
1 bulan berlalu,,,
Seiring berjalannya waktu, Elia mulai terbiasa dengan status dan perannya sebagai istri Aditya.
Elia sudah tidak merasa canggung lagi meski terkadang dia masih bingung dengan takdir yang membawanya sampai pada titik ini. Takdir yang dapat merubah statusnya dari seorang adik menjadi istri, Elia sampat merasa hal itu tidak masuk akal. Tapi pada kenyataannya memang seperti itu.
2 hari yang lalu adalah wisuda kelulusan Elia. Kedepan, Elia mungkin hanya akan menjalani perannya sebagai istri karna tidak memiliki kesibukan apapun setelah lulus kuliah. Sebenarnya Elia bersedia bekerja di perusahaan suaminya untuk mencari pengalaman dan mengisi kesibukan agar nantinya tidak bosan di rumah saja. Tapi Aditya tidak mengijinkan Elia bekerja.
Pagi ini Elia bangun lebih awal. Pria di sampingnya masih tertidur sambil memeluk perut rampingnya dari belakang. Elia perlahn memindahkan tangan Aditya dengan hati-hati dari perutnya. Tangan Aditya melingkar di perut Elia sepanjang malam, pria itu seperti takut Elia bergeser dari sisinya meski hanya sejengkal tangan. Benar-benar sangat posesif meskipun sedang tidur.
Elia pergi ke kamar mandi, tak berselang lama dia keluar dengan wajah yang beih segar dan rambut di cepol asal ke atas.
Sekilas Elia melirik ke arah ranjang, dimana Aditya masih tertidur pulas dengan bertelanjang dada.
Pipi Elia tiba-tiba merona, dia ingat kejadian tadi malam dimana Aditya mengungkapkan perasaannya setelah melakukan pertempuran panas.
Setelah 1 bulan lebih mereka menikah, untuk pertama kalinya Aditya mengutarakan perasaannya. Elia cukup terkejut, dia hampir tidak percaya kalau Aditya mencintainya.
Saat ditanya apa alasannya dan sejak kapan mencintainya, Aditya tidak mau menjawabnya saat itu. Pria itu malah mengajak tidur setelah olahraga malam yang menguras tenaga dan keringat.
"Nanti aku tanya lagi setelah sarapan." Lirih Elia kemudian keluar dari kamar. Sepertinya tadi malam Aditya sengaja membuatnya penasaran.
Elia pergi ke dapur, sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi sejak 2 minggu terakhir. Elia selalu membuat sarapan dan teh hangat untuk Aditya.
Dia sedang mencoba menjalani perannya sebagai seorang istri meski pernikahannya sangat mendadak, belum ada persiapan dan pengetahuan apapun. Jangankan soal berumah tangga, pacaran saja tidak pernah.
Dua orang pekerja yang sedang berada di dapur menyapa Elia. Mereka berdua yang selalu membantu Elia ketika membuat sarapan.
"Non Elia ingin masak apa.? Biar saya siapkan bahan-bahannya." Tanya Mbak Dewi.
__ADS_1
"Tidak perlu Mbak, saya akan membuat sandwich dan salah buah. Mbak Dewi dan Mbak Dila buatkan saja sarapan untuk Mama sama Papa." Sahut Elia sembari membuka lemari pendingin dan mulai mengambil bahan-bahan yang dia butuhkan.
3 orang itu kini sibuk masing-masing di dapur.
...******...
Di dalam kamar, Aditya baru saja bangun tidur. Dia mengubah posisi menjadi duduk di ranjang, lalu menyugar rambutnya ke belakang. Wajahnya tidak jelek sama sekali walaupun baru bangun tidur.
Setelah mengumpulkan kesadaran, Aditya mulai beranjak dari ranjang untuk memakai baju dan membersihkan diri. Aditya sudah biasa ketika bangun tidur dan Elia sudah tidak ada di sampingnya, jadi tidak perlu mencari keberadaan Elia karna istrinya itu pasti sedang ada di dapur.
Aditya terlihat semakin tampan walaupun hanya mencuci muka dan menggosok gigi, lalu merapikan rambut dengan jari-jarinya. Aditya menuruni tangga dan pergi ke dapur.
Dia berhenti tak jauh dari tempat Elia berdiri. Elia terlihat sedang fokus membuat sesuatu.
Salah satu pekerja rumah menyadari keberadaan Aditya dan hampiri menyapanya, tapi Aditya langsung menempelkan telunjuk di bibir agar Dila tidak bicara. Adit juga menggerakkan mata dan tangannya, menyuruh Dila pergi dari dapur bersama Dewi.
Dila mengangguk paham, dia diam-diam mendekati Dewi dan membisikkan sesuatu padanya. Dewi sempat menoleh kebelakang setelah Dila berbisik padanya.
Aditya mengulum senyum. Dia mulai berjalan menghampiri Elia.
"Mbak Dila, saya butuh apel satu lagi." Ujar Elia yang masih fokus memotong buah-buahan.
Aditya segera mengambil apel di dalam lemari pendingin dan menyodorkannya pada Elia dari arah belakang.
Elia menerima apel itu. Karna terlalu fokus dengan pekerjaan, Elia tidak sempat memperhatikan tangan berotot yang menyodorkan apel padanya.
"Makaa-siihh,,," Ucapan Elia menggantung, tiba-tiba indera penciumannya mengendus aroma maskulin Aditya yang khas. Aroma yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya karna sangat menyegarkan dan menenangkan.
Elia hendak berbalik badan, tapi kalah cepat dengan gerakan Aditya. Pria itu sudah memeluk tubuh Elia daei belakang dan meletakkan dagu di pundak Elia.
__ADS_1
Elia menoleh, tapi pipinya malah di cium Aditya. Elia reflek mencubit tangan Aditya yang melingkar di perutnya.
"Lepas Kak, ada Mbak Dwi dan mbak,,," Elia menghentikan ucapannya saat melihat dapur sudah sepi dan hanya ada dia dengan Aditya.
Elia menggeleng pelan, sudah pasti ini ulah Aditya.
Aditya mengabaikan ucapan Elia, dia malah menciumi leher jenjang Elia dengan leluasa karna Elia mencepol semua rambutnya keatas.
"Mau bulan madu tidak.?" Tanya Aditya.
Elia menggeliat dalam dekapan Aditya akibat ulah jahilnya. Saat Elia mendorong kening Aditya agar menyingkir dari lehernya, Aditya malah semakin membenamkan wajah dan menyesap lehernya.
"Astaga.!! Aditya, Elia.!!" Suara syok Davina membuat Elia reflek berbalik badan sambil mendorong Aditya. Davina menggelengkan kepala melihat tingkah suami istri yang bermesraan tapi tidak tau tempat.
Elia tersenyum kikuk dengan pipi merona karna malu. Berbeda dengan Aditya yang tampak santai dan langsung duduk di depan meja makan.
"Kalian ini, seperti tidak ada tempat lain saja." Davina menggerutu sambil mengambil air minum.
Elia menatap Aditya, berharap Aditya mengatakan sesuatu pada Mama mereka agar tidak terpojok seperti ini.
"Mama seperti tidak pernah bermesraan di dapur saja." Celetuk Aditya datar.
Davina melotot dan hampir tersedak minuman.
Dia mendadak panik. Dulu saat Aditya dan Elia masih kecil, Dave beberapa kali mengajaknya bercinta di dapur secara sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap agar tidak di ketahui orang lain.
"Mama tidak apa-apa.?" Elia buru-buru menghampiri Davina dan menepuk-nepuk tengkuknya.
"Mama baik-baik saja. Lain kali jangan mau di ajak mesum di dapur, bagaimana kalau orang lain yang melihatnya.?" Omel Davina.
__ADS_1
"Aku sedang membuat salad mah, Kak Adit tiba-tiba datang memelukku." Jawab Elia sembari melempar tatapan kesal pada Aditya karna tidak berusaha membelanya.
"Anak itu benar-benar titisan Dave.!" Gerutu Davina lirih.