Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Jalan bersama Alshaf


__ADS_3

...****************...


Suara bel di waktu libur itu adalah hal yang paling mengganggu. Impian untuk bermalas-malasan sehari penuh dikamar, menjadi berantakan, apalagi jika atasanmu tiba-tiba memberikan pekerjaan yang mendadak. Hancurlah sudah kesenangan yang telah terbayang-bayang di memori.


Kata-kata diatas sedang menggambarkan keadaanku kini. Dengan baju piyama pororo dan rambut acak-acakan, serta sendal jepit rumahan, aku berjalan ke pintu lalu membukanya dengan kasar. Tanpa harus melihat siapa sang gerangan, sudah bisa kutebak ia ...


“Good morning, Mrs. Cute,” Siapa lagi jika bukan lelaki penganggu, menyebalkan, player, alias Alshaf. “Gue tadi udah bilang ke Eca, kalo kita mulai kerjanya dari besok aja. Sekarang waktunya gue istirahat.” Saat mau kututup kembali pintu apartemen, pria itu mencegah dengan kakinya, sebab tenaga yang lebih besar, Alshaf berhasil masuk kedalam.


Dengan tak tahu malu, Dia mendudukan diri si sofa lalu membuka ponselnya dan mengetikan sesuatu disana.


Baru saja, mau ku usir pria itu, suara pesan dari ponselku berbunyi.


Ibu manajer


Da, kamu sekarang aja ya ngobrol-ngobrol tentang lagu apa yang dimau Alshaf.


Supaya cepet beres, goodluck!


Nada


Males, ecaa. Batalin aja kontraknya, kita cari penyanyi lain aja


Ibu manajer


Heh kamu ya! Susah cari uang tuh, mayan yang ini bayarannya bisa buat kamu liburan ke setengah kota di indo


Awas kalo gak ikut kata aku ya nada!


Kesal, kesal kesal! Dasar Alshaf si tukang suruh selalu membuat semua berantakan! Maka untuk menyalurkan emosi marah yang tak dapat diungkap oleh ucapan, aku entakkan kaki hingga sampai depan kamar, sebelum masuk ku lempar ponsel keluaran 2022 itu ke arah Alshaf.


Nihil, tangan besarnya lebih dulu menangkap benda kotak itu lalu menatapku dengan tatapan jahil dan senyuman miring. “Santai aja, kenapa? Untung gak kena kepala.” Katanya begitu menyulut emosiku kembali.


Brak


Suara gebrakan pintu yang kuharap mampu menggertakkan hatinya dan membuat ia pulang tanpa ku suruh.


...


“Mrs. Cute, bagus warna Cobalt Blue, apa Phthalo Blue?”


Tampang ogah-ogahan kuberikan kentara sekali padanya. “Nih.” Balasku dengan malas sembari menunjuk cat warna yang ingin dibelinya.


“Hm. Kak yang Phthalo Blue.” Mataku melotot padanya, padahal tadi aku menunjuk warna Cobalt Blue, loh! Tapi tiba-tiba alshaf malah menjawab sebaliknya. Kalau begitu buat apa bertanya? Menghabiskan saja energiku untuk berbicara.


“Baik, kak,”

__ADS_1


“Saya langsung bayar kasir kan?”


“Iya.” Jawab karyawan Paintsuf itu, yang kemarin malam Alshaf memintaku kemari. Paintsuf ini tempat di mana alat-alat melukis dijual, bahkan ada yang impor dari luar negeri, katanya.


Keningku mengernyit, saat baru mau melangkah pergi mengikuti Alshaf, karyawan wanita yang tadi melayani kami mengeluarkan ponsel menghadapku, lalu teriakan mba-mba nya terdengar.


“Ini Alshaf penyanyi itu ya? Boleh aku minta foto?”


Sebelum menjawab, lelaki itu melirik sekilas kearah ku. “Boleh.”


“Umm, makasih banyak! Kak boleh tolong foto pakai handphone ku?”


Mau menolak tapi kasihan juga melihat wajah antusiasnya sebab bertemu Alshaf, jadi kuiyakan saja lalu mengambil beberapa potret fans bersama idolanya, setelah selesai kuberikan lagi pada dia.


“Sorry, kalo tadi—“


“Bisa dipercepat aja gak? Gue laper belum makan.” Kalimat yang mungkin terdengar terlalu kasar. Namun memang begitu adanya, emosiku sejak tadi naik turun hanya karena lelaki bernama Alshaf yang kini tengah membayar seluruh belanjaan di kasir.


Aku dengan baju tanpa lengan putih, dipadukan overall bunga-bunga kecil, menunggu di luar dengan gaya songong sembari menatap punggung Alshaf dari sini.


Alshaf itu menyebalkan, sifatnya bikin naik darah tapi Tuhan memberi dia kelebihan dalam wajah dan suara. Um, bukan wajah saja sih, tapi fisiknya pun.


Ingat fisik pria itu malah mengantarkan aku ke kejadian di mobil kala sebelum masuk ke toko paintsuf ini.


Tanganku yang tadi sudah siap membuka pintu mobil, malah ditahan oleh Alshaf. “Kenapa?” tanyaku. Tidak dijawab olehnya, karena ia seperti tengah memerhatikan daerah luar parkiran ini.


“Hm. Tunggu bentar.” Aku menatap seluruh kegiatannya saja yang sedang membawa sesuatu di kursi belakang tanpa ada kecurigaan sama sekali. Tapi mataku langsung melotot saat tiba-tiba dia membuka kaos hitam bertuliskan 'Hotter than your ex’ dan membuangnya asal.


“Eh, diam gak! Mau ngapain coba?” Cegahku, saat Alshaf dengan keadaan dada telanjang mengurungku. Dia menatap ke bawah tepatnya untuk menatap aku yang sudah berwajah marah. “Maaf bikin kamu kaget. Aku cuman mau ambil baju sama masker yang ke gantung dibelakang kamu.”


“Nada, hei, nad?”


Aku mengerjap dan menggelengkan kepala. “Udah beres?” bodoh. Ya pasti udah, lah. Gara-gara memikirkan bentuk perut Alshaf mukaku panas dan otakku tiba-tiba tak bekerja. Dasar!


“Hahaha, kenapa sih, Nad?” Tawa yang sepertinya baru pertama kali kudengar darinya. Tapi mengapa, tawa dari tuan Alshaf ini begitu merdu. “Gak. Gue mau makan, ayo!” Ajakku segera, mengalihkan topik.


Aku sama sekali tak mengucap akan dan ingin makan apa. Jiwa ini hanya mengikuti kemana sang pengemudi mengendarai kendaraan beroda empat, dengan iringan playlist lagu yang sering kudengar di aplikasi hijau.


Berkendara dengan seorang Alshaf tak terlalu buruk. Dia menjadi patung, dan tak akan mengajakku bersuara, mungkin hanya sesekali berucap untuk hal-hal yang menyangkut aku di dalamnya.


Mata yang tadi sudah akan terkatup rapat, perlahan terbuka kembali. Aku termenung kagum melihat jalan yang dilalui mobil yang sedang ditumpangi kami berdua.


Deru ombak pantai menerpa dari sisi kiri jalan, burung-burung yang entah apa jenisnya beterbangan dengan begitu lihai dan kompak diatas langit sana. Eits, bukan petanda tsunami, ya!


Baru saja aku mau bertanya kita mau makan apa di sini, sebuah bangunan yang terdapat rotan-rotan bambu terlihat semakin dekat bersamaan dengan laju kendaraan yang mulai memelan. Aku menoleh pada Alshaf kala ia mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. “Kita disana makannya?” Tanyaku sembari menunjuk bangunan yang kusebutkan tadi.

__ADS_1


“Iya. Kenapa? Kurang nyaman?”


Refleks kepala berambut terurai ini menggeleng. “Kalo iya di sini, gue happy banget!”


“Nice. Jangan dulu turun.” Titahnya yang belum aku jawab tapi dia telah keluar dari mobil dan masuk kedalam restoran CER. Kurang paham mengapa sang pemilik memberikan nama itu dan menempelkan besar-besar di samping pintu.


Mengalih tatap, aku ratapi pemandangan pantai yang baru kutahu jika di tengah-tengah ibukota ada tempat cuci mata secantik ini. Suara ombaknya tak kencang namun menyejukkan indra pendengaran, angin sepoi-sepoi menerpa wajah, karena kubuka jendela mobil yang begitu menghanyutkan diri hingga tanpa pamrih kedua mataku memejam.


Tak terhitung berapa detik atau menit aku terhanyut dalam tenangnya lautan. Sinar matahari yang tadi menerpa wajah tiba-tiba lenyap, memaksaku untuk membuka kedua indra penglihatan. Tiga kali ku mengerjap agar dapat memastikan bahwa benar jika lelaki rupawan yang sedang menghalangi silaunya mentari ke arahku adalah Alshaf.


“Kita makan di gazebo dalam ya? Di sana pemandangannya lebih bagus dari ini.” Katanya.


Karena rasa penasaran yang lebih, aku mengangguk lalu dituntunnya kearah pintu kayu tadi. Wow ternyata hanya tampak luarnya saja yang kecil namun jika masuk lebih dalam, restoran di bibir pantai ini begitu luas dan benar, lebih cantik dan indah.


Mau ku protes padanya mengapa kita sejak tadi terus berjalan dan melewati banyak meja kosong, tiba-tiba pandanganku menemukan gazebo tunggal kala kita masuk lagi kedalam satu pintu paling belakang. Di sekeliling gazebo itu ditumbuhi bunga anggrek, lalu ada juga gemercik air dari sungai mini buatan. Aneh kan? Masa di pantai begini bisa tanam bunga berwarna ungu itu. Walau sebenarnya aku bahagia juga sebab anggrek adalah tanaman kesukaan.


“Restoran ini seperempat nya milik aku, sengaja sekarang kosong, buat perayaan ada penulis lagu terkenal yang datang ke sini.” Kepalan tanganku meninju bahu kokohnya yang tertutup jaket. Bukannya mengaduh, Alshaf malah terkekeh karenanya lalu menarikku untuk duduk di dalam gazebo itu.


“Astaga!” kedua mataku membola terkejut. Melihat langit diatas sana yang tak tertutup atap apa pun. Bayangkan saja, saat penglihatan di hadiahi pemandangan awan warna-warni yang menggumpal di langit biru sana.


“Itu namanya awan Pileus Iridescence atau awan Scarf. bisa cantik gitu karena ada pengembunan waktu udara lagi naik pas cepat-cepatnya. Kalo warna rainbow di dalem awannya berasal dari sinar matahari yang terdifraksi sama tetes air dan kristal es.” Jelas Alshaf begitu santai.


“Lo tuh tahu dari mana sih, tentang dunia per luar angkasa an ini?” Serius ini aku betul-betul ingin tahu. Dari cara lelaki yang kini tengah menumpukan tubuhnya di kedua tangan, menjelaskan bagaimana fenomena alam yang aku temui, bisa terjadi, begitu membuatku sering kali speechless.


Kulihat mata Alshaf menyipit karena tawanya sendiri, ia lalu memprosakan seluruh tubuhnya ke arahku, dan menopang wajah menggunakan tangan kanannya yang menganggur. “Dari ..... siapa ya? Gua juga lupa. first love, mungkin?”


Dua alisku menukik. Jangan salah paham reaksiku karena perasaan cinta, aku hanya terkejut lelaki buaya ini punya cinta pertama. Biasanya orang-orang seperti dia anti sekali berani jatuh cinta, dan lebih banyak membuat hati wanita yang menjatuhkan cinta padanya.


“Permisi, ini pesanannya.” Aku menoleh, beragam makanan yang 90% olahan seafood, datang memenuhi meja, lalu diakhiri dengan dua minuman yang tak kalah menggiurkan, untuk kami.


Setelah pelayan itu pamit, aku tatap dalam Alshaf, yang sekarang sudah bersiap makan.


“Makan, ngapain liat kaya gitu?”


“Kok gak tanya dulu gue mau apa?”


Dia menggeser piring berisi nasi yang dihias daging ikan, lalu membukakan sumpit yang masih tersegel plastik, untukku. “Namanya, ecir salmon, makanan termuda di restoran ini.” Tadinya ingin marah tapi karena mendengar ucapannya, malah membuat humor rendahku berkobar. Yang mengakibatkan aku tertawa olehnya.


“Seriusan, Nad. Dia baru dibuat seminggu lalu di sini. kalo yang itu sampingnya, huha hihu,”


“Ha? Aneh banget. Apa coba sekali lagi namanya?”


“Huha hihu, Nada.”


“Huha hihu, sayang,” keningku pening. “Cinta kamu. Sekarang, besok, sampai nanti, deh!” saat ingatan kata-kata orang lain muncul kembali di memori, pening ditambah sakitnya benar-benar dalam. Aku menggapai semua hal yang ada di edaran hanya untuk bangkit. “You jerk! Liar! Aku benar-benar benci kamu, Mo—“

__ADS_1


“Hei! Nad, wake up, Nad! Dengar aku?” Setelahnya aku tak dapat menerima suara apa pun lagi.


...****************...


__ADS_2