My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 48


__ADS_3

Aditya berdecak frustasi. Nasib pria normal yang punya tegangan tinggi. Ketika pagi-pagi bangun tidur, tower sutetnya juga ikut bangun. Kalau saja tidak di bungkus kain, mungkin langsung menjulang gagah. Apalagi ada wanita cantik di sebelahnya yang tidur terlentang. Dadanya tampak naik turun dengan teratur, seirama dengan hembusan nafasnya. Aditya sampai mengeram dalam hati. Tidak bisa dipungkiri sinyalnya semakin kuat karna ada Elia di sampingnya.


Persetan dengan perasaan canggung dan aneh karna menikahi wanita yang dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Pada kenyataannya Aditya tidak bisa mengontrol hasratnya pada adiknya itu. Mungkin karna tidak ada hubungan darah sama sekali, jadi merasa tidak ada batas untuk mengontrol diri. Terlebih Aditya secara sadar sudah menikahi Elia, jadi dia memiliki kebebasan untuk melakukan apapun pada wanita cantik itu.


Perlahan Aditya mendekati Elia. Dalam keadaan tertidur pulas, Elia tidak tau bahwa ada bahaya yang sedang mengintai. Seorang pria dewasa menatapnya dengan tatapan kelaparan dan rasa penasaran yang tinggi. Hidup selama 28 tahun, sekalipun Aditya belum pernah belah duren. Bahkan selama 2 tahun menjalin hubungan dengan Milea, pria itu tidak pernah menyentuhnya sampai ke inti. Kegiatan mesum mereka hanya sebatas kissing dan saling menyentuh tubuh bagian atas saja. Hal itu masih terbilang biasa saja dibanding dengan gaya pacaran anak muda jaman sekarang yang berani sampai ke tahap naik ranjang untuk belah duren.


Elia menggeliat kecil ketika Aditya memeluknya. Bukannya takut Elia bangun dan ketahuan, Aditya malah semakin menarik Elia dalam dekapan. Mungkin karna Elia juga tidak memberontak, bahkan balas memeluk Aditya layaknya guling. Wanita itu juga membenamkan wajahnya di dada bidang Aditya, sontak tower sutet milik Aditya semakin tegang.


Dalam posisi tidur menyamping, Aditya sengaja mengangkat satu kakinya dan membiarkan satu kaki Elia menyelinap diantara kedua pahanya. Benar-benar modus dan mengambil keuntungan dari Elia. Dia seperti senang ketika paha Elia berada di tengah-tengah pahanya hingga terasa menekan tower bertegangan tinggi itu.


"Sialan,, aku tidak tahan," Umpat Aditya pelan. Towernya semakin memberontak akibat gerakan pahan Elia. Gerakan maju mundur itu seperti sedang mengurut towernya, bagaimana Aditya bisa tahan. Belum lagi pikiran kotor Aditya yang tiba-tiba membayangkan duren montong Elia. Wajahnya terlihat semakin memerah seiring merasakan gairah dan hasrat yang tak bisa terbendung lagi.


Tak mau membuat Elia takut dan trauma jika dia merenggut paksa kesuciannya, Aditya memilih beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk bersolo karir agar hasratnya tersalurkan.


Tapi pria itu malah bertekad melakukan solo karir untuk terakhir kalinya, karna setelah ini dia berniat mencicipi duren montong yang lebih menggiurkan dari apapun.


...******...


Sarapan pagi ini terasa berbeda dari sarapan-sarapan sebelumnya. Suasananya terlihat sangat canggung karna perubahan status Aditya dan Elia. Obrolan mereka juga tidak sehangat biasanya, seperti ada dinding yang membatasi obrolan mereka. Mungkin karna Elia juga sedikit lebih pendiam dan tidak seceria sebelumnya.

__ADS_1


"Makam kedua orang tua kamu cukup jauh dari rumah. Nanti biar Aditya juga ikut menemani kamu selesai sarapan." Tutur Davina begitu selesai menghabiskan makanannya.


"Iya Mah,," Elia mengangguk paham. Kemarin Davina memang sudah berjanji akan memberikan foto dan menunjukkan makam kwdua orang tuanya. Foto itu bahkan sudah Davina berikan pada Elia, tapi Elia langsung menyimpannya di dalam kamar karna belum siap melihatnya.


"Papa dan Mama belum bisa mengantar kesana, ada pertemuan penting yang tidak bisa di tunda." Dave tampak menyesal tidak bisa menemani Elia pergi ke makam orang tua kandungnya. Tapi ada urusan penting yang sudah di jadwalkan jauh-jauh hari.


"Lain kali kita akan pergi bersama ke sana." Ujarnya agar sedikit mengobati kekecewaan Elia.


"Tidak masalah, Elia bisa mengerti." Sahut Elia dan buru-buru mengakhiri sarapannya.


...*****...


Suasana hatinya pasti sedang buruk karna sebentar lagi akan melihat makam kedua orang tuanya. Hal tidak pernah Elia pikirkan sebelumnya, melihat tempat peristirahatan terakhir orang tua kandungnya.


Mobil berhenti di depan area pemakaman. Supir pribadi mereka segera turun untuk mengambil payung di bagasi mobil. Sementara itu, Elia tampak menatap nanar ke area pemakaman. Matanya langsung berkaca-kaca menunjukkan kesedihan.


"Jangan dipaksa kalau belum siap." Ujar Aditya seraya menghapus air mata Elia yang baru saja menetes. Kesedihan tidak bisa dibendung, menahan tangis hanya membuat hati semakin sesak.


Elia menoleh, tangisnya semakin pecah dan menghambur kepelukan Aditya.

__ADS_1


"Temani aku bertemu mereka." Ucapnya dengan suara tercekat. Aditya mengangguk sambil terus mengusap punggung Elia agar membuatnya lebih tenang.


Setelah merasa lega setelah menangis selama hampir 10 menit, Elia kemudian mengajak Aditya keluar dari mobil. Supir mereka sudah menunggu di luar sejak tadi dengan payung hitam di tangannya yang sudah dibuka.


"Biar aku saja. Pak Budi bisa tunggu di mobil." Kata Aditya seraya mengambil payung dari tangan supir pribadinya.


"Baik Tuan,"


"Kemari, jangan jauh-jauh." Aditya merangkul pinggang Elia hingga menempel padanya. Elia tidak protes, dia tau maksud Aditya yang ingin melindunginya dari terik sinar mentari.


"Kak Adit sering kesini.?" Tanya Elia penasaran. Pasalnya dari cara Aditya membawanya memasuki area makam, terlihat seperti orang sudah sering berkunjung. Elia sampai tidak habis pikir kenapa kedua orang tua angkat dan kakaknya itu bisa menutupi semuanya hingga puluhan tahun lamanya. Sedangkan mereka bertiga tampaknya masih sering datang berkunjung ke makam. Artinya mereka tidak pernah melupakan kedua orang tua Elia dan asal usulnya.


"Terakhir berkunjung hampir 2 tahun yang lalu." Jawab Aditya. Dia memang hanya sesekali datang ke makam, itupun karna menemani Davina.


"Tapi Mama sering datang, mungkin setiap 3 atau 4 bulan sekali."


Davina memiliki hati yang lembut, sejak Lucia tinggal bersama di rumahnya, dia menganggap Lucia seperti keluarganya sendiri. Terlebih setelah kematian Lucia dan membuat impian Davina untuk memiliki anak perempuan bisa terwujud meski dengan cara yang dramatis. Tentu saja Davina tidak akan pernah berhenti berterimakasih pada Lucia dan selalu mengenangnya dengan mengunjungi makam.


Elia memaku ketika Aditya menghentikan langkah didepan dua makam yang berjejer. Makan yang tampak dibuat terpisah dengan tanaman pembatas di sekelilingnya. Makan itu tampak lebih terawat di banding makam di sekitarnya. Elia cukup terharu karna makam kedua orang tuanya di rawat sangat baik oleh keluarga angkatnya.

__ADS_1


Elia tidak terlalu terkejut dengan fakta itu, karna dia sangat paham dengan kebaikan dan ketulusan hati mereka. Antara sedih dan bahagia, yang jelas Elia bersyukur menjadi bagian keluarga Davina.


__ADS_2