Mungkinkah Cinta

Mungkinkah Cinta
17


__ADS_3

Flasback 3


Masih di area kampus, dua sejoli ini belum beranjak dari tempatnya berdiri beberapa waktu yang lalu.


Dengan hati-hati Maura menggenggam tangan sang kekasih.


" Kau sudah terlalu lama menderita karena aku Max"


Air mata yang dari tadi ia tahan sudah tidak dapat ia bendung lagi, ia tidak tega melihat kekasihnya yang sekarang menjadi lebih kurus, bekerja serabutan, di bengkel, di restoran cepat saji apapun itu ia lakukan demi bisa berdampingan dengan dirinya.


Yang awalnya Max sebagai pewaris perusahaan ternama, kini ia hanya menjadi buruh seadanya


Max di usir dan di coret dari daftar warisan sang ayah, kini ia hanya tinggal di kontrakan kecil.


" Jika kau mau meninggalkan wanita itu dan pulang, maka perusahaan akan jatuh ke tangan mu seutuhnya "


Sejak saat itu Max tidak lagi kembali kerumah. Ia begitu muak dengan sang ayah, sejak ayahnya memutuskan menikah lagi setelah kematian ibunya, ayahnya membuat nya seperti boneka.

__ADS_1


" Hanya aku yang tau, aku menderita atau tidak " ucapnya tegas


" Tapi max,, "


" Cukup Ra " Max tidak dapat lagi membendung emosinya


" Apa kau malu mempunyai kekasih sepertiku, apa kau malu jika kau harus naik angkot jika kita sedang berkencan, apa kau malu punya kekasih miskin sepertiku" ucapnya menggebu, ia tidak peduli dengan orang orang yang memperhatikan mereka.


" Apa kau sudah tidak mencintaiku " ucapnya sendu menatap mata sang kekasih yang masih saja mengaliri air matanya.


" Tidak Max, aku selau mencintaimu, aku ingin kau bahagia Max, dengan memilihku, kau jadi menderita sayang " dengan pertama kalinya Maura mengucapkan kata sayang pada Max


" Kebahagiaanku terletak pada dirimu, jangan pernah berfikir kalau kau akan melepaskan aku, karena aku pun tak akan melepaskan mu " Max mengecup kening Maura.


" Bisakah kau ulangi kata sayang itu, aku menginginkan nya " ia bahagia ini pertama kalinya Maura memanggil nya sayang, biasanya gadis itu akan malu


" Aku malu " ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Max

__ADS_1


sudah ku duga


Sejak saat itu mereka tidak lagi membicarakan masalah itu, Maura tau jika Max akan marah jika ia membicarakan keluarganya, ia akan menjaga perasaan calon suaminya, calon suami ?


Ya beberapa waktu lalu ia di lamar oleh Max dengan mendatangi nenek Maura , kedua orang tua Maura sudah tidak ada lagi. Hanya nenek dan adik perempuan yang ia punya.


Sahabatnya pun sudah menikah , dan sekarang ia sedang melakukan honeymoon.


" Kamu jangan iri ya melihat pernikahan mereka, karena aku tidak bisa memberikan nya, nanti jika aku sudah kaya dan berhasil dengan usahaku, aku akan memberikan apapun yang kau mau " ucap Max saat melihat pesta pernikahan sahabat kekasihnya yang begitu megah, mungkin jika dirinya masih kaya ia sangat mampu, tapi sekarang kondisinya berbeda, ia tidak lagi berharap, yang penting hidup bersama belahan jiwanya.


" Aku tau, karena kau sekarang miskin " ia masih saja memandang takjub pemandangan yang mengenakkan matanya itu tanpa perdulikan kekasihnya yang mencebikkan bibirnya mendengar balasan sang kekasih, ia tidak merasa sakit hati sedikitpun karena memang keadaannya, ia juga percaya jika sang kekasih tidak memandang rendah dirinya.


" Matamu jangan kemana mana sayang "


" Tidak, mataku masih disini " Maura menunjuk matanya sendiri dengan senyum jahil.


" Padanganmu " ucap nya ketus, dan hanya di tanggapi kekehan kecil dari Maura, ia tau jika Max cemburu.

__ADS_1


__ADS_2