My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 64


__ADS_3

Aditya sebenarnya sudah geram menunggu Elia yang belum masuk ke kamar. Pikirannya jadi tidak fokus saat menyiapkan berkas dan dokumen.


Aditya sesekali melirik pil penunda kehamilan di atas meja. Dadanya naik turun setiap kali melihatnya lantaran emosi. Aditya tidak tau apa yang ada dalam pikiran Elia sampai memilih mengkonsumsi pil itu agar tidak hamil. Kalau saja pil itu tidak di temukan, entah akan sampai kapan Elia diam-diam meminumnya.


Selama ini memang tidak pernah ada pembahasan soal anak. Aditya juga mengakui dia belum berfikir sejauh itu karna lebih fokus membuat hubungan mereka agar lebih hangat tanpa ada kecanggungan lagi.


Namun dia sangat menyayangkan sikap Elia yang mengambil keputusan secara sepihak tanpa meminta pendapatnya terlebih dulu. Minimal Elia harusnya meminta ijin sebelum memutuskan meminum pil itu.


1 jam kemudian Elia naik ke lantai 2. Tadi setelah makan malam, Elia membicarakan beberapa hal dengan kedua orang tuanya. Termasuk membahas permasalahan antara Aditya dan Dave. Elia merasa perlu tau karna sikap Aditya berubah setelah pembicaraan Aditya dan Dave di ruang keluarga. Aditya tiba-tiba menjadi pemarah dan lebih dingin sejak saat itu.


Setidaknya jika tau permasalahan Aditya, Elia bisa sedikit memaklumi dan memahami suasana hati Aditya. Jadi dia akan berusaha menjadi peredam ketika Aditya terlihat sedang marah.


Elia membuka pintu kamar. Kedatangannya di sambut dengan tatapan Aditya dari sofa yang ada di sudut kamar. Sorot mata Aditya terlihat tajam dan penuh amarah, namun Elia tidak sadar kalau tatapan itu sebenarnya sengaja di arahkan padanya.


Dengan santainya Elia menghampiri Aditya dan duduk di sampingnya, kemudian mendekap tangan Aditya sembari meletakkan kepala di bahunya. Elia berniat meredam amarah Aditya yang dia pikir masih kesal pada Dave.


"Papa pasti tidak bermaksud bicara seperti itu. Selama ini Kakak selalu hebat memimpin dan mengelola perusahaan. Kasus seperti ini baru pertama kali terjadi, Papa mungkin kaget dan tidak bisa mengontrol emosinya." Tutur Elia seraya mendongak menatap wajah Aditya.


Pria itu tidak bergeming, sorot matanya masih di penuhi amarah. Elia sampai menelan ludah dengan susah payah ketika merasakan hawa dingin yang mencekam. Dia baru pertama kali melihat Aditya memasang wajah seperti itu, sangat menakutkan di lihat.


Elia mendadak takut, dia merasa amarah Aditya sedang di tujukan padanya. Perlahan Elia melepaskan lengan Aditya dari dekapannya dan menegakkan kepala. Elia semakin takut dan gelisah karna Aditya hanya diam saja. Tatapan matanya malah semakin menusuk.


"Apa aku salah bicara.?" Tanya Elia gugup.


Elia belum menyadari kalau di samping macbook Aditya ada tablet pil penunda kehamilan miliknya.

__ADS_1


Sementara itu, Aditya merasa jengkel karna Elia sangat santai dan tenang menyembunyikan hal sebesar itu darinya. Saking santainya, Elia sampai tidak menyadari kesalahannya.


Aditya kemudian mengambil pil itu dengan tangan kirinya. Tanpa basa basi dia menyodorkannya tepat di depan wajah Elia.


Kedua mata Elia membulat sempurna lantaran terkejut. Dia tidak pernah berfikir pil itu bisa jatuh ke tangan Aditya karna selama ini selalu menyimpannya dengan rapi.


Elia reflek ingin mengambilnya, tapi Aditya sudah menjauhkan tangannya dari wajah Elia.


"Kak, maaf. A-aku,," Suara Elia terbata. Dia bingung harus mulai dari mana menjelaskan pada Aditya tentang pil penunda kehamilan yang dia sembunyikan itu.


"Tidak ingin punya anak dariku.?!" Tuduh Aditya sinis.


Elia menggeleng. Demi apapun, dia mengonsumsi pil itu bukan karna tidak ingin punya anak dari Aditya. Elia hanya ingin menundanya saja sampai dia merasa siap dan yakin untuk melahirkan seorang anak.


Mengingat pernikahannya terjadi karna insiden yang tidak terduga, Elia merasa harus beradaptasi dulu dengan pernikahan mereka sebelum memutuskan memiliki anak.


Elia sadar letak kesalahannya. Dia harusnya jujur pada Aditya dan meminta ijin lebih dulu jika ingin mengonsumsi pil penunda kehamilan.


Aditya berdecih sinis. Tatapan matanya sangat dingin. Elia mungkin tidak akan bisa memahami kekecewaan Aditya yang merasa di bohongi dan tidak dihargai sebagai suami. Wajar kalau Aditya menunjukkan kekecewaannya.


"Dengan cara menyembunyikannya dariku.?!!" Bentak Aditya dengan amarah yang sulit dikendalikan.


"Kalau aku tidak menemukan pil ini, mungkin kamu akan tetap menyembunyikannya dariku. Tidak tau sampai berapa lama kamu bersembunyi di balik kata ingin menunda memiliki anak.!" Ketusnya penuh penekanan.


Elia sejak tadi menundukkan kepala, dia semakin merasa bersalah. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

__ADS_1


"Maaf, aku menyesal tidak bicara dulu dengan Kak Adit." Elia memberanikan diri menatap Aditya. Sorot matanya yang sendu tidak mampu meredam amarah Aditya yang sudah terlanjur bergejolak.


Aditya meletakkan dengan kasar pil itu di atas pangkuan Elia.


"Kamu ingin menundanya kan.?! Aku pikir itu keputusan yang tepat, jadi kamu lanjutkan saja minum pil itu." Tegasnya kemudian beranjak dari sofa.


Elia langsung mencegah Aditya. Elia tau perkataan Aditya sebenarnya sebuah sindiran agar semakin menyadari kesalahannya pada Aditya.


"Kak, aku tidak akan minum pil itu lagi. Kita bicarakan baik-baik ya.?" Pinta Elia memohon. Dia menghalangi langkah Aditya dengan berdiri di depannya.


Aditya tidak merespon, dia malah mengotak-atik ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Siapkan penerbangan ke Bali 1 jam lagi.!" Serunya begitu panggilan telfon terhubung dengan asisten pribadinya.


"Kak,," Lirih Elia dengan suara bergetar menahan tangis. Aditya bahkan sengaja mengubah jadwal penerbangan menjadi lebih cepat. Semarah itu Aditya sampai ingin menghindar dari Elia.


"Hmm. Aku ke bandara sekarang.!" Ujarnya lalu memutuskan sambungan telfon. Aditya menyimpan ponsel di saku celana dan berlalu tanpa memperdulikan keberadaan Elia yang menunggunya bicara.


"Kak, aku belum selesai bicara. Tolong selesaikan dulu, jangan menghindar." Elia kembali mengejar langkah Aditya, dia berhasil meraih tangan Aditya dan membuat pria itu menghentikan langkah.


"Kita bicarakan nanti setelah aku kembali dari Bali. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan.!" Sahut Aditya dengan menekankan kalimat terakhir.


Perkataan Aditya seolah menjelaskan kalau masalah ini tidak penting untuknya. Hal itu membuat Elia merasa sesak.


"Baik, hati-hati di jalan." Elia melepaskan tangan Aditya. Pria itu tidak merespon dan langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


Tanpa sadar air mata Elia sudah membasahi pipi.


Dia bahkan tidak bisa mencegah Aditya pergi. Itu artinya kekecewaan Aditya sudah berada di level tertinggi. Karna Aditya bukan tipe orang yang suka menghindari masalah.


__ADS_2