Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Balkon dan bulan sabit


__ADS_3

...****************...


“Ca, ca! Please listen to me ...” Meski telah memalaskan nada suaraku, Eca mana mau berhenti dari kegiatannya atau hanya sekedar melirik.


Wanita yang hanya 3 tahun lebih tua dariku itu, tengah fokus akan map-map berwarna putih dan biru. Matanya meneliti setiap huruf per huruf di dalamnya lalu mencoret beberapa hal dengan pensil.


“Huft.” Jika begini aku jadi tak tega mengganggunya. Maka, dengan lunglai aku membangkitkan diri dari karpet, lalu mengayunkan kaki ke lantai kamar. Membiarkan Eca tetap menyelesaikan pekerjaannya diruang tengah sana.


Di keheningan kamar yang minim akan barang, aku berahlih duduk di kursi balkon, yang memberikan langsung pemandangan bulan sabit yang bersinar. Indah. Di sekeliling bulan itu terdampar bintang kerlap-kerlip yang banyak.


Sembari menikmati suasana dingin dan cantiknya kota Jakarta, pikiranku menerawang kepada kejadian beberapa jam lalu saat di restoran.


Kalau diceritakan, tak ada yang istimewa. Aku lebih banyak diam membisu ketika Eca, Zaki dan Alshaf bertukar lelucon, atau cerita hidup.


Aku jadi bingung sendiri, sejak kapan seorang Eca Asrifa dapat dekat dengan orang baru secepat itu. Dulu saja, saat pertama kali menjadi manajer nya, Eca harus kudekati hampir 3 tahun dan akhirnya kami bisa seakrab ini.


“Aneh.” Pikirku. Lalu meregangkan otot-otot pegal. “Cape banget, ya tuhan.” Setelah ucapan yang bervolume rendah tersampaikan, aku berahlih memejamkan kedua mata.


Menghangatkan diriku sendiri dengan kedua tangan sebab aku hanya memakai kaos sebahu tipis.


Buk

__ADS_1


“The fuck—“


“Apa? Aku lempar supaya kamu gak kedinginan. Pakai aja.”


“L-Lo!” ini benar-benar bukan terkejut yang dibuat-buat, melainkan nyata apa adanya kala menengok ke balkon tetangga, ada wajah Alshaf yang terpampang. “Ngapain di sini?” tanyaku setelahnya.


Dengan begitu santai lelaki itu ikut diam di balkonnya dengan bersandar pada pembatas kayu, dan menatapku begitu dalam.


Sama sekali tak menjawab pertanyaanku tadi. Dan malah menghirup vape yang ia bawa dari saku celana levis nya.


“Ck dasar!” Tadinya ingin menggerutu lebih banyak sebab asap yang ia hirup dan dikeluarkan melalui mulut itu terambang-ambang di udara lalu mengenai indra penciumanku. Tapi tak jadi, karena asapnya tercium seperti rasa stroberi – buah kesuakaan.


Jadi kubiarkan saja, dan kembali menatap langit.


Aku menggeleng malas. Pasti dia akan menjawab karena setengahnya lagi ada di hadapan aku. Halah basi!


“Karena bulan lagi di fase pergantian. Biasanya waktu awal-awal bulan, bulan sabitnya bakal samar dilihat sama manusia karena gak terkena sinar matahari,” Aku speechless akan jawabannya. Kulihat dia menjeda dahulu kalimatnya sebab menghirup kembali benda yang serupa dengan rokok itu. Aku mendengus kesal saat dia menyunggingkan senyumnya setelah berhasil mengeluarkan asap dari kedua hidung sekaligus mulutnya. “Lama-kelamaan sinar mataharinya bakal tetap kena juga ke bagian bulan. Yang akhirnya, buat kita bisa lihat dengan jelas bentuk sempurna dari bulan sabit itu sendiri.”


Dia tiba-tiba menghadap ku kembali setelah sedari berbicara hanya fokus melihat langit. “Gak usah buru-buru buat jadi sempurna. Bulan sabit aja harus tunggu berbulan-bulan buat dilihat sempurna sama manusia, apalagi kita?” Aku mengernyitkan dahi, bingung. “Konteks, omongan lo ini apa?”


Jarak balkon di apartemen yang tak terlalu jauh, dan aku yang duduk dekat dengannya membuat Alshaf begitu mudah menggapai lenganku. Aku mau menarik kembali tangan kiriku yang dipegang dan diulurkannya, namun tertahan saat jari-jari lebih besar dariku itu mengusap lembut sayatan-sayatan pisau di lengan belakangku.

__ADS_1


Matanya menatap aku. “Besok mau ikut ke paintsuft? Kita beli alat lukis, cat warna sama kanvasnya. Jadi kalo kamu lagi sedih, marah, atau bahagia sekalipun, kamu bisa gambar sesuka kamu disana,” Aku alihkan tatap kearah lain, sialan mengapa tiba-tiba suasananya menjadi mellow begini?


“Mrs. Cute, tangan secantik ini sayang kalo di gambar. Gak seru juga, warna yang keluarnya cuman merah aja.” Daguku tiba-tiba dipegangnya lalu digerakkan kembali, menghadap wajahnya. “Nanti besok siang, aku samper kesini ya? Sekarang udah waktunya tidur. Good night.” Lanjutnya, dengan diakhiri senyuman jahil seperti lelaki buaya.


Menyebalkan! Mengapa aku bisa mudah di tipu daya begini oleh orang seperti Alshaf yang kuyakinkan wanitanya bertebaran di seluruh Indonesia. Kali ini, aku langsung bangkit dari tempat duduk, melemparkan kembali selimut yang tadi ia lemparkan juga kepadaku. Dan segera masuk kedalam kamar, menghiraukan segala racauannya yang lebih diartikan gombalan dari mulut lelaki itu.


Ting


Aku buka kembali ponsel yang tadi mau di charger, dan melihat isi pesan yang datang.


+62 620 672 9821


Titip, kamu tidur nyenyak aja. Kalo mau mimpi indah, aku minta sekarang sama tuhan buat dateng ke mimpi kamu.


Sekali lagi, selamat malam, Mrs. Cute.


“Agrh! Gila, ni cowok punya gangguan mental kayanya. Hua ... kenapa gue gampang dibohongi sih? Kenapa juga tuh laki punya nomor gue?”


Setelah raungan-raungan kesal itu, aku memutuskan segera memejamkan mata.


Namun, baru beberapa menit aku kembali membukanya. Lalu berdoa dan kembali tidur. Tapi, tetap mimpi yang kulihat kembali sama.

__ADS_1


“Tuhan ... kenapa kabulin kemauan orang kaya si Alshaf sih?”


...****************...


__ADS_2