semudah biasanya. Tapi aroma obat dan rumah sakit bisa kupastikan benar 100%.



Masih dapat kulihat, orang-orang bersetelan perawat datang membawa alat-alat yang tak ku paham, lalu dokter mulai memeriksa segala tubuhku, dan sepertinya aku dibius. Sebab semua kembali gelap.


....


“Buka mulutnya bentar ya? Kasihan perutnya belum diisi,” Alunan suara Bunda, kembali mengalun ditelingaku yang tengah memejamkan mata sesaat.



Aku menjawab dengan gelengan lemah, Tapi Bunda tidak menyerah, beliau begitu aktif membujuk dengan berbagai cara agar aku mau makan. Hingga ucapan selanjutnya darinya mau tak mau membuat aku menghela nafas dan membuka mata.


__ADS_1


“Kamu kalo gak mau makan terus, bunda panggil papah ya?”



“Jangan,"



“Yaudah makan dulu.”



Aku mengangguk. Kenapa pulang ke negara kelahiranku ini malah membuatku sering sekali keluar masuk rumah sakit. Padahal aku benci di infus, harus makan apa-apa yang diperintah oleh dokter saja dan hanya bisa terbaring tidur selama seminggu ini.



Sedangkan banyak pekerjaan yang terbengkalai. Kata Eca kemarin ada sebuah perusahaan musik yang ingin bekerja sama denganku namun belum ia iyakan.



Belum ada tangan bunda memasukkan sesendok makanan, pintu ruangan tempat aku beristirahat terbuka dan menampilkan wujud pria matang dengan baju tentara dan satu tas punggung yang beliau jinjing. Aku melirik kearah bunda, dan bunda malah bergidik masa bodo.



“Princess,”



“Ya, papah?”



Papah datang lalu mencium keningku, ia mengusap lembut rambut yang aku ikat satu. “Mau cepat keluar dari sini kan?”




“Kalo begitu, ikut semua yang bunda suruh, kalau dokter kasih obat di makan, jangan dibuang seperti kemarin.” Amanat papah, yang mau tak mau ku sanggupi.



Setelahnya, papah pamit ke kamar mandi karena mau bersih-bersih dulu sebab sehabis mengabdi pada negara, beliau langsung kemari ingin bertemu anak bungsunya. Kata papah sih begitu. Tapi aku malas mengakui rasa cinta papah yang begitu besar kepadaku.



Kepergian papah, membuat aku kembali memaksa diri untuk makan nasi bercampur sayur-sayuran itu, yang rasanya hambar. Kala mau disuapi makanan untuk kedua kalinya, aku tutup mulut rapat-rapat hingga mampu menukikkan kedua alis bunda.



“Nada, tadi kata papah apa? Makan dulu...”


Kedua bola mataku menatap bunda. “Emang aku nih, sakit apa, Bun?”


Sama seperti kemarin-kemarin pertanyaan ini sama sekali tak mau dijawab oleh Bunda. Aku jadi menanggung rasa penasaran akan penyakitku sendiri, mungkin setelah keluar dari rumah sakit ini, aku akan mengecek sendiri.



“Sini suap lagi,” Aku ikuti perintahnya. “Kamu waktu pingsan dianter sama penyanyi-penyanyi yang ganteng itu, loh Nad! Kok bisa? Katanya kalian juga tetangga an di apart ya?”


__ADS_1


Kunyahan di mulut aku hentikan sejenak dan menatap bunda. Bunda juga sama menatapku dengan senyum jenaka yang terlihat aneh karena baru pertama kali menemukannya. “Apawsih.” Balasku tak jelas sebab sedang mengunyah.



Lihat, Bunda malah tertawa dan menekan-nekan pipi gembul yang kupunya. Bunda mode jail begini begitu menyebalkan, ya?



*Cklek*



Perhatian kami berdua berahlih kearah papah, yang baru keluar dari pintu kamar mandi. Tampilannya lebih segar dari yang tadi, pakaiannya pun telah diganti dengan kaos hitam dan celana training. Seperti gerakan lambat, papah keringkan rambutnya sendiri lalu menyisir. Setelahnya beliau tersenyum ke arahku dan berjalan kemari. Tak khayal meski umur yang tak terbilang muda, papah tetap tampan dengan kharismanya.



“Udah makan?” Tanyanya.



“Barusan,”



“Minum obat?” wajahku pura-pura berfikir, papah terkekeh dan mencubit hidung mancung yang ku punya dari Gen Ibuku. Dia lalu memeluk tubuh ini dengan perasaan sayang yang membuncah. “Jangan sakit-sakit lagi, ya? Papah sedih.” Mendengarnya aku ingin tertawa, papah ini tubuhnya saja besar namun jika sudah urusan orang yang ia sayang malah jadi anak bayi!



“Iya, iya.” Aku uraikan pelukan kami. “Papah pensiun aja yuk kerjanya,”



“Gak mau, masih kuat kerja ini.”



“Iya deh iya...” Aku lirik bunda yang sedari tadi bermain ponsel, berpura-pura sibuk padahal aku tahu ponsel beliau mati.



“Bun, pah,”



Keduanya menoleh. “kapan Nada bisa keluar dari sini?”



“Lusa kayanya,” Jawab Bunda yang tak sadar tangannya telah aku genggam. “Oh gitu, kalo besok papah mau kerja?” Tanyaku kembali, lalu menyatukan tangan papah dan bunda hingga mereka saling menggenggam.



"Jadwal li--"



“Cie, papah pegang-pegang bunda.” Usilku yang langsung membuat kedua orang tua itu terkejut lalu genggamannya terlepas.



Aku tertawa besar melihatnya. Namun, tawa yang ada tidak bertahan lama kala tak sengaja menatap seorang Deril di pintu yang setengahnya kaca, Sedang berdiri dan menatap kemari, dengan tatapan ... datar?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2