
Aditya masuk ke dalam kamar dengan wajah dingin. Elia tengah duduk di depan meja rias bahkan tidak di sapa. Aditya melewatinya begitu saja, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Elia menatap heran dengan dahi berkerut. Dia merasa bingung melihat sikap Aditya yang tampak acuh padanya. Elia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Justru seharusnya dia yang bersikap seperti itu pada Aditya karna mendadak membatalkan honeymoon menjelang detik-detik keberangkatan.
Tak mau ambil pusing, Elia memilih mengabaikan sikap aneh Aditya. Dia tidak peduli sekalipun Aditya mengacuhkannya karna merasa tidak menyinggungnya.
Elia lanjut mengeringkan rambutnya. Setelah selesai, Elia beranjak ke balkon kamar dan duduk di sana sambil menyibukkan diri dengan ponselnya. Setidaknya ada hiburan yang bisa membuat Elia melupakan sejenak honeymoonnya yang gagal.
15 menit kemudian, Aditya sudah rapi dan wangi dengan baju rumahan. Walaupun hanya memakai celana pendek dan kaos saja, Aditya tetap terlihat gagah dan tampan. Mungkin karna celana dan baju yang dia pakai bukan pakai sembarangan, apalagi diskonan. CEO muda itu tidak punya banyak uang, jadi pakaian yang dipakai sudah pasti dari brand ternama semua. Tidak ada baju yang harganya di bawah lima ratus ribu.
"El,,!" Serunya mencari keberadaan istrinya. Tadi Elia masih mengeringkan rambut di depan meja rias, sekarang tidak terlihat batang hidungnya.
Aditya melihat pintu balkon yang tidak tertutup sempurna, pria itu kemudian berjalan ke arah balkon karna yakin Elia ada di sana.
Elia masih sibuk dengan ponselnya ketika Aditya datang ke balkon. Wanita itu tidak menyadari kedatangan Aditya di dekat pintu.
"Besok pagi ikut aku ke Bali." Suara maskulin Aditya mengalihkan perhatian Elia. Wanita itu reflek menoleh. Aditya yang semula berdiri di depan pintu balkon, kini berjalan ke arah Elia dan duduk di sebelahnya.
Elia menggeleng, dia menolak ajakan Aditya.
"Kak Adit pasti sangat sibuk menyelesaikan masalah di sana, lebih baik aku di rumah saja." Tolak Elia.
Aditya ke Bali karna harus menyelesaikan kasus penggelapan dana, jadi sudah pasti akan banyak menyita waktu. Elia pikir, dia tidak bisa kemana-mana sekalipun ikut ke Bali.
__ADS_1
"Aku tidak tau berapa hari di sana. Kamu tidak bosan menungguku di rumah.?" Kata Aditya seraya menarik tangan dan meraih pinggang Elia. Pria itu menuntun Elia supaya duduk di pangkuannya. Elia menurut, dia duduk di pangkuan Aditya tanpa protes.
"Rasanya jauh lebih bosan kalau ikut ke Bali dan hanya melihat kesibukan Kak Adit di sana. Aku di rumah saja ya.?" Bujuk Elia agar Aditya tidak memaksanya untuk ikut.
Aditya mengangguk setuju setelah beberapa saat mempertimbangkannya.
Perkataan Elia ada benarnya juga. Tentu banyak waktu yang tersita untuk menyelesaikan masalah di Bali. Jika tetap mengajak Elia, mungkin tidak akan sempat mengajaknya jalan-jalan. Yang ada hanya di tinggal sendirian di kamar hotel.
"Tapi aku butuh asupan dan nutrisi sebelum ke Bali agar tetap bertenaga selama menyelesaikan masalah di sana. Nanti malam temani aku bergadang ya.?" Ujar Aditya penuh arti. Elia langsung paham maksud dan tujuan Aditya bicara seperti itu. Selama ini permintaan Aditya memang tidak pernah jauh dari urusan ranjang. Dia masih tidak menyangka pria yang selama ini menjadi Kakaknya ternyata memiliki sisi lain yang cukup mengejutkan.
Elia mengangguk patuh. Tidak mungkin juga dia di beri pilihan untuk menolak permintaan Aditya.
...******...
Suasana di ruang makan tampak canggung karna tidak ada yang membuka obrolan. Elia merasakan atmosfer di sana semakin dingin. Meski tidak tau apa sebenarnya terjadi, Elia mencoba membuka obrolan untuk mencairkan suasana yang tampak tegang. Tapi cuma Davina yang merespon. Aditya dan Dave tampak fokus menghabiskan makan malamnya masing-masing.
"Aku ke atas dulu, beberapa berkas dan dokumen perlu di siapkan untuk di bawa ke Bali." Kata Aditya seraya berdiri dari duduknya. Pria itu tida menghabiskan makan malamnya, namun hanya menyisakan sedikit.
Elia menghentikan aktifitasnya dan mendongak menatap Aditya.
"kamu habiskan saja makanannya." Ujar Aditya. Dia seolah mengerti arti tatapan Elia.
Aditya kemudian meninggalkan ruang makan setelah bicara dengan Elia.
__ADS_1
"Apa Papa dan Kak Adit baik-baik saja.?" Elia menatap Dave untuk menunggu penjelasan. Dia sejak tadi memendam rasa penasaran karna anak dan Ayah itu seperti sedang perang dingin.
"Hanya sedikit salah paham, tidak perlu khawatir." Jawab Dave tenang.
Tadi sore dia sempat kelepasan bicara kasar pada Aditya. Lalu Aditya berbalik bicara kasar sambil meninggikan suaranya. Sekarang Dave dan Aditya jadi perang dingin, tidak ada yang mau minta maaf ataupun sekedar basa basi.
"Suasana hati Aditya sedang tidak baik. Kamu cepat habiskan makanannya, setelah itu temani Aditya. Saat ini Aditya hanya membutuhkan kamu." Tutur Davina lembut.
Elia malah semakin bingung dan penasaran. Entah kesalahpahaman apa yang terjadi antara ayah dan anak itu.
Di kamar, Aditya langsung mengambil macbook yang sebelumnya dia letakan di atas nakas.
Saat akan mengambil macbook, perhatian Aditya tertuju pada laci yang tidak tertutup sempurna. Dari celah itu, Aditya bisa melihat ada tablet obat di dalamnya.
Karna penasaran dan tidak mau menduga-duga, Aditya menarik laci dan mengambil tablet obat itu.
Dia sempat cemas karna berfikir kalau Elia sedang menyembunyikan penyakit dan diam-diam meminum obat itu di belakangnya.
Tapi setelah membaca nama obat dan kegunaannya, kecemasan Aditya berubah menjadi amarah dan kecewa. Tanpa sadar Aditya meremas obat itu dalam genggamannya.
Walaupun sampai detik ini dia tidak pernah membahas soal anak, tapi bukan berarti Elia bebas mencegah kehamilan tanpa ijin darinya.
Pantas saja sampai detik ini Elia belum mengandung anaknya.
__ADS_1
Mau ber cinta setiap hari juga percuma saja kalau diam-diam Elia mengkonsumsi pil penunda kehamilan.
Aditya mengantongi obat itu di dalam saku celananya. Dia akan meminta penjelasan pada Elia setelah menyiapkan berkas dan dokumen.