
Elia full senyum sambil memeluk erat tubuh Aditya. Dia merasa senang sekaligus lega karna bisa kembali sedekat itu dengan Aditya, meski harus melakukan cara yang tidak biasa. Elia harus merayu Aditya lebih dulu dan mempraktekkan gaya yang baru dia pelajari.
Kini tampak keringat dari sisa-sisa pertempuran panas masih melekat di tubuh keduanya, bahkan mereka terlihat masih merasakan kenikmatan yang tersisa setelah mengakhiri permainan beberapa menit lalu.
"Kak,," Panggil Elia sambil memainkan jari-jarinya di atas dada Aditya dengan gerakan memutar. Sebenarnya hanya gerakan biasa, Elia juga melakukannya tanpa sadar karna sambil memikirkan sesuatu. Namun Aditya seperti menyalah artikan gerakan tangan Elia. Pria itu berfikir kalau Elia mulai menggodanya lagi.
"Hemm,," Aditya menghentikan gerakan jari tangan Elia di dadanya. Nyatanya meski jari Elia hanya membuat gerakan melingkar di dadanya, sesuatu dalam diri Aditya mulai bergejolak. Dia pria normal, bahkan sangat normal. Hampir 2 minggu tidak mendapatkan pelepasan, Aditya tidak cukup kalau hanya melakukannya satu kali.
"Masih marah padaku.?" Tanya Elia. Dia memindai wajah tampak Aditya, wajah yang terlihat semakin tampan setiap kali selesai melakukan olah raga panas yang menguras keringat.
Aditya diam sesaat, dia bimbang harus menjawab apa. Di sisi lain, masih ada kekecewaan serta amarah yang menyelimuti jika mengingat perbuatan Elia. Namun di satu sisi, Aditya sebenarnya tidak bisa berlama-lama jauh dari Elia.
Keputusannya untuk tetap berada di bali selama 10 hari, sebenarnya hal itu cukup menyiksa diri Aditya sendiri. Dia menahan rindu dan menahan gejolak yang hanya bisa di obati jika bertemu dengan Elia. Tapi ego dan gengsi mengalahkan segala. Aditya lebih baik tersiksa daripada menemui Elia dalam keadaan masih marah dan kecewa.
"Aku janji tidak akan mengulangi hal semacam itu lagi." Ujar Elia lantaran Aditya masih membisu.
"Ke depan, aku akan lebih terbuka lagi dan meminta pendapat Kak Adit jika ingin mengambil keputusan." Tutur Elia yang tiba-tiba terlihat sangat dewasa di mata Aditya. Pria itu seperti tidak melihat adiknya yang dulu sangat manja dan kekanakan jika sedang bicara dengannya.
Aditya menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Masalah kemarin bukan hal sepele bagi Aditya. Harga dirinya sebagai laki-laki dan seorang suami seperti dipertaruhkan. Apalagi di bohongi oleh istri sendiri.
Mengingat Aditya belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu sebelumnya, apalagi kedudukan dan posisi Aditya sangat kuat di lingkungan dan perusahaan, wajar jika Aditya bersikap berlebihan ketika tau bahwa Elia membohonginya.
"Aku tidak mau hal semacam ini terulang lagi. Kita bukan lagi kakak adik El, kita sudah menikah. Hal sekecil apapun harus dibicarakan lebih dulu kalau berkaitan dengan hubungan kita." Tutur Aditya dengan wajah datarnya.
"Baik, aku janji tidak begitu lagi." Seru Elia. Dia tampak lega melihat Aditya sudah tidak sedingin tadi. Walaupun masih terlihat kecewa, setidaknya sudah berkurang.
__ADS_1
...******...
3 minggu berlalu,,,
Dua pasang kaki menyembul bari balik selimut. Sinar mentari menyelinap masuk di antara sela-sela jendela balkon, tapi tidak mengusik kedamaian sepasang suami-istri yang masih tidur lantaran kelelahan akibat pertempuran semalam.
Aditya dan Elia tidur pulas dalam keadaan tanpa pakaian di balik selimut tebal yang membungkus mereka sampai dada.
Kini hubungan Elia dan Aditya sudah membaik, bahkan tampak lebih lengket seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
Elia juga sangat belajar dari kesalahan dan pengalaman. Dia selalu mendiskusikan apapun dengan Aditya agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka. Elia lebih terbuka, bukan hanya soal keseharian, tapi juga tentang apapun yang sedang Elia rasakan saat itu.
Suara gedoran pintu mengagetkan keduanya. Elia menggeliat sambil mengumpulkan kesadaran, begitu juga Aditya. Aditya sudah membuka mata sepenuhnya dan langsung bangun dari ranjang lantaran suara gedoran pintu semakin kencang.
"Pakai bajumu El, di kamar mandi saja." Kata Aditya dan memberikan baju milik Elia yang baru saja dia pungut dari lantai. Sudah menjadi hobby Aditya melempar baju milik Elia setelah melepaskan dari tubuhnya. Mungkin kalau tidak di lempar, sensasinya jadi berkurang.
Elia mengangguk patuh, dia turun dari ranjang dengan berbalut selimut.
"Siapa yang menggedor pintu sekencang itu." Gumamnya pada Aditya yang sedang memakai celana pendek dan baju.
Aditya mengedikan kedua bahunya tidak tau.
Setelah memastikan Elia menghilang di bilik pintu kamar mandi, Aditya bergegas membukakan pintu. Dia berdecak kesal melihat orang yang sudah menganggu tidur nyenyak.
"Astaga, Kak Adit baru bangun.? Ini sudah jam delapan lewat." Serunya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kapan sampai.?" Tanya Aditya. Dia menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan padanya dan lebih tertarik untuk mengajukan pertanyaan.
"Baru sampai 1 jam yang lalu. Aku menunggu Elia di ruang makan, tapi tidak turun-turun. Dimana Elia.? Apa masih tidur juga.?" Cerocosnya tanpa jeda.
"Sedang di kamar mandi." Aditya menjawab datar.
Tak berselang lama, Elia muncul di belakang Aditya.
"Jihan,," Elia tersenyum lebar melihat sepupunya sudah datang ke Indonesia.
"El ku tersayang,," Seru Jihan sembari menerobos pintu masuk, melewati Aditya begitu saja dan langsung memeluk Elia.
"Kenapa kamu dan Kak Aditya baru bangun.? Memangnya kalian main sampai jam berapa.?" Bisikan Jihan membuat kedua mata Elia membulat sempurna.
Bisa-bisanya Jihan bertanya seperti itu.
"Kalian berdua membuatku pusing, sebaiknya mengobrol di luar saja, aku mau mandi." Aditya mendorong Elia dan Jihan keluar dari kamar.
Jika tidak seperti itu, pasti sebentar lagi suasana kamarnya akan sangat ramai seperti pasar.
"Ck..! Suamimu jadi menyebalkan sekali." Gerutu Jihan sewot. Elia ya terkekeh saja.
"Tapi Kak Adit juga sepupumu." Ujar Elia sambil mengajak Jihan ke balkon kamar dan mengobrol di sana.
"El, aku melihat mantan Kak Adit sedang berlibur di New York. Perutnya terlihat besar, sepertinya sedang hamil 4 bulanan." Tutur Jihan setelah tadi puas bercerita banyak hal dengan Elia.
__ADS_1
"Hamil.? 4 bulan.?" Elia tampak tidak percaya, tapi anehnya malah menerka-nerka siapa orang sudah menghamili Milea. Apalagi kehamilannya sudah 5 bulan, artinya saat Milea masih menjadi kekasih Aditya. Karna pernikahan Elia dan Aditya baru 4 bulan.