
Aditya bergegas ke kamar begitu sampai di rumah. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Elia, Elia dan Elia. Sisanya pergulatan panas dan desa-han, itupun berkaitan dengan Elia juga.
Mungkin semua pengantin baru juga merasakan apa yang dirasakan Aditya, atau jangan-jangan cuma Aditya saja yang seperti itu karna pada dasarnya di tubuh Aditya mengalir darah kemesuman dari Papanya. Jadi sekalinya merasakan legitnya pera-wan, Aditya terus terbayang-bayang dan ingin merasakannya lagi dan lagi.
Elia tampak masih pulas di ranjang. Setelah bangun kesiangan, Elia masih bisa lanjut tidur lagi selama 2 jam lebih dan belum bangun sampai sekarang. Tadi pagi hanya mengisi perut untuk mengembalikan tenaga yang sejak semalam di kuras habis oleh Aditya. Lalu meminum obat pereda nyeri dari Aditya.
Di gempur habis-habisan oleh Aditya, diminta mencoba berbagai macam gaya sampai Elia dicekoki vidio panas agar bisa mempelajari gayanya. Wajar kalau sekarang Elia kelelahan. Apalagi semalam Aditya tidak memberi jeda untuk sekedar istirahat.
Setelah menutup dan mengunci pintu kamar, Aditya mendekati ranjang. Dia duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah damai Elia yang tertidur pulas.
Sudut bibir Aditya tiba-tiba terangkat. Pria itu tersenyum bangga karna menjadi yang pertama untuk Elia. Meskipun Elia juga pertama baginya. Tentunya pertama dalam tanda kutip. Walaupun Aditya 2 kali menjalin hubungan dengan wanita berbeda, tapi pedangnya dijamin masih ori. Bahkan belum pernah di jamah siapapun.
Kelamaan memandang wajah Elia, pedagang Aditya jadi bereaksi. Hanya memandang dan duduk di dekat Elia saja sudah berhasil membuat Aditya tegang. Karna masih baru, jadi hasratnya masih menggebu-gebu. Pikirannya hanya seputar adegan panas semalam dan tadi pagi saat di kamar mandi. Rasanya ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Aditya melihat jam di tangannya, sudah lebih dari 2 jam Elia tidur. Sepertinya tidak masalah kalau dia membangunkan Elia dan mengajaknya mengarungi samudra cinta untuk menjemput kenikmatan. Tidak peduli meski diluar sangat terik.
"El,," Aditya tanpa ragu mengusap sebelah wajah Elia. Ibu jarinya sedikit bergerak ke bibir dan mengusapnya pelan. Bibir merah muda itu, ingin rasanya Aditya mencium dan menye -sap rasa manisnya lagi. Sepertinya dia sudah kecanduan dengan bibir Elia.
Merasa terganggu dengan sentuhan di wajahnya, Elia mulai menggeliat dan membuka mata perlahan. Samar-samar melihat wajah tampan Aditya yang tersenyum penuh arti.
"Kak,, sedang apa.?" Elia menyingkirkan tangan Aditya dari wajahnya, lalu mengubah posisi dengan duduk bersandar di kepala ranjang.
Karna masih polos dan tidak berpengalaman, Elia tidak bisa membaca arti senyuman dan tatapan Aditya. Kalau wanita yang berpengalaman, pasti langsung paham apa yang sedang diinginkan Aditya.
"Masih nyeri.?" Tanya Aditya. Sebenarnya apapun kondisi Elia, Aditya tetap akan meminta jatah lagi. Dia hanya basa-basi bertanya pada Elia.
__ADS_1
"Sudah lebih baik." Jawab Elia malu-malu. Sampai sekarang dia merasa seperti mimpi telah menikah dengan Aditya dan memberikan kesuciannya pada saudara angkatnya.
senyum di bibir Aditya merekah. Karna Elia sudah tidak merasakan nyeri lagi, Aditya siap mengajak Elia terbang melayang menjemput kenikmatan.
"Kakak bukannya ada urusan di kafe.? Kenapa sudah kembali.?" Elia bertanya sembari melirik jam dinding. Baru pukul setengah 2 tapi Aditya sudah pulang. Berarti belum sampai 3 jam aditya berada di luar.
Aditya sedikit kesulitan menjelaskannya pada Elia, Aditya tidak mungkin jujur kan kalau dia buru-buru pulang karna ingin bercinta lagi. Bisa-bisa Elia Elia berfikir buruk tentangnya. Padahal keinginan bercinta yang menggebu-gebu cukup wajar dan bukan hal aneh bagi pasangan pengantin baru.
Apalagi kemarin adalah pengalaman pertama bagi Aditya, sekarang dia jadi ketagihan dengan rasanya yang nikmat.
"Cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja, takutnya masih nyeri." Jawab Aditya. Dia pelan-pelan mendekati Elia sembari memikirkan cara bagaimana bercinta dengannya tanpa harus memintanya secara langsung menggunakan ucapan. Aditya gengsi sekaligus malu kalau harus bicara seperti itu pada Elia.
"Tadi pagi kamu bilang katanya sedikit perih kan.? Coba sini biar aku periksa, takutnya ada luka." Bujuk Aditya.
Memang dasar keturunan Dave, paling pintar kalau soal modus dan membodohi orang polos serta lugu seperti Elia.
"Katanya nanti sembuh dengan sendirinya kalau ada yang lecet, Kak Adit sendiri yang bilang tadi pagi."
Aditya tidak kehabisan akal, dia terus membujuk Elia degan bicara panjang lebar sampai akhirnya Elia bersedia area intinya di periksa Aditya.
Gara-gara Aditya mengatakan hal yang menakutkan, Elia jadi parno sendiri dan takut itunya kenap-kenapa kalau tidak segera di tangani.
Aditya menuntun Elia agar berbaring lagi. Dalam hati dia tersenyum bahagia, ternyata tidak sulit mengelabuhi Elia yang masih sangat lugu itu.
"Kamu tutup mata saja kalau malu." Perintahnya.
__ADS_1
"Tapi jangan lama-lama,," Pinta Elia gugup. Walaupun sudah pernah telanjang bulat di depan Aditya, tapi tetap saja Elia masih malu memperlihatkan area sensitifnya.
"Semakin lama kalau kamu terlalu banyak bicara, lebih baik diam saja sambil menutup mata. Aku tidak akan lama memeriksa, cukup melihat sekilas saja." Mulut Aditya terlalu lihai membujuk dan membuat Elia cepat patuh.
"Baik, cukup 10 detik saja ya."
Elia mengambil bantal di sampingnya untuk menutup wajah agar tidak melihat apa yang di lakukan Aditya.
"Hem,, tanganmu juga jangan banyak bergerak, cukup di atas saja."
Aditya sudah duduk di samping paha Elia, kedua tangannya sangat siap untuk menurunkan celana pendek yang dipakai Elia.
Aditya hampir saja tertawa melihat Elia menekan bantal di wajahnya. Tingkahnya benar-benar sangat lucu. Elia sama sekali tidak curiga kalau memeriksa area intinya hanya alasan yang dibuat-buat Aditya agar bisa melancarkan aksi selanjutnya.
Perlahan tapi pasti, Aditya sudah berhasil menurunkan celana pendek sekaligus celana da- lamnya. Mata Aditya langsung tidak berkedip ketika disuguhi lembah yang ditumbuhi rumput-rumput halus.
Tidak mau menyia-nyiakan waktu, Aditya segera mendekatkan wajahnya dan langsung menjelajahi lembah Elia dengan mulutnya.
Elia reflek melenguh dan teriak. Dia menyingkirkan bantal di atas wajahnya, saat itu juga dia melihat wajah Aditya sudah tenggelam di bawah sana.
"Kak, jangan begini.!" Elia langsung duduk sambil berusaha menyingkirkan wajah Aditya di bawah sana, tapi Aditya malah menepis tangannya.
"Rileks saja El, ini untuk mengobati rasa perih." Ucap Aditya dan kembali bermain di bawah sana.
Elia menggeliat, rasa geli bercampur nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Antara malu tapi Elia juga menyukai apa yang dilakukan Aditya. Akhirnya Elia berusaha rileks dan menikmatinya.
Aditya tersenyum puas dalam hati saat bibir Elia mulai mengeluarkan suara-suara seksinya yang semakin membuat Aditya terbakar gairah.