
Selain perubahan mood yang tiba-tiba, Elia juga memperlihatkan sifat manjanya pada Aditya. Tadi sepanjang perjalanan menuju rumah, sebelah tangan Aditya lebih banyak berada di dekapan Elia. Tangan Aditya di dekap erat, seperti takut suaminya itu akan hilang, padahal sedang menyetir mobil.
Sikap aneh Elia sempat membuat Aditya bertanya-tanya. Pria itu sampai menanyakan langsung pada Elia, kenapa tiba-tiba menjadi aneh. Tapi Elia menjawab tidak tau, malah bertanya balik karna merasa sikapnya biasanya saja.
Kini saat Elia bergelayut manja di lengan Aditya sambil berjalan memasuki rumah, Aditya bersikap biasa saja meski sebenarnya. Tapi percuma saja menanyakannya pada Elia, karna Elia sendiri tidak menyadarinya.
"Kalian pulang berdua saja.? Dimana Jihan.?" Suara Davina menghentikan langkah Elia dan Adit.
Wanita paruh baya itu baru saja menuruni tangga, lalu menghampiri anak-anaknya.
"Jihan masih di restoran, ada Kak Juno, Kak Alex dan kekasihnya." Jawab Elia.
"Nanti Kak Juno yang akan mengantar Jihan pulang. Mama tidak keberatan kan.?" Elia menatap cemas, takut mendapat ocehan dari Mamanya lantaran tidak membawa serta Jihan pulang ke rumah.
"Tidak masalah, Juno dan Alex bisa dipercaya. Asal jangan pulang lebih dari jam 11." Sahut Davina. Sudah mengenal Juno dan Alex lebih dari 13 tahun, Davina sangat hafal karakter kedua pria yang sekarang sudah dewasa itu. Dia tau kalau Juno dan Alex pria baik-baik, walaupun Alex sedikit nakal.
Elia tersenyum lega karna Davina tidak marah.
"Aditya, kamu beri tau Juno agar tidak terlalu malam mengantar Jihan pulang." Pinta Davina.
"Aunty kalian sudah menitipkan Jihan pada Mama, apa yang terjadi dengan Jihan di luar sana, itu jadi tanggung jawab Mama. Jadi jangan sampai Jihan pulang larut." Jelasnya.
"Hmm, aku akan menelponnya nanti."
"Kami ke atas dulu." Aditya pamit dan buru-buru mengajak Elia ke kamar.
Elia baru melepaskan lengan Aditya setelah masuk ke dalam kamar. Itupun karna mereka harus ganti baju dan membersihkan diri setelah berjam-jam berada di luar.
Aditya dan Elia sudah mengganti baju dengan baju tidur. Keduanya keluar bersamaan dari kamar mandi setelah mencuci muka dan menggosok gigit. Kegiatan itu hampir rutin dilakukan bersamanya jika Aditya tidak lebur di kantor.
Terlihat sederhana, tapi kegiatan itu bisa menciptakan keharmonisan dalam hubungan mereka. Karna kegiatan sesederhana apapun jika dilakukan berdua, akan terasa menyenangkan dan meninggalkan kesan suatu saat nanti.
__ADS_1
Elia naik ke atas ranjang, Aditya menyusul dan langsung merebahkan tubuhnya. Elia yang tadi masih dalam posisi duduk di atas ranjang, kini sudah merebahkan diri di samping Aditya dengan menggunakan lengan Aditya sebagai bantal.
"Kak Juno pria yang baik," Aditya langsung melirik tajam. Telinganya mendadak sensitif mendengar sang istri memuji pria lain, padahal Elia belum selesai bicara.
"Kenapa Kak Adit melotot begitu.?" Elia jadi salah fokus lantaran melihat kedua mata Aditya melotot tak suka.
"Beraninya kamu memuji pria lain saat sedang tidur di sampingku." Protes Aditya posesif. Elia tidak bisa menahan tawanya, dia merasa lucu dengan sikap Aditya yang kekanakan dan bisa dibilang berlebihan.
"Aku memuji Kak Juno, dia sudah seperti Kakakku sendiri. Jadi bukan pria lain." Jawab Elia. Bukannya tenang, kekesalan Aditya malah menjadi-jadi.
"Berhenti bicara omong kosong, sebaiknya kita tidur saja." Sahutnya sewot. Aditya sampai memejamkan mata, pura-pura akan tidur supaya Elia tidak membahas tentang Juno lagi.
Aditya sebenarnya tidak khawatir sama sekali jika Elia memuji Juno, dia merasa kalau Juno tidak ada apa-apanya dibanding dirinya yang jauh lebih tampan, lebih tinggi, lebih kaya dan lebih hebat di ranjang pastinya. Karna sudah reka ulang puluhan kali, berbeda dengan Juno yang sepertinya belum pernah bercocok tanam.
Aditya hanya tidak suka bibir istrinya dipakai untuk memuji pria lain. Jadi dia melarang Elia untuk tidak memuji Juno lagi.
"Kak Adit berlebihan." Kata Elia dengan tawa kecil. Dia mendekap erat tubuh besar Aditya dari samping.
"Aku bicara seperti itu karna ingin menjodohkan Jihan dengan Kak Juno. Bagaimana menurut Kak Adit.?" Elia menatap antusias. Dia tidak sabar mendengar pendapat Aditya, berharap Aditya tidak keberatan.
...******...
Jihan masuk ke dalam apartemen Juno setelah dipersilahkan masuk. Kedua manik mata Jihan mengabsen semua sudut apartemen beserta isi di dalamnya. Apartemen mewah itu tampak bersih dan rapi, dengan cat tembok. yang didominasi warna putih dan abu-abu.
"Kak Juno sudah berapa lama tinggal disini.?" Tanya Jihan dengan jiwa keponya yang mulai keluar.
Juno menutup pintu dan menguncinya. Bukan apa-apa, terkadang Alex iseng menyelonong masuk kalau pintunya tidak dikunci. Sahabatnya itu juga tinggal di gedung apartemen yang sama, hanya beda 2 pintu dari unit apartemen Juno.
"Belum genap satu tahun." Jawab Juno sambil berjalan santai ke dalam. Jihan mengekori langkah pria itu di belakang, meski Juno sudah melewati ruang tamu.
"Aku kira sudah lama." Komentar Jihan.
__ADS_1
"Sepupumu itu cukup murah hati, apartemen ini bonus darinya. Milik Alex ada di lantai ini juga." Jelas Juno, bertepatan dengan langkah kakinya yang berhenti di depan pintu.
Jihan juga ikut menghentikan langkah.
Juno menoleh kebelakang, dia hampir tertawa melihat Jihan membuntutinya sampai di depan pintu kamar, hanya karna Juno lupa tidak menyuruh Jihan duduk.
"Laptopku ada di kamar, aku akan mengambilnya dulu." Ucap Juno. Dia sebisa mungkin tidak tertawa, takut membuat Jihan malu.
Tapi sayangnya bukan Jihan kalau dia punya rasa malu. Gadis itu tebal muka, di kamusnya tidak ada kata malu.
"Memangnya tidak boleh ikut masuk.?" Kata Jihan sambil menyengir kuda. Raut wajah Juno mendadak tegang, dia lupa kalau Jihan lahir dan besar di New York. Kehidupan Jihan sudah pasti sangat bebas, berduaan di dalam kamar dengan seorang pria bukan suatu masalah.
Jihan terkekeh, dia reflek memukul pelan dada Juno. Ekspresi wajah Juno yang kaku dan tegang, membuat Jihan tidak bisa menahan tawa.
"Aku hanya bercanda Kak."
"Dapurnya sebelah mana.? Tenggorokanku sudah kering lagi." Ujar Jihan sambil menyentuh tenggorokannya.
Juno menggeleng heran. Tingkah Jihan beda dari yang lain.
"Di sana, lurus saja lalu belok kanan." Juno mengarahkan telunjuknya sambil bicara.
"Sambil makan juga tidak masalah, stoknya masih banyak." Katanya dengan candaan.
Jihan terkekeh.
"Baik, asal tidak meminta ganti rugi saja kalau makanannya aku habiskan." Jihan berlalu dari depan kamar Juno. Gadis itu langsung pergi ke dapur dan mengambil botol minuman di lemari pendingin. Minuman yang mengandung kadar alkohol tentunya, walaupun kandungan alkoholnya hanya sedikit.
Mata Jihan langsung berbinar, dia sudah lama ingin minum alkohol sejak tiba di Indonesia.
Di kediaman Davina juga tidak dibolehkan minuman, padahal ada ruangan khusus untuk menyimpan berbagai minuman mahal.
__ADS_1