Mungkinkah Cinta

Mungkinkah Cinta
10


__ADS_3

" Ar,, Arta ?"


Kenapa namanya berubah, setauku dia itu Danu, hmm. Tapi kalau di pikir-pikir bukankah nama lengkapnya itu Danuarta, Ohh mungkinkah Arta di ambil dari nama belakang itu, bisa jadi si.


"Hhem,,"


Mendengar jika ada yang berdehem membuat Tia tersadar dari apa yang di pikir kan itu.


" Oh,, maaf . Mutia biasa di panggil Tia "


"Mutia ?"


"Mutia Adelina" seakan tau maksud dari Arta, Tia menyebutkan nama lengkapnya.


"Danuarta Geral, biasa di panggil Arta" ucapnya mantab sambil melihat manik mata milik Tia yang seakan mengajak dirinya untuk menyelam dengan ketenangan.


"Tapi setauku kakak itu biasanya dipanggil kak Danu"

__ADS_1


"Biasanya?" rasanya Arta ingin sekali mengobrol dengan gadis ini, entah kenapa, tapi melihat gadis di depannya ini yang mengobrol tidak memperhatikan lawan bicara nya dan malah melihat kesana kemari seperti orang gerogi terlihat sangat lucu menurutnya.


"Semua siswi di SMA ini, biasanya membicarakan kakak"


" Termasuk kamu" Arta ingin sekali menjahili gadis ini.


"He,em" Tia mengangguk semangat


"Apa yang kalian bicarakan"


" Kami membicarakan apa saja jika menyangkut orang tampan, orang tampan seperti kak Danu itu,WOW " berbisik di telinga Arta.


Mendengar apa yang di ucapkan oleh Tia, ingin rasanya Arta menarik sudut bibirnya, tidak taukah jika wajah serta kupingya sudah semerah tomat. Dirinya merasa jika di dalam perutnya kini ada banyak kupu-kupu yang berterbangan.


Entah kenapa di puji oleh gadis ini rasanya ia sangat senang, bahkan jika ia tidak jaga image nya ia seakan ingin melompat. Pengaruh gadis ini sangat kuat ternyata.


Pujian seperti ini sering di dengarnya, entah itu siswi di sini maupun anak dari rekan sang daddy, Bahkan jika di bandingkan dengan gadis lain, gadis ini tertinggal sangat jauh, gadis ini sungguh biasa dan sederhana.

__ADS_1


Setelah mengucapkan nya Tia pun mundur beberapa langkah karna ia sadar jika ia sedang bersama Arta.


Mengingat Arta ia pun tersadar.


Omo,, apa yang tadi aku bicarakan


Ia mebulatkan mata nya serta menutup mulutnya yang entah kenapa terbuka secara bersamaan.


Ia melihat kearah depan dan milhat senyum Arta yang,,, bukan senyum. Tapi seringai tipis yang entah kenapa terlihat jauh lebih tampan dan menakutkan secara bersamaan.


Tia berlari kencang meninggalkan Arta tanpa menoleh sedikitpun, Tia seperti ketakutan, tentu saja ia merasa takut, karena ia seharusnya tidak membicarakan orang yang seharus nya tidak ia bicarakan, bahkan ia berbicara di depan orang nya langsung. Memang bukan makian, tapi jika Arta merasa terganggu dirinya tidak akan segan melukai orang itu, Dita contohnya.


" Aduh Tia, bagaimana kau bisa ceroboh begini" Tia memukul kepalanya sendiri merutuki tindakan yang ia lakukan barusan.


" Bagaimana jika dia tidak terima, bagaimana jika dia,,, aagghh ,, ini bisa jadi boomerang buat dirimu sendiri" ia menjambak rambutnya, kesal dengan dirinya sendiri.


" Tenang Tia, dia tidak akan mengingatmu, ini pertemuan pertama dan terakhirmu, relax. tarik napas huh buang hah, nah begitu" setelah menyemangati diri sendiri ia sekarang merasa sedikit lega, karena benar juga,ia tak mungkin bertemu lagi dengan prince ice.

__ADS_1


__ADS_2