Mungkinkah Cinta

Mungkinkah Cinta
01


__ADS_3

"Ternyata sudah jam 4". Ucap seorang gadis disaat dirinya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan angka 04.05 pagi.


"Padahal sudah terbiasa tapi kenapa tubuhku selalu saja begini jika bangun tidur". Ucap gadis itu lagi.


Setelah cukup mengumpulkan kesadaranya diapun bergegas keluar kamar dan masuk kamar mandi untuk sekedar cuci muka karna ia harus segera melakukan rutinitas setiap pagi.


"Ayo semangat Tia kamu bisa" ucap Tia penuh semangat dengan mengepalkan satu tangannya tanda semangat untuk dirinya sendiri.


MUTIA ADELINA seorang gadis yang tangguh dan pekerja keras. Ya dia seorang gadis yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karna kecelakaan saat ia berumur 12 tahun. Awalnya ia hidup bersama paman dan bibinya di kampung tempat ibunya di lahirkan karna bibinya merasa kasihan dengannya jika harus tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya. Tapi semenjak ia akan masuk kelas 1 SMA dia pindah kerumah orang tuanya yang ada di ibukota sebab ia tak mau jika harus merepotkan paman dan bibinya.


"kenapa harus kesana Tia di sinipun kamu masih bisa mencari sekolah yang tak kalah bagusnya seperti di jakarta " Ucap Mauza bibi dari Tia


"Apa kamu sudah tidak betah lagi tinggal disini menemani bibi dan pamanmu, kami hanya berdua sayang apa kamu tega sama bibi, hemm ?


Ucapnya lagi dengan suara begetar menahan tangis menandakan bahwa dia sangat terpukul dengan keputusan sang keponakan yang ingin melanjutkan pendidikan di jakarta. Setelah dia dinyatakan tidak bisa memiliki anak oleh dokter beberapa tahun lalu dirinya terasa dunianya hancur, sang suami pun hanya pasrah menerima takdir yang tuhan berikan,


biarpun mereka tidak di karuniai anak tetapi adanya Tia mereka tidak lagi kesepian. Tia bagai cahaya dalam rumah tangganya walaupun Tia anak dari kakanya tetapi tidak mengurangi rasa sayang Mauza pada keponakannya.


Tiapun hanya bisa memeluk bibi nya yang bergetar menandakan bahwa yang di dekapnya ini sedang menangis.

__ADS_1


"Bi,, ". Ucap Tia melepaskan pelukannya.


"Ini kesempatan Tia untuk mewujudkan cita-cita Tia. Bibi dan paman sudah bekerja keras untuk Tia, sekarang giliran Tia yang bekerja keras untuk paman dan bibi. Tia akan berusaha membahagiakan kalian, dan membuat kalian bangga dan ini salah satunya. Tia akan membuat bibi kaya ". Ucap Tia geli mendengar ucapan nya sendiri .


"Aahh ,, kau ini sungguh merusak suasana, tapi bibi tunggu janjimu ". Ucap Mauza sambil tertawa yang hanya di tatap datar oleh sang keponakan.


"kalian ini kenapa ?". Ucap sang paman yang ternyata sudah ada di ambang pintu.


"Eh mas sudah datang, sejak kapan ?".Balas sang istri dengan senyumnya 3 jari yang tak tertinggal itu.


"Sejak dirimu menangis seperti anak kecil". Balasnya


"Sungguh menyakitkan sekali ucapanmu apa kau tak merasa kehilangan kalau keponakanmu meninggalkan kita. Kita pasti akan kesepian". Ucapnya berapi-api


"Kau ini sudah berapa kali aku bilang Tia itu hanya pergi ke Jakarta bukan keluar Negara. Kalau kau merindukannya kita bisa menjenguknya lagian Semarang-Jakarta bisa di tempuh satu hari satu malam bisa. Kalaupun Tia liburan dia bisa kesini"


Ucap Bram paman Tia. Dia sungguh kesal dengan drama sang istri ya ditinggal sang keponakan hanya untuk pendidikn bukan bertempur.


"Sudahlah Tia persiapkan apa saja yang harus dibawa untuk keperluan kamu di sana jangan hiraukan drama bibimu dia terlalu terbawa suasana saat nonton sinetron di televisi". Lanjut sang paman yang di tanggapi anggukan oleh Tia.

__ADS_1


Tiapun menghampiri sang bibi yang masih mengerucutkan bibirnya kala mendengar ucapan sang suami.


"Sudahlah bi,, benar yang di ucapkan paman, kalau bibi merindukanku bibi bisa mengunjungiku". Ucapnya menenangkan sang bibi


"Hhuuwaa ,,,," .Tanpa di sangka bibinya malah menangis kencang apa yang di bicarakan pamannya beberapa waktu lalu yang mengatakan seperti anak kecil benar adanya. Tia pun hanya mengelus dada dan mengusap sedikit kupingya yang berdengung akibat teriakan bibinya itu.mulai lagi pikirnya


Lain diruang tamu lain juga di dapur. Sang paman yang sedang meminum minuman dingin itu tersedak dikala dirinya mendengar teriakan sang istri


huh orang tua itu. ucapnya dalam hati serta gelengan kepala yang dia lakukan.


"Aah jadi rindu paman dan bibi ". Ucapnya setelah dia tersadar dari lamunanya. Dia selalu tersenyum saat ingat betapa bar-bar bibinya itu saat dia meminta ijin ingin melanjutkan sekolah di jakarta.


"Nanti saja telfon bibi setelah aku menyelesaikan pesanan kue-kue ini". Ucapnya lagi


Ya setelah dia memutuskan untuk pindah ke jakarta dia memantabkan diri untuk membagi waktunya belajar dan membuat kue pesanan, diapun menolak uang pemberian dari bibi nya, alasannya ya selalu tidak mau merepotkan bibi nya, tapi Mauza tetaplah Mauza dia akan terus memaksa Tia untuk menerima uang pemberiannya agar tidak kelaparan katanya, alasan masuk akal sihh.


6 bulan pertama memang cukup sulit untuk Tia beradaptasi dengan lingkungan rumahnya walaupun pernah tinggal di tempat yang sama, dan juga di sekolah nya karna dia sedikit introvert. 1 sampai 2 bulan ia bekerja keras mempromosikan dagangannya di warung-warung dekat dengan tempat tinggalnya dan di kantin sekolahnya, awalnya dia merasa malu, bukan malu karna berdagang tapi karna malu bertemu banyak orang.


Tapi setelah ia pikirkan kembali kalau malu bertemu orang bagaimana dia akan menanggapi pelanggannya yang banyak nanti . wah pede sekali ya. Kalaupun ada uang yang setiap bulan bibi nya kirimkan ia memilih uang itu untuk di simpan

__ADS_1


__ADS_2