Mrs. Cute Milik Alshaf

Mrs. Cute Milik Alshaf
Rahasia dan amukkan


__ADS_3

...****************...


“Permisi, saya atas nama Nada Jasila. Mau bertemu dengan dokter Rahma.”


Resepsionis itu mengangguk, “Baik, tunggu sebentar. Sebelumnya sudah membuat janji?”


“Sudah.” Aku lantas memilih duduk dikursi kosong yang berada didepan ruangan dokter yang ingin kutemui tadi. “Kak, kakak seriusan Nada Jasila yang nyanyi di Youtube itu kan?!” Sejenak aku sterilkan dulu kedua telinga yang berdengung karena suara kencangnya tepat di indra pendengaranku.


Aku menoleh kearah perempuan muda yang kedua rambutnya diikat. Dia memakai baju pasien dan menunjukkan ekspresi wajah yang begitu semangat.


Otakku bekerja keras mengerti apa maksudnya.


Ah, iya. Aku ingat. Dulu aku pernah menulis sebuah lagu yang kutunjukkan untuk Zafa. Dan aku upload nyanyianku di Channel Youtube tanpa wajah, disana pun hanya tertera nama lengkapku saja. Mungkin dia tahu aku dari sana? Kurang yakin juga, sebab aku tak berekspetasi akan ada yang menontonnya.


“I-iya.”


“Yey-yey! Aku happy banget tahu kak! Udah lama pengen ketemu kamu, sekarang baru kesampean. Boleh minta nomor whatshaap nya gak?”


Aku mengerjap, bingung. Sifat tak tegaan yang ada dijiwaku meronta. Apalagi melihat perempuan muda ini memakai baju pasien, kan aku jadi kasihan! Takutnya dia sakit parah.


“Nama kamu emang nya siapa?”


“Kia! Aku orang baik kok kak, gak akan jual nomor kakak buat pinjol juga.” Lanjutnya lagi.


Mau tak mau jika begini aku beri saja kali ya. Dia sepertinya orang baik dan pasti tak akan macam-macam.

__ADS_1


“Kak Nada, silahkan masuk.” Resepsionis itu memanggilku. Aku pun menatap Kia. “Nama instragram kamu apa?”


“Gak punya kak...”


“Twitter?”


Kia lagi-lagi menggeleng. “Yaudah, kamu nanti komen di Youtube ku, nanti kita ngobrol disana. Bay, Cepet sembuh!” Tanpa menghiraukannya lagi aku segera masuk kedalam ruangan Dokter Rahma.


....


“Sejujurnya saya tidak punya hak untuk memberitahu penyakit pasien saya apa, tetapi karena kamu pasiennya sendiri yang meminta, baik saya akan beritahu.”


Dua kakiku tetap berjalan menyelusuri trotoar dengan pikiran ke percakapan antara aku dan dokter Rahma sore tadi.


Aku menatap tak peduli kearah bulan yang sekarang sudah hampir menguasai langit. Mengapa tak ada yang memberitahuku tentang hal sebesar ini? Padahal ini tentang diriku juga.


“Dan kemarin saat dirawat, kamu mengingat sebagian ingatan dimasa lalu tentang seseorang yang membuat kamu trauma. Sehingga ya ... kamu gak sadarkan diri hingga beberapa hari. Otak kamu masih belum bisa bersahabat dengan ingatan-ingatan itu.”


Selesai. Aku tak lagi memikirkan percakapan kami lagi karena suara ponselku terdengar dari saku. Finka. Aku lupa hari ini ada dinner. Dan, Pasti dia mau mengomel.


Maka tanpa mengangkat panggilan teleponnya, aku langsung saja mengirim kabar kepada Finka.


Nada: Sorry fin, gue gak jadi ikut. Gak enak badan.


Setelah tanda pesan itu terbaca oleh sang empu, aku secepatnya matikan ponsel. Biar lah, malam ini aku ingin menangkan diriku dahulu.

__ADS_1


Sembari menjelajah jalanan ibukota, aku membayangkan hidup dengan tak ingat sebagian memori diotakku. Aku juga tak tahu kapan yang pasti kecelakaan itu terjadi, karena serius! Di dalam hidupku selama ini, aku tak merasa pernah mengalami kecelakaan atau trauma pada seseorang.


Tunggu-tunggu, kata dokter aku pingsan karena mengingat ingatan tentang seseorang yang membuat trauma kan? Dan saat di restoran milik Alshaf, aku terakhir kali mengingat nama huha hihu. Apa ada hubungannya dengan Alshaf berarti? Ah, sudahlah nanti kalo sudah tenang aku baru bertanya padanya tentang ini.


Baru teringat juga, banyak pertanyaan yang ingin aku tanya pada Alshaf.


“Nada!” belum sempat aku menoleh, sebuah tangan kekar sudah memelukku dari belakang. “Aku khawatir.” Bisiknya tepat dibelakang telingaku. Aku hanya diam, Curiga aku, Alshaf memasang GPS di ponselku hingga dia selalu menemukan aku dimana pun.


“Lepas, Mampus kalo kita ketahuan!” Dengan tak santai aku gerakan badan hingga tak ada lagi pelukan. “Kamu pulang aja, aku mau tidur di hotel.” Ujarku lalu kembali berjalan.


Alshaf berlari dan kini menghalangi jalanku. “Ngapain? Ada apart juga, Cepet pulang bareng aku,” Nada suara milik Alshaf mulai terdengar berbeda. Biasanya dia seperti anak kecil. Namun, sekarang agak nya dia mulai kesal.


Bodo amat, aku tubruk saja tubuhnya. Dan menatapnya sinis. “Minggir, gak usah halangin jalan orang.” Kataku padanya.


“Balik buru, hotel pasti penuh!”


“Hotel di Jakarta gak cuman satu, Awas ah!”


Tangan Alshaf memegang lenganku erat hingga aku tak bisa berkutik lagi. “Nurut kali ini sama gua, buruan pulang!”


Ekspresi ini, amarah dan intonasi nadanya baru pertama kali aku dengar dari Alshaf. Aku dengan berani menatap balik kedua matanya lalu menyentak lengan dia. “Gak usah ngatur! Balik aja sana sendiri, gue tetep mau tidur di hotel!” Maka setelah mengucapkannya aku segera bergegas pergi. Melupakan jika dia kini kekasihku.


Alshaf pun tak lagi menahanku dan menaiki motor miliknya yang terparkir. Lalu ia melaju cepat tepat melewati samping tubuhku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2