Mungkinkah Cinta

Mungkinkah Cinta
18


__ADS_3

Kaki Tia terasa berat untuk melangkah, bukan karena sakit atau apapun itu, tapi karena kejadian tadi di koridor sekolah.


Ia ingat beberapa waktu yang lalu, saat ia di dekapan Arta.


Kau tidak ingat ucapan ku


Kata-kata Arta itu kini terngiang-ngiang di pikiran Tia


Flashback kafe


" Tutup mata kalian jika tidak ingin aku congkel " entah mengapa rasanya ia tak rela jika seseorang telah memperhatikan gadisnya, gadisnya ?


Ya, ia telah mengklaim jika gadis itu adalah gadisnya, jika ia tak setuju itu urusan nanti, lagi pula setuju atau tidak ia tak perduli.


Saat asik menikmati pemandangan di luar jendela kafe, Tia di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba duduk di depan nya.


Matanya seakan membola sepenuhnya, ia bersusah payah menelan ludah nya sendiri, rasanya seakan tercekat tidak bisa berkata-kata


" Kak Dan,, "


" Arta " sebelum Tia selesai dengan ucapan nya Arta sudah menyelanya.


" Maaf " hanya itu yang bisa ia ucapkan, ia masih memikirkan ada apa gerangan Arta menemui dirinya, bukan nya ia GR tapi memang Arta yang menemuinya kok. Apa jangan-jangan karena ucapan nya waktu itu astaga

__ADS_1


" Maaf kak "


Arta mengernyitkan dahi mendengar kata maaf dari Tia, minta maaf soal apa pikirnya, tapi setelah melihat muka Tia yang sedikit memerah ia tau arah pembicaraan Tia


" Minta maaf soal apa " ia akan sedikit bermain dengan gadis ini, dengan menujukkan senyum smirk nya yang membuat Tia tambah salah tingkah di buat nya.


" Soal,, hmm soal "


" Soal kau mengatakan aku tampan "


jeduar


Setelah mendengar ucapan Arta, Tia malunya sampai ke ubun-ubun, ingin rasanya ia menenggelamkan tubuhnya ke dasar bumi, agar ia tak terlihat oleh Arta, tapi nasi sudah menjadi bubur kata yang sudah ia ucapkan tidak bisa di tarik kembali.


" Kenapa meminta maaf " yang tadinya ia ingin berlama-lama mengerjai Tia, sekarang ia tak tega melihat tia yang seperti anak-anak ketahuan mencuri, apakah dirinya semenakutkan itu.


" Karena, mungkin ucapan ku mengganggu kak Dan, maksudku kak Arta "


" Kata siapa ? "


" Tidak ada "


Arta bingung mendengar jawaban Tia

__ADS_1


" Kalau tidak ada yang berbicara seperti itu, kenapa kau bisa berpikir demikian " Tia hanya menggelengkan kepalanya


" Apa menurutmu aku ini tampan " Tia yang kurang fokus pun mengangguk cepat


" Apa kau mau menjadi pacarku " ucapan Arta membuat kesadaran Tia kembali seutuhnya


"Hah,,, pa,, pa,, pacar "


" He he he, Kak Arta ada-ada saja, jangan bercanda"


" Aku serius "


Deg


Tidak mungkin


" Setuju ataupun tidak, kau sekarang menjadi kekasihku " ia meninggalkan Tia yang masih diam mematung di tempat yang sekarang ia duduki, tak lupa juga ia membungkuk dan mencium kening Tia, Tidak taukah Arta, jika sekarang jantung Tia rasanya berhenti berdetak saat benda kenyal itu menempel di kening nya oh tuhan apa ini


Arta kembali di meja di mana teman-teman nya berada. Jangan lupakan senyum yang bertengger di bibirnya, entah mengapa ia tak bisa menyembunyikan senyum itu, senyum yang jarang ia tunjuk kan menurutnya.


" Dude, ssi,, ssiapa gadis itu " ucap mahen syok melihat Arta yang tiba-tiba menghampiri seorang gadis dan kembali dengan senyum yang jarang ia lihat, bukan jarang, bahkan tidak pernah ia lihat


" Kekasihku " balasnya santai dengan menyuapkan cemilan kemulutnya, tanpa mengurangi senyum tampan nya.

__ADS_1


" Haaaa,, " jawab ketiganya syok


__ADS_2