My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 73


__ADS_3

Memang dasar Jihan yang sedikit bar-bar, padahal baru mulai akrab dengan Juno beberapa jam lalu, tapi sudah berani membuat ulah di apartemen Juno. Pria yang sedang membawa laptop di tangannya itu langsung tercengang melihat Jihan meneguk alkohol menggunakan gelas kecil. Juno bisa tau karna botol alkohol miliknya ada di atas meja makan.


"Astaga Jihan.!" Pekik Juno.


Jihan hampir saja tersedak saat akan menelan minumannya. Tapi untung saja tidak tersedak. Wanita itu lantas menyengir kuda pada Juno, terlihat santai saja dan tidak takut. Padahal mata Juno melotot sempurna.


Juno langsung menghampiri Jihan, laptopnya dia letakan dulu di atas meja, lalu mengambil botol dan merampas gelas kecil itu dari tangan Jihan.


"Aku tidak mau berurusan dengan Aditya, sebaiknya aku antar kamu pulang sekarang.!" Tegas Juno sewot. Wajahnya berubah dingin, kesal pada Jihan karna bertingkah konyol di apartemennya. Juno bergegas menyimpan kembali botol alkohol itu di tempat semula. Sedangkan sisa minuman bekas Jihan, ditumpahkan di wastafel.


Wajah Jihan berubah masam lantaran kesenangannya dikacaukan oleh Juno. Sejak kemarin menahan diri ingin minuman, sekalinya minum baru tiga teguk malah di hentikan Juno.


"Kak Juno pelit sekali." Protes Jihan. Dia terduduk malas di depan meja makan, menopang dagunya menggunakan dua tangan.


Juno melirik malas ketika di bilang pelit. Jihan tidak tau saja bagaimana repotnya berurusan dengan Aditya. Kalau Aditya sampai tau Jihan minum alkohol di apartemen Juno, karir Juno bisa tamat detik itu juga. Cuek-cuek begitu, Aditya juga sangat peduli pada semua anggota keluarganya.


"Kamu lebih baik pergi ke bar saja kalau mau mabuk, jangan disini.!" Usir Juno tidak main-main.


Dia paham bagaimana kehidupan di New York. jadi tidak ragu-ragu menyarankan Jihan pergi ke bar. Asal Jihan tidak mabuk di apartemen ataupun saat sedang bersamanya.


"Iish.! Begitu saja marah." Jihan menggerutu.


Jihan sepertinya baru saja salah menilai Juno. Dia berani minum alkohol di apartemen itu karna mengira Juno adalah pribadi yang menyenangkan dan bisa di ajak bersenang-senang, tapi ternyata sangat kaku.


Juno berdecak, dia tidak menggubris perkataan Jihan. Juno memilih duduk dan menyalakan laptopnya. Sebelum membawa Jihan pergi dari apartemennya, Juno harus mengirimkan file yang diminta oleh atasannya.


...****...


Wajah Jihan ditekuk sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Aditya. Juno benar-benar mengantarnya pulang selesai mengirimkan file.

__ADS_1


Padahal Jihan sudah minta maaf, walaupun sekedar formalitas saja agar tidak buru-buru di antar pulang. Tapi Junonya sudah terlanjur geram, dia hampir saja kena masalah kalau tidak memergoki Jihan meneguk alkohol.


Mobil milik Juno sudah memasuki halaman rumah Aditya. Pria itu menghentikan mobilnya di depan garasi, lalu melirik Jihan dengan tatapan malas.


"Turun, sudah sampai." Ujar Juno datar.


Entah apa yang sedang Jihan pikirkan sampai tidak sadar kalau mobil yang dia tumpangi sudah sampai di tujuan dengan cepat dan selamat.


Suara datar Juno membuyarkan lamunan Jihan. Hanya hal sepele, tapi kesalnya sampai ke ubun-ubun. Jihan paling tidak suka kesenangannya di ganggu walaupun sadar yang dia lakukan memang salah.


Buru-buru melepas seatbelt, Jihan keluar dari mobil tanpa melirik Juno.


"Makasih Kak." Ucapnya tulus. Walaupun kelakuannya bikin geleng-geleng kepala, Jihan tidak bisa mengabaikan kebaikan seseorang. Setidaknya dia masih mau berterimakasih pada Juno yang sudah mengantarnya pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun.


Juno hanya diam saja karna masih geram, cukup satu kali dia membawa Jihan ke apartemennya karna masih sayang dengan karirnya. Anggap saja Jihan pembawa sial yang harus dia jauhi. Karna baru beberapa jam bersama, Jihan hampir membuat masalah besar.


Jihan sedikit menutup kasar pintu mobil Juno. Wanita itu kesal sendiri karna dia cuekin. Padahal pengucapan terimakasih dan nada bicaranya sudah lembut, walaupun sedikit tidak sopan karna memalingkan wajah. Tapi bukan berarti Juno tidak meresponnya kan.? Palik tidak berdehem atau mengatakan 'Ya'.


"Dasar GGS.!! Ganteng-Ganteng Sableng.!" Umpat Jihan sambil menatap ke arah kaca mobil Juno.


Di dalam mobil, Juno menautkan alisnya karna Jihan terlihat mengomel. Walaupun tidak mendengar apa yang di ucapkan Jihan, tapi dari ekspresi dan gerakan bibirnya sudah bisa ditebak kalau Jihan memang sedang mengomel.


Tak mau ambil pusing, Juno segera memutar mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Aditya. Dia tidak pamit pada pemilik rumah karna sudah lebih dari jam 10, takut menganggu jam istirahat mereka.


...******...


Pagi hari yang cerah, tapi tidak secerah wajah tampan Aditya yang kusut. Dia baru bangun tidur, tapi sudah di amuk istrinya. Elia marah-marah tidak jelas. Tiba-tiba memukul dadanya dan menuduhnya selingkuh sambil meneriaki dirinya jahat.


Aditya sempat bengong cukup lama karna berfikir dia mimpi, padahal Elia sudah teriak-teriak sambil berderai air mata.

__ADS_1


"Kamu yang mimpi aku selingkuh, kenapa aku yang dimaki-maki." Gerutu Aditya sewot.


Bangun tidur bukannya di sambut senyuman atau ciuman, malah dipukuli sambil di maki-maki tidak jelas. Bagaimana Aditya tidak sewot.


"Jadi Kak Adit menyalahkanku.?!" Balas Elia tak kalah sewot.


"Biasanya mimpi itu sebuah petunjuk.!" Cetusnya seolah menuduh Aditya benar-benar berselingkuh.


"Jangan bicara omong kosong, mana sempat aku selingkuh." Elak Aditya. Dia sangat sibuk dengan urusan perusahaan, jangankan punya waktu untuk berselingkuh, memikirkan wanita lain saja tidak sempat. Bisa-bisanya malah dituduh selingkuh oleh istrinya sendiri. Elia benar-benar semakin aneh saja.


"Wanita itu bekerja di kantor, sudah pasti punya banyak kesempatan untuk berduaan.!" Sahut Elia. Aditya semakin terlihat frustasi, sampai meremas rambutnya sendiri.


"Astaga Elia. Wanita mana yang kamu maksud.? Yang di dalam mimpimu itu.?" Ujar Aditya tak habis pikir. Lama-lama dia bisa naik darah kalau masih membahas hal konyol seperti ini.


"Tentu saja selingkuhan Kak Adit, memangnya siapa lagi." Elia masih menyerocos. Tatapannya pada Aditya masih penuh dengan bendera peperangan.


"Aku tidak selingkuh Elia, harus berapa kali aku bilang.?" Aditya menekankan kalimatnya sambil menahan emosi. Dia ingin sabar, tapi sudah terlanjur emosi. Apalagi baru bangun tidur, nyawanya belum kumpul tapi sudah di tuduh macam-macam.


"Sudahlah, aku mau mandi. 1 jam lagi aku berangkat ke Bandung, ada pekerjaan mendesak." Kata Aditya sambil beranjak dari ranjang.


Elia makin mengamuk, dia mengekori Aditya sambil menuduhnya tanpa bukti.


"Bilang saja mau liburan dengan selingkuhan Kak Adit itu, jangan jadikan pekerjaan sebagai alasan." Cecar Elia, dia mendesak Aditya untuk mengakui perbuatan yang tidak Aditya lakukan.


Aditya menghentikan langkah dan menghela nafas berat.


"Kamu ini sebenarnya kenapa.? Mau datang bulan ya.?" Kata Aditya setelah berbalik badan. Padahal Aditya bicara pelan, tapi Elia malah menangis lagi.


Pikiran Aditya sudah buntu, dia tidak tau bagaimana menenangkan Elia. Akhirnya pria itu menggendong Elia dan membawanya ke kamar mandi. Apapun masalahnya, ber cinta solusinya. Aditya yakin Elia akan berhenti menangis dan mengomel, karna setelah ini mulut Elia akan sibuk men de sah.

__ADS_1


__ADS_2