Mungkinkah Cinta

Mungkinkah Cinta
14


__ADS_3

" Jelaskan ken "


dengan sorot mata tajam nya, sang tuan besar, atau sering ia sebut Tuan Jeff kini sedang menatap nya membunuh.


Meskipun hal seperti ini sudah sering terjadi, tetap saja ia merasa takut dengan kemarahan sang Tuan besar, apalagi dengan istrinya, ia akan berubah menjadi badak bercula satu, Yang jika marah akan menyeruduk siapa saja yang ada di depan nya.


Jangan kira orang yang terlihat dingin dan ucapan yang pedas itu hanya diam saja tanpa tindakan, ia bahkan sedikit lebih bar bar, cukup yang berkerja di rumah nya saja yang tau bagaimana sifat asli sang majikan. Jangan sampai orang luar tau, Jika sampai mengetahuinya hancur sudah masa depan.


" Aman Tuan " jawaban ken lantas membuat nya mendapatkan bantal sofa dari sang nyonya.


" Bicaralah yang jelas ken " sentak sang nyonya


" Dia bersih nyonya, dan ,, " ucapan ken terhenti lantaran sang nyonya sudah mendahului perkataan nya


" Kau kira kita bodoh ken "

__ADS_1


Ken mengernyitkan dahinya bingung siapa yang mengatainya bodoh, kalaupun iya, saya tidak berani nyonya, lagian saya sudah akan menjelaskan tetapi anda menyela ucapan saya


" Jangan mengumpat istriku ken "


" Maaf tuan " ucapnya menunduk


" Apa,, beraninya kau kennn, ini rasakan ini, rasakan" ucapnya menggebu dengan melempar bantal sofa yang masih tersisa di dekat nya.


" Honey,, " ucapan sang suami menghentikan aksinya terhadap asisten Ken.


" Kalau begitu, pukul saja lagi " jawaban suaminya membuat ia seperti mendapat angin segar, berbeda dengan Asisten Ken yang mendadak pias mendengar ucapan sang Tuan.


*apa - apaan ini ya tuhan


" Hhem*,, maaf tuan dan nyonya , apakah tidak ingin mendengarkan kelanjutan yang akan saya jelaskan tadi " kalau saja dirinya tidak mengalihkan pembicaraan, sudah di pastikan ia akan keluar dengan kondisi yang memprihatinkan, wibawa yang sudah ia jaga puluhan tahun akan hancur sudah di depan anak buahnya. Saat melihat ia sudah di siksa oleh sang nyonya. Ia lebih baik mendapat kan bogeman dari sang tuan dari pada jambakan dari sanh nyonya.

__ADS_1


"Jelaskan ken, kau sudah mebuang buang waktu huh "


bukankah saya sudah ingin menjelaskan nyonya besar


Asisten Ken menarik nafas nya


" Mutia Adelina, putri dari pasangan Tuan Maximilian santoso dan ,, "


" Maura Adelin " lagi lagi ucapan Ken terhenti oleh sang nyonya


" Benar kan Ken, dia anak dari Maura, tebakan ku benar kan. Jeff kau dengar itu, kita menemukan nya, kita menemukan nya " ucap clarissa menangis sesegukan di pelukan sang suami.


" Sekarang ia pasti di jakarta kan ken, di mana rumah nya aku ingin menemuinya " ucapnya semangat, karena ia sudah lama tidak bertemu dengan sang sahabat.


Maura dan Clarissa bersahabat sejak mereka memasuki sekolah menengah pertama. Maura yang seorang gadis biasa pendiam dan tidak suka keramaian. Biasanya jika seseorang memiliki sifat seperti ini maka akan mempunyai sahabat yang cerewetnya minta ampun, tapi tidak dengan Maura, ia malah mendapatkan sahabat yang dingin dan irit bicara. Ia merasa ada kesamaan pada diri Clarissa, entah apa, ia pun tak tau, ia hanya nyaman saja dengan Clarissa.

__ADS_1


Begitupun Clarissa, ia menyukai sifat Maura yang to the point jika sudah berbicara, dan tidak pernah menjilat kepada Clarissa walaupun ia tau jika cla anak orang kaya. Awal pertemanan mereka pun unik.


__ADS_2