Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Dua delapan


__ADS_3

...****************...


"Apa ini?"


"Hadiah dari ibu," Jawab Alshaf. "Dia suka sama kamu." Lanjutnya kembali setelah menekan tombol lantai, yang akan dituruni mereka dari lift.


Nada diam. Ia dan Alshaf tak berlama-lama mampir di rumah orang tuanya. Setelah makan bersama, mereka segera memutuskan untuk pulang.


Sejauh ini, sikap ibu dan ayah lelaki itu tergolong baik pada Nada. Yah, cuman sedikit jahil saja.


"Al,"


Alshaf yang memang sedang memandang Nada, menaikan salah satu alisnya. "Kenapa?"


"Gak jadi deh."


Tubuh Alshaf menegap sempurna. "Dih, apa coba?"


"Dibilang gak jadi juga,"


Alshaf mendengus. Dia langsung memonjokkan tubuh Nada ke sudut lift. Untungnya hanya ada mereka berdua disini. "Jawab dulu ah,"


Nada memalingkan wajahnya ke samping. Dia rasa ini terlalu intim.


"Nad ...." Suara Alshaf mulai memberat. Nada sadar itu, dia lantas menatap kedua bola Alshaf yang sudah menatapnya dengan sayu. Loh? Loh? Kenapa lelaki ini jadi lemah begini?


Belum selesai kebingungannya, Alshaf tiba-tiba memajukkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di pundak Nada, dengan kedua tangan yang memeluk pinggang Nada posesif.


"Al, lepas dulu ih gak enak. Takutnya ada yang--"


"Diem dulu bisa." itu bukan pertanyaan melainkan sebuah pernyataan yang harus Nada ikuti.


Maka dia diam. Tapi kali ini, mulut lelaki itu yang tak bisa diam. Mula-mula meninggalkan ciuman di pundak yang terhalang kain, lalu Alshaf mulai naik ke tulang selangkang Nada dan terakhir. Bibir itu didiamkan lama oleh sang puan di leher yang begitu dekat dengan telinga kanan wanitanya.


Nada gelisah ditempat. Tangannya sudah mencengkram ujung baju yang dipakai Alshaf. Dia menjilat bibir bawahnya, lalu berahlih menatap layar. Satu lantai lagi mereka sudah akan sampai.


Ting


Secepat kilat Nada mendorong tubuh Alshaf, dan segera berlaru keluar. Meninggalkan Alshaf yang mengacak-acak rambutnya. "Bego!" Umpatnya.


Tapi tak khayal, Alshaf secepat mungkin mengejar Nada dan menahan kedua tangan perempuan itu saat sudah akan masuk ke dalam pintu unit apartemen nya.


"Nad .... Sorry. Aku kebawa suasana tadi,"


Tanpa disangka, Nada tersenyum. Dia usap kepala Alshaf dan merapihkan rambutnya "Gak apa-apa. Aku cuman kaget doang." Ucap Nada. "Aku mau ke dalem, kamu mau ikut?"

__ADS_1


"Maunya gitu, tapi aku ada urusan harus rekaman lagi," Alshaf berahlih mengusap lembut pipi perempuan itu. "Udah sana masuk, nanti aku pesenin makan buat kamu."


"Ih apasih! Baru juga makan loh tadi,"


"Ya gak apa-apa kali."


Dengan begitu Nada mengangguk. Sebelum ke dalam, ia tatap Alshaf yang tersenyum.


Nada memajukkan wajahnya, tanpa terduga dia mencium bibir tebal milik Alshaf. 10 detik penyatuan bibir itu. Dengan Alshaf yang mematung tak percaya. Sedangkan sang pelaku langsung lari masuk dan menutup pintu dengan kencang.


Tangan Alshaf menyentuh bibirnya. "Dia cium gue?" Lirihnya yang lantas menerbitkan senyum penuh bahagia. Oh ralat, senyum kemenangan.


...


Teng Tong


"Bentar!" Nada segera memakai bajunya, membiarkan rambut yang basah karena keramas, terbungkus oleh handuk.


Dia yakin, orang yang menekan bel adalah Alshaf. Kekasih Nada itu bilang akan kemari karena rekamannya selesai lebih cepat. Yang membuat Nada lebih happy adalah, Alshaf membawa mie ayam! Hehe, hari ini Nada akan bolos dulu dalam edisi dietnya.


Pintu terbuka, ekspetasi Nada roboh.


Bukan Alshaf orangnya.


Tangan Nada sudah akan menutup pintu kembali, namun tangan orang itu menahan dan langsung menyodorkan sebuah kotak.


Mata Nada menatapnya malas. Biasanya perpaketan akan disimpan di resepsionis, dan dirinya langsung yang akan membawa kebawah.


Tapi meskipun begitu, Nada tetap mengambil kotak itu dari genggaman Zafa tanpa sepatah kata apapun.


"Nad, bentar," Cegah Zafa. Membuat Nada menghembuskan nafas.


"Maaf .... Untuk semua yang aku lakukan ke kamu," Kalimat pertamanya mampu menghentikan langkah Nada.


"Untuk setiap pukulan yang aku beri, untuk setiap kebohongan yang aku ucap waktu kamu ada di luar negeri sana, untuk .... Pengkhianatan yang aku lakukan dengan sahabat kamu sendiri. Semua itu aku minta maaf. Kamu punya hak untuk memafkan aku atau gak. Itu hak kamu. Tapi asal kamu tahu, setiap malam aku selalu merasa salah--"


"Cuman setiap malam aja?" Nada membalikkan tubuhnya.


"Ya?"


"Harusnya Tuhan kasih rasa bersalah di diri lo setiap detik, menit atau bahkan setiap lo nafas. Baru seimbang," Lanjut Nada. "Gue disini nangis tiap saat, ngerasa sakit setiap inget elo. Dan lo nya malah cuman pas malam aja ngerasa salahnya." Nada terkekeh.


Zafa akan kembalu berkata. Tetapi, sosok Alshaf keburu muncul dari sampingnya. Lelaki yang berstatus sebagai pacar Nada itu merangkul pundak Zafa yang lebih rendah.


Senyum Nada mengembang karenanya. Alshaf akan selalu ada disetiap ia membutuhkan bantuan.

__ADS_1


"Pergi, tahu kan konsekuensi apa yang lo dapet kalo deket Nada lagi?" Bisik Sang kekasih Nada itu. Yang langsung membuat Zafa pergi.


Nada tanpa kata menarik tangan Alshaf untuk masuk ke dalam dan mengunci pintu apart.


Keduanya saling tatap dibelakang pintu, dengan punggung Nada sebagai penopang. "Mau pindah apart?" Ucap Alshaf yang begitu dekat dengan wajahnya.


Jarak keduanya yang hanya beberapa senti saja, apalagi dengan Alshaf yang menunduk, membuat Nada merasakan nafas hangat lelaki itu.


Tanpa menjawab melalui lisan, Nada menggeleng. Lalu berpetualang dalam menatap kedua mata Alshaf. Lelakinya selalu menatap dengan tatapan penuh puja dan sayang.


Beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Nada, Alshaf singkirkan. Dia yang tadinya mau maju untuk menyatukan kedua bibir mereka, berahlih memeluk erat tubuh Nada.


Nada terkekeh saja. Sembari tangannya mengelus punggung Alshaf.


...


"Sama aku dibukanya,"


"Jangan ah!"


"Belum apa-apa udah desah."


Nada refleks memukul keras bahu pria itu. Padahal mereka hanya mau membuka kotak yang diberikan Zafa, tapi Alshaf begitu ribet.


Tanpa mau mendengarkan perkataan Alshaf lagi, dia langsung mengunting bagian penutup. Hingga kini, kotak itu terbuka.


"Apa isi--"


"Alshaf!" Teriakan terkejut yang diiringi lemparan kotak oleh Nada itu membuat Alshaf yang duduk lumayan jauh segera mendekat.


Dia ikut terkejut kala mendapati sebuah bangkai tikus dengan darah yang masih bercucuran tersimpan rapih disana bersama plastik yang membungkus ketat bangkainya.


Tubuh Nada bergetar. "Si bangsat!" Umpat Alshaf.


"Udah, udah aku gak apa-apa. Udah biasa--"


Kedua alis Alshaf menukik sempurna. "Maksud kamu udah biasa?"


"Engga, bukan-bukan gitu. Jadi..." Nada tergagap lalu terdiam tak mampu mencari alasan. Sedang tatapan Ashaf kini begitu tajam padanya.


"Oke, fine." bagaimana pun Nada tak bisa menyembunyikan apapun kepada Alshaf. "Dua minggu kebelakang ini, suka tiba-tiba ada paket kaya gini didepan pintu apartemen aku. Aku seriusan gak tau siapa pengirimnya Al..." jelas Nada setelahnya.


Urat-urat hijau milik Alshaf menonjol begitu kentara di leher dan tangan kekar hasil gym setiap minggunya itu. Tanpa bisa dicegah Alshaf pukul tembok disebelah Nada. Membuat perempuan itu memejamkan kedua matanya.


"Kamu pindah ke rumah aku. Aku janji, secepatnya dia bakal terima hukuman karena udah teror kamu, Nada." ucap Alshaf dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2