
...****************...
“Lirik yang ini mau aku ganti,” Ucap Alshaf yang tengah duduk di kursi studio dengan kacamata minus bertengger dihidungnya. “Kurang masuk ke reff.” Lanjutnya kembali.
Aku lantas berdiri dan duduk di sampingnya untuk menatap ke lirik yang dimaksud. Dengan saksama ku baca kembali. “Mau diganti kaya gimana?”
“Aku ketik dulu.” Setelah berucap itu matanya fokus menatap layar laptop, dan tak lama ia berikan kembali laptopnya.
Aku lihat lirik yang ia tulis. Begini lirik lagu 4 baris itu. ‘Tawamu semakin mendekat, dengan pelukan yang erat dan lenguh yang terdengar, kau kini menjadi milikku setelah perpisahan yang lama, kasih ... Ku’
Tidak, tenang saja. Mukaku tidak memerah karena liriknya. Ini sudah biasa. Aku segera mengangguk setuju kepada Alshaf yang bersandar dengan tatapan tertuju ke arahku. Dia pun mengangguk juga.
“Okay, berarti udah fiks kaya gini kan?”
“Udah,” Ku pikir setelah ucapnya dia akan segera beranjak. Tapi tiba-tiba tangannya menepuk-nepuk kepalaku dengan pelan. “Makasih udah kerja keras tulis lirik lagu aku ya, Mrs. Cute.”
Serius aku tak berani menatapnya jadi aku berpura-pura saja akan tulisan-tulisan di layar laptop. Ini juga jantungku berdegup begitu kencang tak seperti biasa. Aneh, aneh. Mana ada orang jatuh cinta secepat ini setelah ditinggal nikah sama mantan yang pacarannya hampir 5 tahun lebih.
“Nada, kenapa? Ada lirik yang salah?” Tanyanya mencoba menatap wajahku yang menunduk. “Gak, gak ada.”
“Terus?”
“Apa yang terus?” kali ini aku beranikan mendongak. Suasana antara kami berdua seketika berubah romantis kala kami memilih saling tatap dengan jarak yang hanya 3 jengkal tangan saja.
Aku merasa dejavu akan adegan selanjutnya, seperti drama Korea yang kutonton kemarin.
__ADS_1
“Nada,” aku meneguk ludah gugup.
Wajah Alshaf mendekat dan aku tetap diam. Sekarang Mataku yang mengerjap, saat jari-jarinya mengelus bibir bawahku dengan tatapan sendu. “Boleh?” Aku meremang mendengar suara tanyanya yang serak. Ternyata Rafael dengan suara seraknya lebih seksi ketimbang saat bernyanyi.
Rafael membuka kacamata yang bertengger dihidungnya, ia lalu mendekat dengan kepala miring. Tanganku meremas hoodie hitam miliknya. Aku menahan napas saat sedikit lagi bibir kami akan bertemu. Ya tuhan, aku gugup setengah mati. Refleks mataku memejam tatkala benda kenyal itu menyentuh bibir—
“Nad, Nada, Hei kenapa melamun?"
Aku melotot langsung. Sialan tadi aku membayangkan apa! Pasti sekarang pipiku memerah.
Tangan Alshaf memegang keningku, dia masih duduk dihadapanku, tanpa ada ciuman apapun seperti bayangan mesumku tadi.
"Kamu sakit?" Tanyanya khawatir. Aku segera menggeleng. "Aku keluar." Langsung saja aku bawa laptop dan kekuar dari studio penulisan ini.
Jiwaku terlanjur malu, meski Alshaf tak tahu apa yang ku bayangkan tadi..
...
Ditemani segelas susu hangat dan macaron red velvet, aku ratapi kendaraan yang sedang macet dibawah sana.
Brak
"Eh!" Kejutku dan langsung menatap sang pelaku. Yang tadinya aku mau marah, jadi urung karena melihat wajah garang Finka. Lalu dibelakang wanita hamil itu ada Azri, Kak Mey, Mas Reto dan Sinta.
Mereka berlima mengambil duduk dimejaku. Aku lantas mengernyit bingung. Gue habis lakuin kesalahan apaan ya?
__ADS_1
"Lo ada uwuwu sama Alshaf kan?!" Todong Finka tanpa aba-aba.
Membuat aku diam tak berkutik. Ini aku harus jawab apa? Sebab aku juga tak merasa punya hubungan spesial dengan pria itu. Maka dengan tak mau ambil pusing, kepalaku menggeleng.
Tapi Finka tak percaya, ia lantas mengotak-atik ponselnya dan memperlihatkan kepadaku sebuah foto. Yang dimana foto itu menunjukkan aku dengan Alshaf yang tengah berpelukan di Cafe kemarin.
"O-oh itu..." Ya tuhan bantu aku cari jawaban. Melihat tatapan mereka semua yang menatap tajam aku, membuak otakku blank.
"Tapi kalian kayanya gak mungkin pacaran," Berkat ucapan Kak Mey sekarang semua atensi tertuju padanya. Termasuk aku.
Finka yang sering heboh mendekat pada Kak Mey yang duduk di hadapanku. "Lah kenapa?" Tanya Finka.
Aku menunggu jawabannya apa. Penasaran juga, kenapa Kak Mey sedari awal bertemu denganku seperti tak suka ... Aneh sekali bagiku. Padahal bertemu pun baru sekali ini.
"Tadi aku liat Aslhaf lagi ciuman di balkon belakang." Mendengar ungkapan Kak Mey membuat kedua bola mataku membesar, kaget.
"Kak ... Serius?" Lihat, Sinta yang adem ayem dan tak peduli akan gosip, sekarang malah bertanya.
"Ngapain juga bohong?"
Serius. Ini aku tak paham akan perasaan cemburu hanya karena mendengar lelaki yang belum ada hubungan apapun denganku ciuman dengan cewek lain. Tapi ... Sebagai mantan wanita yang disakiti karena gengsi, bolehkan aku kali ini agak agresif?
"Balkon belakang yang mana kak? Yang dekat ruangan rainbow, studio rekaman, ruangan aku, atau yang di lantai--"
"Dekat taman yang biasa kamu duduk." Maka setelah mendengar jawabannya aku bangkit dari meja kantin, meninggalkan makanan yang masih tersisa banyak itu.
__ADS_1
Saking fokusnya akan berita dari Kak Mey, aku jadi tak melihat senyum miring dibibir wanita itu.
...****************...